Halosumsel.com –

Ribuan Warga yang berdumisili Lingkungan IX Kelurahan Pangkalan Balai Kecamatan Banyuasin III yang lokasinya tepat berada dibelakang komplek perkantoran Kabupaten Banyuasin ini awalnya hanya mempertanyakan pembangunan Akses Jalan Darat mereka hingga memasuki awal tahun 2016 ternyata belum petnah mendapatkan perbaikan secara total.

Dari Pantauan dilapangan, Jum’at (22/01) terlihat kondisi jalan di Lingkungan IX tersebut sudah sangat memprihatinkan dan sudah banyak yang berlubang dalam ukuran lebar dan dalam bahkan kini sudah separuh badan jalan aspalnya banyak yang habis terkelupas.

Kerusakan jalan ini diperparah lagi adanya sisa dari tanah penggalian jaringan pipa PDAM Tirta Betuah Cabang Pangkalan Balai yang oleh peketja kontraktornya sengaja dibiarkan dan dampaknya membuat siring pada jalan itu menjadi buntu akhirnya baik air hujan maupun air limbah rumah tangga dari warga setemat meluber mengalir dijalanan.

Dampak dari kerusakan jalan yang menghubungkan empat Desa pada Desa Lubuk Saung, Desa Lubuk Rengas, Desa Lebung dan Desa Rantau Harapan ini menjadi terhambat aktivitasnya.

Yang kebanyakan warga yang berprofesi sebagai petani maupun yang bekerja di Perkantoran Kabupaten Banyuasin pun menjadi terganggu karena sering kali mereka mengantri untuk saling memberikan kesempatan pada pengguna jalan lain melewati lubang besar seperti yang terdapat di depan Kampus SD N 33 Banyuasin.

Pasal itulah seluruh Warga di Lingkungan IX termasuk para Tokoh Masyarakat dalam Kelurahan Pangkalan Balai akhirnya mendesak bahwa lingkungan mereka untuk dipisahkan atau dimekarkan menjadi Kelurahan baru dan tidak lagi bergantung dengan Kelurahan Pangkalan Balai.

“Jalan Lubuk Saung ini sangat disayangkan hanya dibangunkan sepanjang1,5 Meter padahal kalau dibangunkan sampai ke RT 30 Kelurahan Pangkalan Balaiyang panjangnya sekitar 2 Km, tentu kami sebagai Warga Lingkungan IX Kelurahan Pangkalan Balai bisa ikut merasakan enaknya jalanan yang mulus”, ujar Syamsuri H. A. Jahri salah satu tokoh masyarakat  Banyuasin dikediaman.

Menurutnya kerusakan jalan mereka sesungguhnya sudah berlangsung lama dan penyebab parahnya kerusakan jalan tersebut akibat dari galian proyek air bersih dari PDAM .

“Sebenarnya kerusakan jalan kami ini sudah lama namun belum mendapatkan pernah ada perbaikan dan kepedulian dari pihak Kelurahan yang kapasitasnya sebagai Kepala Lingkungan IX tempat kami bermukim ini. Namun jalan kami ini pernah sekali direhab ringan melalui aspirasi Anggota Dewan setelah itu belum pernah lagi. Saya sebagai tokoh masyarakat sekaligus Mantan Wakil rakyat selalu mengontrol baik itu bantuan maupun pembangunan yang diterima oleh masyarakat Talang Kebang ini. Setahu saya masyarakat disini seperti dianak tirikan terus”, imbuhnya.

Ditambahkannya, dirinya sangat prihatin dengan kondisi kehidupan warga di Lingkungan IX Kelurahan Pangkalan Balai selama ini, karena warga dilingkungan sangat kurang bahkan sangat tidak pernah mendapatkan kepedulian dari pemerintah sekalipun baik dari tingkat kecamatan, Kabupten da Provinsi, sedangkan dari Kelurahan saja tidak memperdulikannya.

“Selama ini Lurah Pangkalan Balai tidak pernah peduli terhadap kehidupan warga yang berdumisili dilingkungan IX Kelurahan Pangkalan Balai. Selama bergabung dengan Kelurahan Lingkungan IX seperti dianak-tirikan. Baik dari sektor pembangunan maupun sektor sosial masyarakat dan warga miskin yang tinggal disini masih belum mendapatkan perhatian. Baik bantuan dari Kelurahan dan pihak kelurahan dianggap tidak pernah mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten guna membantu masyarakatnya yang benar-benar miskin”, cetusnya.

Dirinya mendesak kepada Bupati Banyuasin untuk segera menyetujui pemisahan atau pemekaran kelurahan dan untuk wilayah Lingkungan IX menjadi Kelurahan tersendiri dan pihaknya bertekat sesuai dengan yang diusulkan.

“Harapan saya kepada Bupati dan DPRD Banyuasin agar Lingkungan IX segera dipisahkan dari Kelurahan Pangkalan Balai. Sebab kue-Kue Pembangunan tidak terbagi secara merata di Lingkungan yang berada di Belakang Perkantoran Kabupaten Banyuasin ini. Padahal masyarakat yang ada didalamnya itu bukan warga asal dari program trans atau pun dari suku lain, orang yang ada didalam Lingkungan tersebut asli merupakan Orang Pangkalan Balai juga”, tegas Syamsuri sembari berharap usulanya segera dikabulkan sebelum ada aksi-aksi. (waluyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *