Catatan Tertinggal Kepergian Ferry Tatung

 

Suasana duka masih sangat terasa ketika memasuki kediaman mendiang Ferry Tatung. Meski tak ada lagi ratusan rangakian karangan bunga seperti terlihat pada 20 Mei 2026 lalu namun rumah besar yang berada di Jalan Sumatera II Nomor 6 26 Ilir itu sebagaimana empat puluh hari yang lalu.

Tak ada lagi isak tangis, linangan air mata serta tahlil yang terus menggema.

Alangkah cepatnya hari berlalu. Termasuk kepergian ayah lima putra-putri dankeluarga besar Ferry Tatung.

“Kita kehilangan Kak Fei. Kak Fei sudah tidak ada lagi. Dia sudah pergi meninggalkan kita semua,” kata Wiwiet Tatung putri sulung keluarga Tatung diiringi isak tangis. Dibalik balutan penampilannya yang serba putih, tampak jelas matanya yang sembab karena menangisi kepergian adiknya Fei panggilan sayang Ferry Tatung.

 

Begitu juga sang istri. Silvia Rezana. Perempuan cantik kelahiran 19 Januari 1979 ini tak habis-habisnya menitikkan air mata. Seraya duduk bersimpuh disamping jenazah suaminya tercinta, Via begitu dia akrab disampa, menyalami satu persatu tamu yang datang. Terlintas duka mendalam diwajahnya. Terlihat rasa pasrah, menerima takdir keputusan Yang Maha Kuasa pada raut wajahnya. Namun terkesan pula seakan tak percaya tetapi musibah ini, duka ini benar-benar nyata.seperti mimpi.

Namun begitulah kematian. Sepenuhinya rahasia Sang Maha Pencipta. Dia Yang Maha Segalanya.

 

Via dan lima putra-putrinya sebagaimana kita yang pernah mengalami hal yang sama. Sedih yang menyesak dada. Menangis sepuasnya dan mengiringi kepergian orang yang kita kasihi dengan doa tulus dari lubuk hati yang paling dalam.

 

Ferry Tatung semasa hidup dikenal sebagai laki-laki tegas dan berani banyak teman dan disegani. Ayahnya seorang prajurit pejuang H. Syamsul Bahri (Tatung). Ibunya Hj Delima Tatung adalah seorang putri residen. Residen pertama Sumsel H. Abdul Rozak.

 

Titisan darah pejuang yang berani melekat erat pada anak ke dua dari sembilan bersaudara keluarga Tatung. Kakaknya Wiwiet Tatung, lalu adik-adiknya seperti Iin Tatung, Dedey Tatung, Tonny Tatung, Yayang Tatung, Bebeng Tatung, Dicky Tatung dan Stella Tatung. Mereka sembilan saudara yang kompak.

 

Tak ada yang tak kehilangan Ferry Tatung. Ini terbukti dari ratusan karangan bunga duka cita yang memanjang dari seputar Jalan Sumatera hingga berjejer di jalan utama Jaksa Agung R Suprapto Bukit Besar Palembang.

Karangan bunga dari berbagai kalangan. Mulai dari jendral hingga organisasi massa dan handai taulan.

Begitu juga para pelayat uang datang kerumah duka hingga yang mengantar ke pekuburan Taman Bunga. Ramai dan mendoakan ayah dari Vicel, Willa, Gazhi, Hania dan Alessya ini.

 

Ferry Arfian Marcel meninggal dunia pada Rabu 20 Mei 2026 pada usia 71 tahun. Ferry lahir 22 Juli 1954. Dia menghembuskan nafas terakhir setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Charitas dan Siloam Palembang.

 

Selain pengusaha semasa hidup dia menduduki jabatan penting di berbagai organisasi kemasyarakatan. Terakhir dia menjabat menjadi penasehat di PMPB (Paguyuban Masyarakat Palembang Bersatu). Sebagai senior Ferryl adalah figur motivator, orang tua serta sosok legendaris di Sumatera Selatan.

 

Kini yang tertinggal hanya kenangan khususnya bagi keluarga sahabat dan mereka yang pernah dekat. Sepeninggal Ferry, ke lima buah hati akan senantiasa mengirimkan doa agar ayahanda tercinta mendapat sebaik-baik tempat disisiNya.

 

Selamat jalan Kak Fei. Kendati engkau sudah tiada untaian doa-doa akan selalu terkirim untukmu. Dan kamipun juga akan menyusulmu. (ida syahrul)