MUARAENIM, Halosumsel– Hutan di Desa Lembak, Kecamatan Lembak, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, itu tiba-tiba ramai pada Senin (8/6/2026). Bukan karena satwa liar, melainkan karena rombongan jurnalis yang berjalan hati-hati di antara pipa-pipa baja dan mesin-mesin raksasa yang berdengung ritmis.
Di tengokelok belukar dan semak ilalang, berdiri gagang sebuah struktur yang dijaga super ketat: Sumur Cantik.
Namanya unik, bahkan terdengar jenaka untuk sebuah sumur minyak. Namun, di balik nama itu, tersembunyi denyut nadi ketahanan energi nasional.
Harapan di Balik Nama “Cantik”
Bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) serta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) wilayah Sumsel, para wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel diajak melihat langsung produksi di PT Sele Raya Belida.
Di sela suara kompresor dan bau khas hidrokarbon, Elvi Kurnia Hakim, Field Superintendent PT Sele Raya Belida, tersenyum saat menceritakan asal-usul nama sumur tersebut.
“Dulu kawasan ini masih hutan lebat. Nama ‘Sumur Cantik’ bukan tanpa alasan—ini doa dan harapan. Kami berharap sumur ini ‘cantik’ dalam arti produktif, mampu menghasilkan minyak yang baik, dan membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar,” ujar Elvi di sela menjelaskan aliran fluida dari dalam perut bumi.
Di area seluas 1,2 hektar itu, delapan sumur aktif terus bekerja tanpa henti. Padahal, total wilayah kerja PT Sele Raya Belida mencapai delapan hektar yang tersebar di empat lapangan produksi. Namun, Sumur Cantik menjadi primadona karena ceritanya yang melekat di masyarakat.
Mengamankan Setiap Tetes: Perang Melawan Penurunan Alamiah
Tak hanya berfoto di samping kepala sumur, para jurnalis juga diajak merasakan kerasnya standar operasional. Mulai dari penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur darurat, hingga simulasi kebocoran. Semua dilakukan dengan disiplin militer.
Di tengah kunjungan itu, Safei Sapri, Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, berbicara blak-blakan.
“Minyak dan gas tidak terbarukan. Setiap tahun, alamiahnya produksi akan turun. Tugas kita adalah menahan laju itu, bahkan menaikkannya. Satu liter pun tidak boleh turun. Ini amanah swasembada energi nasional,” tegas Safi dengan nada penuh tekanan.
Ia menjelaskan bahwa tantangan saat ini bukan hanya menjaga sumur tua tetap berproduksi, tetapi juga mengebor sumur baru dan eksplorasi lokasi-lokasi virgin (belum tersentuh). “Media memiliki peran besar. Masyarakat harus paham: proyek ini bukan sekadar bisnis, tapi untuk kebutuhan hidup kita semua.”
Perspektif Wartawan: dari Siaran Pers ke Lumpur Sungguhan
Ketua Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, H. Oktaf Riyadi, mengakui bahwa kegiatan semacam ini adalah ruang belajar yang tak ternilai.
“Saya sudah bertahun-tahun meliput migas, baru kali ini benar-benar menyentuh tanahnya, mendengar suara mesin, dan melihat sendiri bagaimana pekerja tambang berjuang di lapangan. Ini beda dengan sekadar membaca siaran pers,” ujar Oktaf sambil membersihkan sepatunya yang berlumpur.
Baginya, Media Field Trip 2026 yang merupakan program kerja bersama SKK Migas-KKKS Sumbagsel ini berhasil membuka mata para wartawan. “Kami jadi tahu kompleksitasnya. Jadi tidak mudah menulis soal kenaikan harga BBM tanpa melihat proses produksinya yang berat.”
Di Balik Pipa Migas, Ada Senyum Warga
Feature ini tak lengkap tanpa cerita tentang manusia di sekitar sumur. PT Sele Raya Belida tak hanya mengejar target produksi. Sepanjang tahun 2025, perusahaan telah menjalankan puluhan program pemberdayaan.
Warga sekitar mengenal mereka bukan dari ceruk minyak, tapi dari sunatan massal, bantuan alat kesehatan, hingga makanan tambahan untuk ibu hamil dan lansia. Di bidang pendidikan, perusahaan merehab gedung SD di Gelumbang dan memperbaiki fasilitas PAUD di Banyuasin.
Bahkan, di bidang lingkungan, ada penanaman mangrove dan pembangunan MCK (mandi, cuci, kakus). “Kami ingin masyarakat merasakan langsung manfaat keberadaan kami,” kata seorang perwakilan perusahaan.
Menyulut Harapan di Tengah Keterbatasan
Saat matahari mulai condong ke barat, rombongan jurnalis pamit meninggalkan Sumur Cantik. Meski wajah mereka lelah dan berlumur debu, ada kepuasan yang terpancar. Mereka tidak lagi melihat migas sebagai komoditas abstrak.
Mereka melihatnya sebagai aliran kehidupan: mulai dari keringat pekerja lapangan, doa warga sekitar, hingga komitmen SKK Migas dan KKKS untuk menjaga Indonesia tetap terang.
Seperti nama sumur itu sendiri—”Cantik”—bukan hanya soal fisiknya, tapi tentang harapan yang terus dipupuk di tengah hutan, di bawah terik matahari Muara Enim, demi ketahanan energi nasional.
Sofuan

