Palembang, Halosumsel– Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I A Palembang, Muhammad Roland, selama dua bulan menjabat, telah menginisiasi program pemberdayaan warga binaan melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis kopi. Dalam gathering media yang digelar Sabtu (02/08/2025) di kantornya

Rolan memperkenalkan dua produk kopi premium, Premiumdan Dewa, sebagai upaya meningkatkan pelayanan dan kemandirian penghuni rutan.

Roland menegaskan komitmennya untuk membenahi berbagai aspek pelayanan di Rutan Palembang, termasuk dapur, klinik kesehatan, dan pelayanan terpadu (PTSP). “Dalam enam bulan ke depan, saya meminta waktu untuk membuktikan perubahan ini. Alhamdulillah, progres sudah terlihat,” ujarnya. Ia juga meminta dukungan media dan masyarakat agar tidak terganggu oleh isu negatif, sehingga fokusnya pada peningkatan kualitas layanan tidak terhambat.

Produk kopi Premium dan Dewa menjadi unggulan program UMKM Rutan Palembang. Kopi Premium dijual seharga Rp65.000 per 200 gram, sementara Dewa adalah varian khusus dengan kualitas tinggi. “Kita tidak main-main dalam produksi. Semua alat dan bahan dipastikan memenuhi standar, termasuk timbangan digital dan mesin sangrai,” jelas Roland.

Warga binaan yang memiliki minat di bidang kopi diberikan pelatihan dan pendampingan. Setelah bebas, mereka akan memiliki rekening BRI serta akses ke pasar yang sudah disiapkan. “Ini bagian dari upaya kami memastikan mereka punya bekal setelah kembali ke masyarakat,” tambahnya.

Roland berencana meresmikan UMKM kopi ini bertepatan dengan peringatan HUT RI ke-80 pada 17 Agustus mendatang, bersamaan dengan peluncuran Dapur Bersih, klinik kesehatan, dan layanan PTSP yang lebih modern. “Kami juga sedang menyiapkan fasilitas hiburan seperti alat musik dan ruang nonton untuk kenyamanan warga binaan,” ungkapnya.

Dengan program ini Rutan Palembang tidak hanya menjadi tempat rehabilitasi tetapi juga wadah kreativitas dan produktivitas bagi warga binaan. Roland berharap, UMKM kopi ini dapat menjadi contoh pemberdayaan berkelanjutan di lingkungan pemasyarakatan.

Kami tidak ingin setengah-setengah. Satu produk yang berkualitas lebih baik daripada banyak tapi tidak fokus,”pungkas Roland.

Sofuan