BELUM SAMPAI KE PANTAI: PELAJARAN DARI KEJATUHAN KEIR STARMER
Dalam politik, kemenangan besar sering kali menciptakan sebuah ilusi yang berbahaya. Ilusi bahwa mandat yang besar akan menjamin kelangsungan kekuasaan untuk jangka waktu yang panjang. Padahal, sejarah politik dunia justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Mandat besar dapat hilang dengan cepat ketika sebuah pemerintahan gagal mengelola harapan rakyat yang semakin tinggi.
Apa yang terjadi pada Keir Starmer dan Partai Buruh di Inggris patut menjadi bahan renungan. Pada tahun 2024, Starmer memimpin Partai Buruh meraih kemenangan besar yang mengakhiri lebih dari satu dekade pemerintahan Partai Konservatif. Ia dipandang sebagai simbol perubahan dan harapan baru bagi rakyat Inggris yang telah lelah menghadapi ketidakpastian politik dan tekanan ekonomi.
Namun tidak lama kemudian, dukungan terhadap dirinya mulai merosot. Kemenangan besar yang dianggap sebagai awal dari era baru akhirnya berubah menjadi beban politik yang sulit dipikul.
Di sinilah saya teringat pesan almarhum Mohammad Natsir. Beliau pernah mengingatkan bahwa banyak pejuang berhenti mendayung ketika merasa dirinya sudah hampir sampai ke pantai. Padahal kenyataannya mereka masih berada di tengah arus. Ketika dayungan berhenti, arus akan membawa mereka ke arah yang tidak pernah diduga.
Inilah sesungguhnya pelajaran terbesar dari kisah Keir Starmer.
Memenangkan pemilu dan mengelola negara adalah dua hal yang berbeda.
Ketika menjadi oposisi, Partai Buruh berhasil meyakinkan rakyat bahwa pemerintahan Konservatif harus diganti. Namun ketika kekuasaan berada di tangan mereka, rakyat mulai mengajukan pertanyaan yang lebih besar.
Bukan lagi siapa yang harus disingkirkan, tetapi ke mana negara ini akan dibawa.
Banyak pemilih melihat pemerintahan Starmer sebagai pemerintahan yang efisien, tetapi gagal menawarkan gambaran yang jelas tentang masa depan Inggris. Mereka melihat pengelolaan yang baik, tetapi tidak melihat inspirasi. Mereka melihat administrasi yang tertata, tetapi tidak merasakan harapan.
Di sinilah letak tantangan yang dihadapi oleh hampir semua gerakan perubahan di dunia. Sebuah gerakan bisa menang karena berhasil menunjukkan kelemahan pemerintahan sebelumnya. Namun untuk mempertahankan dukungan rakyat, mereka harus mampu menawarkan visi yang lebih besar tentang masa depan.
Rakyat pada akhirnya tidak hanya memilih perubahan. Mereka memilih harapan.
Pelajaran kedua adalah bahwa harapan rakyat selalu bergerak lebih cepat daripada hasil kebijakan pemerintah.
Starmer mewarisi ekonomi yang lemah, utang yang tinggi, dan biaya hidup yang membebani rakyat. Banyak persoalan itu bukan berasal darinya. Namun rakyat jarang membedakan antara masalah yang diwarisi dan masalah yang gagal diselesaikan.
Ukuran rakyat sebenarnya sangat sederhana.
Apakah kehidupan mereka menjadi lebih baik?
Jika jawabannya belum jelas, maka kekecewaan akan mulai muncul.
Fenomena ini terjadi hampir di semua negara demokrasi. Reformasi ekonomi, pembaruan institusi, dan perbaikan tata kelola membutuhkan waktu yang panjang. Namun rakyat menilai berdasarkan pengalaman hidup sehari-hari. Harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, pendapatan keluarga, dan biaya hidup akan selalu menjadi ukuran utama keberhasilan sebuah pemerintahan.
Karena itu, pemerintah bukan hanya harus melaksanakan kebijakan yang tepat, tetapi juga harus terus menjelaskan mengapa kebijakan tersebut diperlukan dan bagaimana manfaatnya akan dirasakan oleh rakyat.
Pelajaran ketiga adalah pentingnya menguasai narasi politik.
Dalam banyak situasi, pemerintahan Starmer terlihat lebih banyak bereaksi terhadap isu yang diangkat lawan politik dibandingkan membentuk agenda politiknya sendiri. Akibatnya, pihak oposisi berhasil menempatkan diri sebagai suara kemarahan rakyat, sementara pemerintah terlihat terus-menerus berada dalam posisi bertahan.
Dalam politik modern, fakta saja tidak cukup.
Fakta membutuhkan narasi.
Rakyat tidak mengingat angka. Rakyat mengingat cerita yang memberikan makna terhadap angka tersebut.
Sebuah pemerintahan bisa saja mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik, peningkatan investasi, atau keberhasilan berbagai program pembangunan. Namun jika keberhasilan tersebut gagal diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami rakyat, maka manfaat politiknya akan sangat terbatas.
Pelajaran keempat adalah pentingnya persatuan dan disiplin organisasi.
Salah satu faktor yang mempercepat kemerosotan Starmer adalah konflik internal yang semakin terbuka di dalam Partai Buruh. Perbedaan pandangan yang tidak dikelola dengan baik akhirnya menciptakan persepsi bahwa pemerintah kehilangan kendali atas timnya sendiri.
Rakyat memahami bahwa perbedaan pandangan pasti ada dalam setiap organisasi politik. Namun rakyat tidak menyukai perpecahan yang dipertontonkan secara terbuka.
Sering kali sebuah pemerintahan tidak jatuh karena serangan lawan politik. Sebaliknya, ia melemah karena kehilangan kesatuan di dalam dirinya sendiri.
Terakhir, kejatuhan Starmer menunjukkan bahwa kompetensi saja tidak cukup dalam politik.
Ia dikenal sebagai pemimpin yang serius dan berwibawa. Namun banyak pemilih gagal melihat cita-cita besar yang diperjuangkannya. Mereka melihat seorang administrator yang baik, tetapi tidak merasakan hubungan emosional yang kuat dengan kepemimpinannya.
Di sinilah relevansi pesan lain dari Mohammad Natsir. Setelah memasuki fase baru perjuangan, tugas yang sesungguhnya bukan sekadar mengelola kemenangan, tetapi membangun masyarakat. Kekuasaan hanyalah alat. Tujuannya adalah menghadirkan perubahan yang dirasakan rakyat dan menjaga keyakinan mereka terhadap cita-cita yang diperjuangkan.
Kisah Keir Starmer bukan sekadar kisah jatuhnya seorang Perdana Menteri Inggris. Ini adalah pengingat bagi semua gerakan politik bahwa kemenangan pemilu bukanlah garis akhir.
Kemenangan hanyalah awal dari ujian yang sesungguhnya.
Rakyat dapat memberikan mandat karena mereka menginginkan perubahan. Namun mereka hanya akan memperbarui mandat itu apabila melihat bahwa perubahan tersebut benar-benar membawa masa depan yang lebih baik.
Dalam bahasa Pak Natsir, kita belum sampai ke pantai.
Karena itu, jangan berhenti mendayung.
Sebab dalam politik, saat seseorang merasa perjuangannya telah selesai, pada saat itulah kemunduran sering kali dimulai.
Shamsul Iskandar Mohd Akin
Mantan Kepala Staf Politik Datuk Seri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia | Anggota Parlemen Malaysia 2013-2022

