Palembang, Halosumsel– Afrizal mantan pegawai DRL membuat kehebohan setelah mengungkap sejumlah bukti manipulasi produk skincare dan kebohongan iklan produk penumbuh rambut.

Dalam keterangannya Afrizal menyatakan bahwa DRL telah melakukan praktik pengoplosan salah satu produk skincare sebelum dimasukkan ke dalam laboratorium. “Saya tidak tahu awalnya, tapi setelah 2 tahun bekerja akhirnya ketahuan bahwa produk-produk itu sudah dioplos terlebih dahulu sebelum melalui proses uji lab,” ujarnya.

Dan hasilnya diumumkan di media bahwa produk tersebut tidak layak karena tidak memenuhi persyaratan dan mengandung bahan berbahaya inilah cara DRL menjatuhkan sebuah produk,” terangnya

Afrizal juga menyinggung kebohongan publik terkait produk serum penumbuh rambut yang dipasarkan DRL. “Saya heran, pemiliknya sendiri rambutnya tipis dan botak, tapi berani jual produk penumbuh rambut. Rambutnya saja pakai wig atau rambut palsu,” tegasnya.

Ia mengaku pernah diperintahkan mengantar rambut palsu ke Jakarta Barat untuk keperluan pemilik perusahaan. “Kalau pagi, dia pakai penutup kepala atau wig. Rambut aslinya tidak seperti yang terlihat di iklan,” tambah Afrizal.

Menurutnya, serum bopeng dan penumbuh rambut yang dijual DRL tidak efektif, Bopeng tidak bisa hilang hanya dengan serum, harus lewat perawatan medis. Begitu juga rambut, tidak mungkin tumbuh hanya karena produk mereka,”* jelasnya.

Afrizal juga membeberkan bahwa DRL kerap memanipulasi sertifikasi dan penghargaan. *
“Mereka bilang produknya lolos uji, tapi faktanya banyak yang dibayar. Sama seperti gelar atau sertifikat, semuanya bisa diatur dengan uang,” ungkapnya.

Ia mengaku masih memiliki bukti-bukti kuat, termasuk percakapan dengan rekan kerja dan dokumen internal perusahaan. “Ini semua saya ungkap agar masyarakat tidak tertipu lagi. Media harus memberitakan fakta ini sebelum mereka membalikkan narasi,” tegas Afrizal.

Hingga berita ini diturunkan, DRL belum memberikan pernyataan resmi terkait tuduhan tersebut. Namun, Afrizal menyatakan siap menghadapi segala konsekuensi. *”Saya sudah siap ke polisi jika diperlukan. Yang penting masyarakat tahu kebenarannya,” tutupnya.

Sofuan