Jakarta, Halosumsel – Pemerhati kebijakan pangan sekaligus Research Fellow PKSPL IPB, Boimin, mengajak masyarakat untuk membangkitkan bioteknologi pangan tradisional Indonesia melalui produk fermentasi. Hal ini ia sampaikan dalam acara Ngaji Pertanian yang digelar Serikat Tani Islam Indonesia (STII) secara daring pada Sabtu (11/7/2026) .
Dalam materinya, Boimin menjelaskan bahwa Indonesia kaya akan produk bioteknologi tradisional seperti tempe, tape, dan oncom yang semuanya merupakan hasil fermentasi . Ia menekankan bahwa proses fermentasi tidak hanya terjadi dalam pengolahan pangan, tetapi juga berperan penting dalam kesehatan tubuh manusia melalui mikrobioma usus .
“Masyarakat Nusantara sejak lama telah menemukan cara mengubah bahan pangan beracun menjadi layak konsumsi melalui proses bioteknologi alami, seperti yang terjadi pada pengolahan keluak untuk rawon,” ujar Boimin dalam pemaparannya, merujuk pada penelitian tentang fermentasi keluak yang mampu menurunkan kadar sianida hingga tingkat aman .
Boimin juga menyoroti pentingnya konsumsi pangan fermentasi lokal yang halal dan thoyib sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al Baqarah: 168. Ia mengingatkan bahwa produk fermentasi seperti tape ketan tetap halal dikonsumsi selama tidak sengaja diolah menjadi minuman beralkohol .
Acara yang mengusung tema kebangkitan bioteknologi pangan nusantara ini juga membahas potensi ekonomi produk fermentasi tradisional. Boimin mencontohkan bagaimana rawon yang menggunakan keluak sebagai bumbu utama telah menjadi ikon kuliner yang mampu menggerakkan ekonomi dari hulu ke hilir .
“Makanan tradisional bukan sekadar warisan budaya, namun juga aset ekonomi. Ketika rawon berkembang, permintaan terhadap keluak ikut meningkat. Rantai pasok lokal bergerak, tenaga kerja terserap, dan ekonomi daerah ikut hidup,” jelasnya .
Di akhir sesi, Boimin mengajak peserta untuk menjadikan fermentasi sebagai kata kunci dalam mengembangkan ide bisnis baru sekaligus menjaga kesehatan melalui konsumsi pangan fermentasi lokal yang menyehatkan **

