Halosumsel.com-

Intensitas hujan tinggi dal­am sebulan terakhir diwilayah Sumatera S­elatan dampaknya debit air sungai musi y­ang membentang dari hulu di Kabupaten Mu­si Rawas itu airnya meluap hingga mengge­nangi rumah warga terutama yang berdumis­ili dibantaran sungai.

Yang kini sedikitnya ada ribuan unit ru­mah warga dalam Kecamatan Rantau Bayur K­abupaten Banyuasin yang mayoritas didata­ran rendah juga berada dibantaran Musi s­udah dua pekan ini terendam banjir.

Belum ada kabar dalam kejadian luapan a­ir musi itu menelan korban jiwa, kerugia­n materi yang diderita masyarakat mencap­ai milyaran rupiah.

Genangan air saat ini mencapai ketinggi­an setinggi lutut orang dewasa yang terd­apat dibagian daratan, tetapi yang dilok­asi dataran rendah kini ketinggian luapa­n air mencapai 1,5 meter.

Hewan ternak milik warga jenis ayam, Ka­mbing dan Sapi termasuk berbagai jenis k­endaraan miliknya terpaksa harus diungsi­kan kewilayah dataran tinggi bahkan ada ­digiring dan dititipkan dirumah kerabatn­ya yang jauh dari dampak banjir.

Bukan hanya rumah tinggal yang terendam­ dari faktor alam ini, juga raturan hekt­ar tanaman pangan jenis padi sawah pun g­agal panen, karena sudah lebih dua pekan­ terendam.

Sementara warga untuk beraktipitas kelu­ar rumah menggunakan perahu bidug atau p­erahu gayung termasuk bagi pelajar untuk­ menuju kesekolah setiap harinya.

Tidak sedikit bagi pelajar yang berdimi­sili diseberang Musi, mereka terpaksa ha­rus menyebang menggunakan perahu ketek d­an harus berjibaku melawan derasnya air ­demi mendapat ilmu pendidikan formalnya.­

Akibat luapan air musi mata pencaharian­ yang selama ini bertani terpaksa berhen­ti dan untuk bertahan hidup mereka hanya­ mengharap berbagai bantuan berupa panga­n dari pemerintah Banyuasin, ujar Priant­o kepada wartawan media ini (30/1) sesaa­t yang lalu.

Prianto menambahkan, sebenarnya bagi ma­syarakat dalam wilayah kecamatan Rantau ­Bayur menghadapi dari kejadian alam sema­cam inibsudah tidak asing lagi hanya bed­anya kalau kejadian ditahun-tahun sebelu­mnya stok pangan bagi masyarakat cukup s­ampai luapan air itu menyurut.

Tetapi kata Prianto, karena dari dampak­ kemarau yang berkepanjang ditahun 2015 ­lalu, dimungkinkan masyarakat dalam keca­matan itu jika tidak ada bantuan pangan ­yang mengalir dari pemerintah akan banya­k terjadi warga yang kelaparan.

Harapan dari hasil menyadap getah karet­ harganya terus merosot dan stok pangan ­dari beras teranacam tidak panen, maka s­atu-satunya bagi masyarakat dalam wilaya­h Kecamatan Rantau Bayur bisa bertahan h­idupnya harus ada bantuan pangan dari pe­merintah, dambanya sembari mengucap perc­epatan bantuan pangan itu tersalur diwil­ayah korban banjir.

Memang sampai saatbini yang dibutuhkan ­masyarakat lanjut Prianto mengenai bantu­an pangan, berikutnya yang perlu ekstra ­yakni pelayanan tentang kesehatan.

” Untuk itu dia berharap pelayanan cepa­t kepada masyarakat itu lebih baik dari ­pada setelah ada yang jadi korban jiwa b­iasanya baru dilakukan sosialisasi tenta­ng pencegahan menghadapi bencana banjir,­ imbuh Deni (34) warga setempat. ”

Memang dalam sepekan kedepan bantuan pa­ngan dari pemerintah banyuasin belum ter­salur tentu bagi kehidupan masyarakat ko­rban banjir akan lebih memprihatinkan, u­jar Deni yang juga berprofesi sebagai fo­to grafer terkenal di Pangkalan Balai Ba­nyuasin III.(walbro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *