PALEMBANG – Membaca teori tentang pengajiran tentu berbeda dengan berdiri di lahan dan menentukan titik tanam. Mengetahui cara mengkalibrasi alat semprot juga berbeda dengan memegang alat dan mencobanya secara langsung.
Pendekatan seperti itulah yang menjadi bagian dari Pelatihan Budi Daya Kelapa Sawit bagi 176 pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.
Selama enam hari, 29 September hingga 4 Oktober 2026, peserta Angkatan XXX, XXXI, XXXII, XXXIII, XXXIV, dan XXXV tidak hanya mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Mereka juga terlibat dalam diskusi, praktik, simulasi, hingga kunjungan lapangan ke PT Duta Reka Mandiri.
Pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026 melalui kolaborasi BPDP, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan IPB Training.
Model pembelajaran tersebut penting karena persoalan budi daya kelapa sawit sering kali muncul dalam bentuk yang sangat praktis. Kondisi lahan berbeda, tanaman tidak selalu tumbuh seragam, dan masalah hama maupun penyakit dapat membutuhkan pengambilan keputusan yang tepat.
Salah satu contoh terlihat ketika peserta mempelajari persiapan lahan. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai syarat tumbuh dan kesesuaian lahan, peserta diajak melihat aspek yang lebih konkret melalui praktik penggunaan alat ponjok dan pengukuran pH tanah menggunakan kertas lakmus. Peserta tidak hanya menyimak, tetapi juga mencoba menggunakan alat tersebut.
Begitu pula saat membahas pengajiran. Peserta diperkenalkan pada pemancangan di lokasi berkontur dan aturan mata lima. Beberapa pertanyaan yang muncul justru berasal dari persoalan yang mungkin ditemui ketika mereka kembali ke kebun, seperti bagaimana menggeser pancang ketika melakukan replanting dan bagaimana menentukan kondisi tanah yang sesuai.
Pembelajaran semakin aplikatif ketika masuk pada pengendalian gulma. Peserta diperkenalkan pada alat semprot dan alat pelindung diri, kemudian melihat langsung cara melakukan kalibrasi serta perhitungannya. Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mencoba menggunakan alat dan membahas persoalan yang mungkin muncul saat menggunakan pestisida.
Hal serupa terjadi pada sesi pemupukan. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan mengenai unsur hara dan prinsip 5T, tetapi juga mengamati karakteristik pupuk melalui praktik. Pertanyaan mengenai pupuk yang baik digunakan untuk kelapa sawit hingga pupuk yang sulit larut dalam air muncul dalam diskusi.
Interaksi semacam itu menjadi penting karena peserta sebenarnya telah memiliki pengalaman lapangan. Dalam bahan evaluasi kegiatan, tercatat peserta menyampaikan bahwa mereka memiliki pengalaman lapang yang cukup banyak, tetapi tetap membutuhkan dasar teori untuk melengkapi pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman tersebut.
Artinya, pelatihan tidak menempatkan peserta sebagai penerima informasi semata.
Pengalaman yang telah mereka miliki justru menjadi bahan untuk menguji, mendiskusikan, dan memperdalam teori.
Persoalan pembibitan menjadi salah satu contoh. Peserta bertanya mengenai cara memilih benih unggul dan mengapa jenis tenera dikategorikan unggul. Pada kesempatan lain, peserta membagikan pengalaman mengenai kondisi daun tanaman yang bercabang dan meminta penjelasan apakah hal tersebut termasuk abnormal.
Diskusi yang sama muncul ketika membahas hama dan penyakit. Ada peserta yang menyampaikan bahwa lahannya telah banyak ditemukan Ganoderma dan meminta penjelasan mengenai pengendaliannya. Ada pula yang bertanya mengenai TBS yang kopong dan kemungkinan penanganannya.
Dengan cara seperti ini, ruang kelas menjadi tempat bertemunya pengalaman lapangan dan pengetahuan teknis. Masalah yang selama ini dihadapi peserta di kebun dapat dibawa ke dalam diskusi, sementara teori yang diperoleh dapat digunakan untuk melihat kembali persoalan tersebut secara lebih sistematis.
Puncak pendekatan lapangan dilakukan pada hari kelima ketika peserta mengikuti kunjungan dan praktik lapangan di PT Duta Reka Mandiri. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian enam hari pembelajaran sebelum peserta mengikuti sesi integrasi dan post-test .
Bagi penyelenggara, kombinasi kelas dan praktik menjadi cara untuk membuat materi budi daya lebih dekat dengan kebutuhan pekebun. Bagi peserta, pengalaman tersebut memberi kesempatan untuk tidak hanya mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi juga memahami cara menerapkannya.
Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan bukan hanya terlihat dari berapa banyak materi yang disampaikan dalam enam hari. Ukuran yang lebih penting adalah apakah pengetahuan tersebut dapat dibawa pulang dan digunakan ketika pekebun kembali berhadapan dengan lahan, tanaman, gulma, pupuk, hama dan penyakit di kebun masing-masing.(ril)

