Ogan Ilir, Halosumsel – Kekhawatiran menyelimuti warga di sekitar lokasi gudang industri minyak ilegal. Bur (40), seorang warga wilayah kelurahan Pegayut Ogan Ilir yang berbatasan langsung dengan kota Palembang, mengaku sudah lebih dari dua tahun mengetahui adanya aktivitas minyak illegal diwilayahnya. Sebagai masyarakat terganggu akibat keberadaan gudang tersebut. Ia menyebut pernah terjadi kebakaran di masa lalu, meski untuk saat ini belum ada kejadian serupa. “Banyak contoh di tempat lain yang terbakar. Kalau sampai terjadi di sini, bagaimana nasib rumah kami?” ujarnya dengan nada cemas.
Bur menegaskan bahwa warga membutuhkan ketegasan aparat dalam menangani masalah ini. Menurutnya, selain mengganggu kenyamanan, keberadaan gudang minyak ilegal juga menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan warga. “Kami minta tolong aparat memberi himbauan dan tindakan tegas. Jangan sampai menunggu musibah baru bertindak,” katanya.
Ia berharap pemerintah dan pihak berwenang segera turun tangan, mengingat potensi bahaya yang besar. “Kalau kebakaran, habis semua, bukan cuma rumah, tapi nyawa juga terancam. Jangan biarkan hal ini berlarut-larut,” tegas Bur. Warga sekitar pun sepakat mendesak agar masalah ini ditangani sesegera mungkin demi keselamatan bersama.
Terpisah, IM (43), seorang sopir yang menjadi pemasok bahan baku minyak dari wilayah Sungai Angit, Muba, mengungkapkan mekanisme masuknya pasokan ke gudang industri illegal di Pegayut dan perbatasan kota Palembang yang melibatkan koordinasi ketat dengan pihak pengelola gudang. Menurutnya, proses distribusi bergantung pada instruksi gudang dan kebutuhan pertukaran minyak. “Kalau ada mobil dari “Merah Putih” masuk ke gudang, biasanya mereka butuh pertukaran. Misalnya muatannya 16 atau 24 ton, kita ikuti arahan dari sopir Merah Putih, apakah diminta satu dom atau satu bak, yang masing-masingnya sekitar 8 ton,” jelas IM.
Ia menambahkan, pertukaran minyak dilakukan secara rutin sesuai kebutuhan, meski tidak setiap hari. “Kalau mereka turunkan 4 ton dari minyak Merah Putih, kita masukkan 4 ton dari kita. Begitu seterusnya. Aktivitas ini sifatnya mengikuti jadwal gudang, karena kami ini pemasok, bukan pihak inti pengelola,” ujarnya. Dari pertukaran tersebut, IM mengaku mendapat keuntungan sekitar Rp8,5 juta per transaksi, tergantung volume dan harga pasaran.

Minyak yang sudah diturunkan kemudian dimasukkan ke dalam wadah teflon berbentuk kotak putih sebelum diangkut oleh truk putih-biru untuk keperluan industri. Kapasitas angkut kendaraan tersebut berkisar antara 10 hingga 16 ton. Meski terlibat dalam distribusi, IM mengaku tidak mengetahui secara pasti harga jual untuk sektor industri, namun ia memperkirakan harga industri lebih tinggi dibanding harga normal yang berkisar Rp12.000–Rp15.000 per liter.

Dalam menjalankan usahanya, IM mengaku ada rasa was-was, terutama karena tekanan kebutuhan ekonomi. “Saya ini ikut arahan bos saja. Kalau sehari dalam sebulan kita kurangi satu hari karena waktu tempuh ke gudang bisa memakan dua hari, ya otomatis pasokan berkurang. Kalau rata-rata satu mobil 10 ton, dalam sebulan sekitar 15 mobil, berarti 150 ton,” jelasnya.

Meski menghadapi tantangan logistik dan fluktuasi permintaan, IM menegaskan bahwa pekerjaannya ini menjadi sumber utama penghasilan keluarganya. Ia berharap ke depan jalur distribusi semakin lancar sehingga tidak ada hambatan dalam pemenuhan kebutuhan industri dan pendapatan para pemasok tetap terjaga.***