PENGANTAR -Nama Joncik Muhammad atau lengkapnya Dr. H. Joncik Muhammad, S.Si, SH, MM, MH disingkat JM, dan H. Budi Antoni Aljufri, SE disingkat HBA sudah cukup populer di kalangan masyarakat Sumsel, khususnya Kabupaten Empat Lawang. Keduanya adalah tokoh politik yang berpengaruh dan sudah teruji, dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Apalagi jika dikaitkan dengan suksesi kepemimpinan atau Pilkada Kabupaten Empat Lawang dari masa ke masa. Tulisan bertajuk ”Melawan Lupa. JM-HBA Rivalitas Sejati?” ini dibuat sebagai kilas balik pergulatan politik yang pernah terjadi pada keduanya. Tidak ada tendensi lain *selain* itu.
——-‐————-
JM dan HBA adalah putra asli kelahiran Empat Lawang. Umurnya pun nyaris sama, cuma terpaut kurang lebih 4 bulan lebih tua HBA. JM lahir di Desa Sawah – Lintang pada 04 November 1970, Sementara HBA kelahiran Talang Padang – Tebing Tinggi pada 31 Juli 1970.
HBA menyelesaikan pendidikan SD – SMP Negeri di Tebing Tinggi, dan SMA swasta di Malang, Jawa Timur. Sedangkan, JM tamat SDN Desa Sawah, SMPN 1 Muara Pinang, dan SMAN 1 Tebing Tinngi.
Setamat SMA, JM melanjutkan ke Fakultas Geografi Universitas Gajahmada (UGM) Yogyakarta. Sedangkan HBA masuk Fakultas Ekonomi Universitas Tridinanti (Unanti) Palembang.
Seiring perjalanan waktu, JM pun meneruskan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Palembang (Unpal), Magister Manajemen (MM) di STIE ABI Surabaya, Magister Hukum (MH) di Universitas Muhammadiyah (UM Palembang), dan terakhir gelar Strata-3 atau doktor Ilmu Hukum di Universitas Islam Sultan Agung (Unisila) Semarang, Jawa Tengah.
Usai menamatkan pendidikan S1, JM dan HBA terjun ke dunia politik praktis di tanah kelahirannya Kabupaten Lahat, sebelum pemekaran Kabupaten Empat Lawang.
Pada Pemilu pertama era reformasi tahun 1999 keduanya terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Lahat periode 1999-2004. JM dari PAN dan HBA dari partai Golkar. Keduanya pun terpilih kembali untuk periode 2004-2009.
Sebelum periodesasi mereka berakhir, Kabupaten Lahat kembali mengalami pemekaran wilayah dan lahirlah daerah otonomi baru Kabupaten Empat Lawang.
Tahun 2007, keduanya harus hengkang ke Empat Lawang sesuai daerah pemilihan atau dapilnya. JM dari wilayah Lintang dan HBA dari wilayah Tebing Tinggi.
Hebatnya lagi, setelah pindah ke Empat Lawang kedua tokoh ini sama-sama maju sebagai calon bupati bersama tiga kontestan lainnya. Kontestasi tersebut dimenangkan pasangan HBA-Sofyan Djamal.
Usai Pilkada, JM kembali ke posisi sebagai anggota DPRD Empat Lawang. JM sempat 2 tahun menjabat ketua DPRD, dan akhirnya menjadi wakil ketua, karena konstitusi mengatur bahwa Ketua DPRD dari fraksi yang memiliki anggota terbanyak, tanpa melalui mekanisme vooting.
Pada Pilkada 2013, HBA kembali maju sebagai calon bupati, JM pun siap menantang HBA, sang calon petahana. HBA – Syahril Hanafiah dan JM-Ali Halimi (Jonli).
Menurut perhitungan KPU setempat, Pilkada ini dimenangkan Jonli. HBA tak terima, sehingga perseteruan berlanjut ke ranah hukum.
HBA menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat itu dipimpin Akil Mochtar. MK pun memutuskan HBA sebagai pemenang dan dilantik menjadi Bupati Empat Lawang masa bakti 2013-2018.
Namun apa lacur, baru sekitar 2 tahun menjabat, HBA dinonaktifkan dari jabatan bupati dan kemudian menjadi tersangka tindak pidana korupsi.
Apa pasal? Rupanya dibalik kemenangan di MK ada ‘permainan uang’ atau penyuapan kepada Akil Mochtar. Jumlah uang suapnya bukan ‘kaleng-kaleng’, yakni 10 miliar rupiah dan 500 ribu dolar Amerika (setara 5 miliar rupiah).
Singkat cerita, pengadilan Tipikor memutuskan HBA dan istrinya Suzanah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut. Atas perbuatan tersebut HBA dihukum selama 4 tahun dan Suzanah dihukum 2 tahun penjara, dan denda masing-masing 150 juta.
Sementara, JM harus legowo menerima putusan MK dan putar setir untuk maju sebagai calon anggota DPRD Sumsel melalui Pemilu 2014. JM terpilih dengan perolehan suara terbanyak di dapilnya (Lahat, Pagaralam dan Empat Lawang).
Di DPRD Sumsel periode 2014-2019, JM menjabat Ketua Komisi II Bidang Perekonomian, anggota Badan Anggaran, dan Ketua Fraksi PAN.
Belum habis periodesasinya, JM mundur dari DPRD Sumsel untuk maju sebagai calon bupati Empat Lawang periode 2018-2023.
