Halosumsel.com-
Babinsa dilingkungan Kodim 0413 Bangka tadi siang belajar untuk mengelolah sampah organik menjadi pupuk kompos, Dalam kesempatan belajar pempuatan pupuk organik yang lebih dikenal dengan kompos ini dari Ahlinya seorang profesor.
Prof Dr Cahyono Agus dosen UGM didatangkan secara khusus dari Jogyakarta oleh Pemerintah Kabupaten Bangka dalam hal ini Badan Lingkungan Hidup (BLH) untuk menjelaskan secara panjang lebar dan mudah dicerna oleh peserta didik tentang pembuatan pupuk organik mulai dari tahap awal sampai siap untuk dipakai.
Tahap proses pengelolahan sampah, tahap 1. Sampah yang terkumpul dipilahkan terlebih dahulu antara sampah organik dg lainnya, tahap 2. Sampah yang sudah dipilah dimasukkan ke mesin konfeyor(pencacah)gunalan garpu atau sekop supaya logam tidak terbawa, tahap 3. Hasil cacahan dimasukkan ke bak fermentasi/bak penampungan, tahap 4 sampah dalam bak fermentasi, Setiap kurang lebih 20cm diberi lapisan pupuk orea sebanyak 5 genggam. Sampai pada ketinggian maksimal. Kemudian disiram menggunakan sprayer sampai lembab dan dibalik seminggu sekali ke bak fermentasi ke dua. tahap 5 kompos setelah minggu ke 5 diayak dengan mesin untuk memisahkan antara kompos yang kecil dengan yang besar, Kompos siap dipakai.
Inilah keterangan yang disapiakan oleh prof Dr Cahyono Agus. Catatan khusus dalam pembuatan juga perlu diperhatikan suhu. Kelembapan tidak boleh lebih dari 50% dan ukuran luas permukaannya Dari proses pembuatan kompos.
Dalam pelatihan ini Dandim 0413 Bangka Letkol Inf Daniel SP ikut memberikan motovasi kepada 50 prajuritnya yang berkesempatan menimba ilmu baru ini dan memberikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemda Kab Bangka yang membuat terobosan luar biasa dalam sektor pertanian.papar Dandim.
Masyarakat setempat kurang lebih 10 orang ikut pelatihan ini dan 20 orang dari BLH Kab Banga juga ikut kuliah umum ini. Drs Asep Setiawan selaku orang nomor satu di BLH Kab Bangka ini juga hadir dalam kesempatan yang baik ini untuk menambah ilmu pengetahuan tentang kompos. Besok pagi akan mengambilan contoh tanah pasca tambang di dua lokasi yaitu di tambang 23 Pemali dan di daerah merawang selanjutnya akan diteliti di UGM sehingga kedepan lahan eks tambang dapat dimanfaatkan sevagai lahan pertanian dengan menggunakan rekayasa tekhnologi.(rilis)

