Jakarta, Halosumsel– Serikat Tani Islam Indonesia (STII) kembali sukses menggelar program rutin “Ngaji Pertanian” secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu pagi (31/10/2026). Mengangkat tema “Peran Trichoderma dalam Kesehatan Tanah dan Perlindungan Tanaman”, acara ini menghadirkan Irvan Satria, S.Si., M.Si., Manajer Bioteknologi Lingkungan UNPAD sekaligus perwakilan dari Bio Produk Abadi, sebagai pemateri utama.
Dalam paparannya, Irvan menekankan bahwa tanah bukan sekadar media tanam, melainkan sebuah ekosistem hidup yang dihuni oleh jutaan hingga miliarkan mikroorganisme. “Tanah yang sehat membutuhkan kehidupan mikroorganisme yang seimbang. Jika tanah terdegradasi, padat, dan minim bahan organik, pertumbuhan akar akan terhambat dan tanaman menjadi rentan terhadap penyakit,” ujarnya di hadapan para sahabat tani dan pejuang lingkungan.
Irvan memperkenalkan Trichoderma sebagai salah satu fungi (jamur) menguntungkan yang menjadi “sahabat” tanah dan tanaman. Jamur ini secara alami dapat ditemukan di sekitar akar tanaman dan memiliki keistimewaan luar biasa dalam mendukung pertanian berkelanjutan.
Mekanisme Pertahanan Alami
Materi yang disampaikan menjelaskan bagaimana Trichoderma bekerja secara aktif menjaga kesehatan tanaman melalui beberapa mekanisme. Pertama, Trichoderma menghasilkan enzim yang membantu menguraikan bahan organik dan melarutkan unsur hara agar lebih mudah diserap tanaman.
Kedua, yang tak kalah penting, Trichoderma berperan sebagai agen biokontrol (pengendalian hayati) yang sangat efektif melawan jamur patogen penyebab penyakit. Melalui mekanisme Mikoparasitisme, hifa Trichoderma akan melilit dan menembus dinding sel jamur patogen. “Trichoderma juga mengeluarkan enzim kitinase dan protease yang mendegradasi dinding sel patogen, serta bersaing dalam memperebutkan unsur hara dan ruang di zona perakaran,” jelas Irvan.
Selain itu, aplikasi Trichoderma dapat memicu Boosting Plant Systemic Resistance (ISR), yaitu meningkatkan kekebalan internal tanaman agar lebih siap melawan serangan penyakit di masa depan. Beberapa penyakit yang dapat ditekan populasinya antara lain Layu Fusarium, Rebah Semai, Busuk Pangkal Batang, Hawar Pelepah, Ganoderma, hingga Patek Cabai (Antraknosa).
Potensi Luas dan Cara Aplikasi
Tidak berhenti pada penyakit tanaman, Irvan juga memaparkan tren terbaru di mana beberapa strain Trichoderma menunjukkan potensi besar dalam mengendalikan hama ulat, seperti Spodoptera litura (ulat grayak), melalui sifat entomopatogenik, antifeedant (anti makan), dan repellent (penolak).
Untuk mendapatkan hasil maksimal, Irvan membagikan tujuh metode aplikasi Trichoderma, mulai dari seed coating (pelapisan benih), root dip (pencelupan akar bibit), metode siram (soil drench), pencampuran dengan kompos, aplikasi di lubang tanam, campuran media semai, hingga perlakuan pada umbi, rimpang, atau stek.
Namun, ia mengingatkan bahwa Trichoderma adalah makhluk hidup. Ada beberapa kunci keberhasilan yang harus diperhatikan: menjaga kelembapan tanah, menghindari paparan sinar matahari langsung, menggunakan produk berkualitas (memperhatikan masa kedaluwarsa), serta tidak mencampurnya langsung dengan fungisida kimia tanpa panduan kompatibilitas.
“Keberhasilan penggunaan Trichoderma sangat bergantung pada kualitas produk, kondisi lahan, dan cara aplikasi. Mari kita bergerak bersama menuju pertanian yang beriman, berilmu, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan mikroba menguntungkan untuk tanah yang lebih sehat,” tutup Irvan.
Kegiatan Ngaji Pertanian ini diharapkan dapat membekali para petani dan kader STII dengan wawasan praktis dalam mengurangi ketergantungan pada bahan kimia dan beralih ke solusi hayati yang lebih ramah lingkungan.
Sofuan

