Wonosari, Halosumsel– Sebuah terobosan inovatif di bidang pertanian hadir dari Kelompok Tani (Poktan) bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Mitra Desa Dulohupa, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Mereka meluncurkan sistem Industrial Padi berbasis Teknologi Probiotik Zero Waste terintegrasi dengan minyak kelapa Omega 3.

 

Teknologi ini memanfaatkan mikroorganisme baik atau Plant Growth Promoting Microorganisms (PGPM) yang mampu merangsang pertumbuhan tanaman, meningkatkan penyerapan nutrisi, serta memperkuat sistem imunitas tanaman terhadap hama dan penyakit. Pendekatan ini sekaligus menerapkan prinsip ramah lingkungan dan nol limbah.

 

Peran Probiotik bagi Tanaman

 

Dalam sistem ini, probiotik diberikan melalui berbagai formulasi seperti Fitohormon, Nutrisi Kompleks Tanaman (NKT), Nutrisi Generatif Tanaman (NGT), Booster, Imunomodulator, hingga Pestisida Nabati. Berbagai peran penting probiotik meliputi:

 

· Membantu pelarutan mineral dan fiksasi nitrogen dari atmosfer

· Meningkatkan produksi klorofil sehingga daun tampak lebih hijau

· Membantu penyerapan dan pengangkutan nutrisi, air, serta gula sesuai fase pertumbuhan tanaman

· Meningkatkan kualitas buah dan ketahanan terhadap patogen

 

Pendekatan Siklus Industri yang Berkelanjutan

 

Sistem yang diterapkan tidak hanya fokus pada budidaya, tetapi juga membangun siklus industri terjadi dari hulu ke hilir. Kawasan tani probiotik didukung oleh sistem pendampingan, pemanfaatan sumber daya lokal (saprodi), serta pengelolaan pascapanen yang berkelanjutan. Limbah dari olahan minyak kelapa Omega 3 pun dimanfaatkan kembali sehingga tidak ada yang terbuang.

 

Hasil yang ditargetkan adalah padi organik probiotik dan beras khusus yang bernilai ekonomi tinggi. Seluruh produksi akan dioptimalkan serapannya oleh BUMDES untuk diolah lebih lanjut menjadi produk pangan lanjutan, mendorong industrialisasi desa.

 

Kebutuhan Nutrisi per Hektare

 

Untuk budidaya seluas satu hektare, diperlukan benih sebanyak 25–30 kg serta berbagai nutrisi probiotik dengan dosis terukur, antara lain:

 

· Fitohormon: 5 liter

· NKT (Nutrisi Kompleks Tanaman): 15 liter

· NGT (Nutrisi Generatif Tanaman): 15 liter

· Imunomodulator: 10 liter

· Booster: 10 liter

· Pestisida Nabati: 15 liter

· Herbisida pembakar dan selektif dalam jumlah tertentu

 

Proses Perlakuan Benih dan Lahan

 

Sebelum tanam, benih diseleksi dengan merendamnya dalam larutan fitohormon selama 15 menit, kemudian direndam 3–12 jam, dan diperam hingga 24 jam. Lahan disiapkan dengan pemberian herbisida pembakar serta pembenah tanah menggunakan NKT. Bibit siap dipindah tanam pada umur 15–20 hari setelah tebar.

 

Perawatan Berkala Setelah Tanam

 

Setelah tanam, jadwal penyemprotan dilakukan secara berkala hingga umur 64 hari setelah tanam (HST), dengan kombinasi NKT, Fito, Imun, Pestisida Nabati, NGT, dan Booster sesuai dosis yang telah ditentukan.

 

Pembuatan Pupuk dan Pestisida Alami

 

Seluruh bahan baku pembuatan probiotik dan pestisida nabati berasal dari bahan alami seperti air kelapa, buah apel, seledri, bawang putih, kotoran kambing, akar bambu, daun kelor, ikan laut, tempe, telur ayam kampung, serta berbagai daun tanaman seperti sirsat, afrika, dan kacang bintang. Proses fermentasi dilakukan selama 3–7 hari dalam wadah tertutup sebelum siap diaplikasikan.

 

Dukungan Strategis dan Keberlanjutan

 

Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari eksekutif, legislatif, penyuluh, pendamping desa, hingga mitra strategis seperti Koperasi Syariah, Bulog, dan mitra lainnya. Dengan pendekatan yang mengedepankan kearifan sumber daya lokal serta kelestarian lingkungan, kawasan pertanian diharapkan menjadi asri, lestari, dan ramah limbah rumah tangga.

 

Inovasi ini menjadi bukti bahwa teknologi probiotik tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian secara alami, tetapi juga mampu mendorong kemandirian ekonomi desa melalui industrialisasi berbasis ekologi.

Rel