Sungguhpun ketika itu HBA masih menjalani hukuman penjara, bukan berarti rivalitas antara JM dan HBA sudah berakhir. Belum berakhir, karena yang menjadi kompetitor utamanya adalah H. David Aljufri (HDA) yang merupakan adik kandung HBA.
Kali ini, JM maju bersama Yulius Maulana sebagai wabup (JM-Yus). Yulius yang juga anggota DPRD Sumsel dari Fraksi PDIP punya basis massa di Tebing Tinggi dan sekitarnya, sementara JM sangat dominan di daerah Lintang dan sekitarnya. JM-Yus meraih kemenangan mutlak lebih 60 persen, dari 3 paslon.
Selama lima tahun (2018-2023) kepemimpinan JM-Yus, banyak perubahan dan kemajuan di Bumi ”Saling Keruani Sangi Kerawati”.
Salah satunya adalah di sektor keamanan. Kasus kriminalitas menurun secara signifikan, baik kuantitas maupun kualitas.
Itu semua terjadi karena adanya sinergisitas antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan elemen masyakat untuk menjaga keamanan. Program dibidang keamanan yang mungkin di Sumsel baru ada di Empat Lawang adalah setiap desa ada aparat satuan polisi pamong praja yang atau Satpol PP Desa.
Selain itu, JM-Yus yang mengusung visi-misi ”Empat Lawang Madani” telah berusaha memanfaatkan APBD secara optimal untuk membangun infrastruktur jalan dan jembatan yang berdampak bagi peningkatan perekonomian masyarakat.
Diketahui bahwa jumlah APBD Kabupaten Empat Lawang terkecil dibandingkan kabupaten lainnya di Sumsel, atau diperingkat ke-14 diatas Kota Lubuklinggau, Pagaralam dan Prabumulih.
Kembali ke Pilkada, pada tahun 2024 JM kembali tampil sebagai cabup petahana berpasangan dengan Arifa’i yang juga anggota DPRD Empat Lawang Fraksi PDIP, yang kemudian populer dengan sebutan JM-FA’I. Awalnya, ada satu paslon lainnya yang akan bertarung melawan JM-FA’I. Siapa lagi kalau bukan rival lamanya, HBA berpasangan dengan Henny.
Namun paslon ini pendaftarannya ditolak oleh KPU, karena HBA dianggap masuk kriteria dua periode menjadi bupati. Menurut KPU, di periode kedua HBA sudah menjabat lebih dari 2 tahun 6 bulan, dihitung sejak petusan pengadilan Tipikor terhadap HBA memiliki kekuatan hukum tetap atau inkrah.
Akhirnya, Pilkada berlanjut dengan paslon JM-FA’I melawan kotak kosong. Dan paslon ini meraih kemenangan mutak lebih dari 80 persen.
HBA pun melakukan perlawanan dengan mengajukan gugatan ke MK. Yg digugat bukan hasil Pilkada, tapi keputusan KPU yang menolak pencalonannya.
HBA berdalih pada periode kedua dirinya belum sampai 2 tahun 6 bulan menjabat. Hal itu dihitung sejak dirinya dinonaktifkan dari jabatan bupati, bukan dihitung sejak putusan pengadilan yang menghukumnya 4 tahun penjara.
Dalam prosesnya, MK mengabulkan gugatan pemohon. Harus dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang diikuti dua paslon, JM-FA’I dan HBA-Henny, pada 19 April 2025 yang akan datang.
Menghadapi putusan MK tersebut, jiwa petarung JM pun kembali bergelora. Dia terus berkomunikasi dan merapatkan barisan dengan semua tim pemenangannya yang ada di setiap desa, dusun, dan bahkan ada di talang (sekelompok kecil masyarakat yang bermukim di areal pertanian dalam arti luas). ”Mari kita rapatkan barisan dan tidak boleh lengah demi mempertahankan kemenangan JM-FA’I yang diraih sebelumnya,” tegas JM di depan ratusan tim pemenangannya pads 23 Maret 2025 di Posko Utama Tebing Tinggi.
Diketahui bahwa JM-FA’I nomor urut 2 menang mutlak (80 %) melawan tabung kosong nomor urut 1.
Sepertinya, angka 2 memiliki makns tersendiri bagi JM, karena sejak dirinya ikut pilkada tahun 2009, 2013, 2018, dan 2024 dirinya selalu dapat nomor urut 2. Pada PSU ini pun masih dapat nomor 2.
JM yang juga Ketua majelis wilayah Umum Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumsel menyatakan, angka 2 memiliki nilai keberuntungan atau kemenangan baginya. ”Insha Allah nomor 2 di PSU ini merupakan isyarat kemenangan, untuk bisa melanjutkan visi Empat Lawang Madani jilid 2 di periode ke-2,” tegas JM yang juga sebagai sekretaris wilayah Partai Amanat Nasional Sumsel.
Jelang PSU, suasana politik di Empat Lawang berlangsung sangat dinamis, dan cenderung memanas. Tidak hanya di lapangan, di medsos pun terjadi ‘saling serang’ dengan isu-isu yang relatif sumir. Semua itu mengarah black campaign dan negative campaign.
PSU hanya tinggal menghitung hari, dan semuanya kembali kepada rakyat sebagai pemilih. Rakyat tahu mana yang terbaik untuk memimpin Empat Lawang lima tahun kedepan.
Pastinya, kita berharap PSU berjalan aman, tertib dab damai. Semoga.
asnadi

