PALEMBANG — Luas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang mencapai sekitar 72,9 ribu hektare menyimpan potensi besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Namun, luas areal saja belum cukup. Produktivitas kebun menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar potensi tersebut dapat dimanfaatkan.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memastikan pekebun menggunakan bibit unggul dan bersertifikat sejak awal penanaman.
Direktur IPB Training, Muhammad Sigit Susanto, M.M., CPC, mengatakan kualitas bibit menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun kebun sawit yang produktif dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikannya saat memberikan materi dalam Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit bagi 176 pekebun asal OKU Angkatan 30 hingga 35 di Hotel Beston, Palembang, 29 September hingga 4 Oktober 2026.
Pelatihan tersebut merupakan kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Menurut Sigit, produktivitas tanaman tidak bisa hanya mengandalkan perawatan setelah tanaman tumbuh. Keputusan pekebun sejak tahap awal, termasuk dalam memilih benih, turut menentukan keberhasilan kebun dalam jangka panjang.
“Petani mestinya memilih bibit yang tersertifikasi. Bibit unggul produktivitasnya sudah diteliti di laboratorium dan dibuktikan di lapangan,” ujar Sigit.
Ia mengingatkan, penggunaan bibit yang tidak jelas asal-usulnya dapat meningkatkan risiko kegagalan budidaya. Tanaman berpotensi menghasilkan produksi yang rendah dan menghadapi persoalan seperti serangan hama maupun penyakit.
Karena itu, benih bersertifikat dinilai bukan sekadar biaya awal dalam membangun kebun, melainkan bagian dari investasi untuk menjaga produktivitas tanaman dalam jangka panjang.
“Kalau panennya lebih baik, kualitas hasilnya lebih baik. Secara tidak langsung kesejahteraan petani juga bisa meningkat,” katanya.
Sigit menekankan, peningkatan produktivitas sawit tidak berhenti pada penggunaan benih unggul. Pekebun juga perlu memahami seluruh rangkaian pengelolaan tanaman, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga panen.
Penerapan budidaya yang tepat, menurutnya, harus berjalan secara menyeluruh agar potensi tanaman dapat dimaksimalkan.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian. Perkebunan rakyat diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan panen optimal dalam jangka pendek, tetapi tetap produktif dan menjadi sumber pendapatan pekebun dalam jangka panjang.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian OKU, Ir. Hendri Eka Putra, S.P., M.Si., IPM, mengatakan program pelatihan budidaya sawit bagi pekebun OKU telah digelar dalam tiga gelombang.
Pelatihan berlangsung pada awal Agustus, akhir Agustus dan akhir September. Total peserta yang telah mengikuti kegiatan tersebut mencapai 451 pekebun.
“Harapannya dengan dibekali ilmu, budidayanya lebih bagus, penanganan hasilnya lebih bagus, dan yang pasti produktivitasnya meningkat,” ujar Hendri.
Besarnya jumlah pekebun yang mengikuti pelatihan menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pengelolaan perkebunan rakyat.
Apalagi, sebagian besar perkebunan sawit di OKU merupakan perkebunan rakyat. Dengan luasan mencapai sekitar 72,9 ribu hektare, peningkatan produktivitas melalui perbaikan praktik budidaya dinilai memiliki ruang yang besar.
Kondisi harga sawit yang dinilai relatif baik juga turut mendorong sebagian pekebun karet untuk beralih atau mengembangkan usaha ke komoditas kelapa sawit.
Dalam pelatihan, pekebun didorong untuk menggunakan benih dari sumber yang jelas dan tersertifikasi, termasuk sumber benih seperti Sembawa.
Produktivitas sekitar 2 ton per hektare per bulan disebut dapat menjadi salah satu target apabila tanaman didukung penerapan teknik budidaya yang tepat.
Dengan demikian, tantangan perkebunan sawit rakyat di OKU bukan hanya bagaimana mempertahankan luas areal yang ada, tetapi juga bagaimana mengoptimalkan produktivitas setiap hektare kebun.
Peningkatan keterampilan pekebun, penggunaan benih berkualitas serta penerapan budidaya yang baik diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya memperkuat produktivitas sekaligus keberlanjutan sawit rakyat di Kabupaten OKU.(ril)

