Palembang, Halosumsel– Minggu, 10 Mei 2026 di Batiqa Hotel Palembang, resmi dideklarasikan berdirinya Forum Alumni Pelajar Islam Indonesia disingkat FAPII. So pasti, kepengurusan dan keanggotaannya adalah para alumni PII lintas angkatan dan multi disiplin ilmu.
Lalu, bagaimana dengan Keluarga Besar atau KBPII yang eksistensinya juga menghimpun para alumni PII.
Di alam demokrasi, sah-sah saja banyak bermunculan organisasi dari berbagai perspektif kepentingan. Contoh, Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam atau KAHMI. Selain KAHMI yang didirikan 17 September 1966, ada KAHMI Foundation dan KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS). Esensi semuanya adalah sebagai wadah komunikasi dan silaturahmi bagi para alumni HMI. Sebagai ‘insan cita’ semua itu dianggap dinamika dalam berhimpun untuk menuju jatidiri yang kaffah, yakni sebagai ‘rahmatan lil alamin’, membawa manfaat bagi dunia dan seisinya.
Sejatinya, kehadiran FAPII tidak perlu dirisaukan apalagi dipertentangkan. KBPII yang lahir 23 Mei 1998 sudah menampakkan kiprahnya di segala segmen kehidupan masyarakat, tentu saja dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Kalau begitu apa beda FAPII dan KBPII? Menurut Ketua Umum FAPII Sumsel, Rizal Syamsul, bahwa anggota FAPII dipastikan juga sebagai anggota KBPII, sebaliknya anggota KBPII belum tentu anggota FAPII. Dari pernyataan ini berarti tidak perlu ada dikotomi antara keduanya. KBPII tetaplah bergerak sesuai khittohnya, dan FAPII sebagai mitra berada di belakang atau disampingnya demi akselerasi perjuangan tersebut. Dengan demikuan tidak ada kata ‘perpecahan alumni’ menyusul kehadiran FAPII, apalagi disebut sebagai KBPII Tandingan, KBPII Perjuangan, KBPII Reformasi, dan sebutan lainnya.
FAPII hanyalah forum, yang secara umum berfungsi sebagai sarana komunikasi suatu komunitas yang memiliki minat yang sama dan merumuskan cara mencapainya.
FAPII mendeklarasikan kehadirannya untuk fokus bergerak di sektor ekonomi. Namun demikian bukan berarti urusan syurga-neraka atau pahala dan dosa dikesampingkan, itu tetap menjadi ‘roh’ setiap langkah perjuangan yang dilakukan.
Bertolak dari kondisi faktual bahwa banyak alumni PII yang telah sukses di berbagai bidang pekerjaan. Sebaliknya masih banyak alumni yang, maaf, kehidupannya masih jauh dari kata sejahterah.
Menjadi tugas FAPII untuk mensinergiskan dua kondisi faktual tersebut. Yang sukses membantu yang masih duafa, melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Tidak cukup sampai disitu, mata perkaderan PII harus tetap berkualitas dan berkelanjutan, tentu saja hal itu harus ditopang pendanaan yang cukup. Jika FAPII sudah kuat secara finansial, haqqul yakin, adik-adik PII tak terlalu dipusingkan lagi untuk mengedar proposal perkaderan ke para alumni. Asnadi, alumni PII Curup

