Jakarta, Halosumsel-– Dijuluki sebagai lumbung kakao nasional dengan kontribusi sekitar 20 persen terhadap produksi Indonesia, Sulawesi Tengah menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Namun, di balik gelar itu, komoditas unggulan ini tengah menghadapi sejumlah tantangan serius yang membuat kontribusinya terhadap perekonomian daerah masih sangat kecil, bahkan hanya sebesar 0,91 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) .

 

Sebagai provinsi penghasil kakao terbesar di Indonesia, Sulteng memiliki lahan perkebunan mencapai 300 ribu hektare dengan produksi tahunan sekitar 145 ribu ton . Ironisnya, 65 persen dari tanaman tersebut sudah berusia di atas 25 tahun, sehingga produktivitasnya menurun drastis . Data historis juga menunjukkan tren penurunan produksi nasional sebesar 12,66 persen dalam lima tahun terakhir, sementara di Sulteng sendiri, produksi menyusut akibat serangan hama, penyakit, dan minimnya peremajaan lahan.

 

Peluang dan Program Strategis

 

Meskipun menghadapi tantangan, berbagai pihak melihat peluang besar bagi kebangkitan kakao Sulteng. Nilai perdagangan kakao dunia yang mencapai Rp162 triliun dengan harga acuan ekspor yang terus meningkat (USD 10.060-11.102 per ton pada awal 2026) menjadi daya tarik tersendiri . Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah, bersama dengan Bank Indonesia (BI) dan Badan Bank Tanah, telah meluncurkan sejumlah program strategis untuk merevitalisasi industri kakao.

 

1. Peremajaan Kebun (Replanting): Program PAKAR (Peremajaan Kakao Rakyat) menjadi ujung tombak untuk menyegarkan 65 persen tanaman tua dengan bibit unggul . Badan Bank Tanah juga telah menyiapkan lahan Hak Pengelolaan (HPL) seluas 7.075 hektare di Kabupaten Poso, Sigi, dan Parigi Moutong untuk mendukung program reforma agraria dan perluasan lahan produktif .

2. Hilirisasi dan Holding UMKM: Kementerian UMKM mendorong penguatan ekosistem kakao melalui program Holding UMKM berbasis klaster. Langkah ini bertujuan membangun kemitraan bisnis dari hulu hingga hilir, mengubah ketergantungan pada ekspor biji mentah menjadi produk olahan bernilai tambah . Ketua Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo), Soetanto Abdoellah, menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar di pasar kakao premium, dengan sejumlah daerah yang mampu menghasilkan biji berkualitas kelas dunia .

3. Ekspor Kakao Premium: Sulawesi Tengah telah melakukan ekspor perdana kakao fermentasi premium ke Valrhona Chocolate, Prancis, mewujudkan visi “Sulteng Nambaso” (Besar, Berdaya Saing, Sejahtera) . Ini menunjukkan bahwa kualitas kakao Sulteng mampu bersaing di pasar global.

 

Potensi dan Harapan

 

Salah satu keunggulan kompetitif Indonesia adalah kondisi iklim yang sesuai untuk pengembangan kakao . Selain itu, penelitian menunjukkan kakao Indonesia memiliki karakter rasa khas tropis yang menjadi nilai jual di pasar premium dunia . Dengan perawatan intensif menggunakan klon unggul, produktivitas per hektar dapat melonjak dari rata-rata 800-1.000 kg menjadi 1.500-2.400 kg biji kering per tahun.

 

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A. Lamadjido, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk mengatasi tantangan seperti penggunaan bibit rendah, keterbatasan akses pasar, dan perubahan iklim .

 

“Kita memiliki tanah yang subur dan iklim yang mendukung. Dengan sinergi lintas sektor, kita bisa menjadikan Sulteng sebagai salah satu sentra kakao berkualitas terbaik di Indonesia,” ujarnya.

 

Kebangkitan kakao Sulteng memang bukan perkara mudah. Namun, dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, akademisi, dan petani, “raksasa tertidur” ini diyakini siap bangkit dan kembali memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi daerah dan bangsa.

***