Halosumsel.com –
Belum sepekan ini dilakukan perbaikan ruas jalan negara Jalintinsum Palembang-Betung sepanjang sekitar 100 M tepatnya di Desa Lubuk Lancang Kecamatan Suak Tapeh Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan ini kondisi sudah kembali memprihatinkan, bahkan banyak kalangan menyebut ” Ini jalan negara atau kubangan kerbau”.
“Kalau pengendara roda dua terjatuh dilokasi jalan itu seperti hampir setiap hari ada, kalau yang namanya macet arus kendaraan dari dua arah itu sudah setiap saat”, ujar Ujang (46) terangnya kepada wartawan media ini (17/1).
Sopir travel Palembang-Betung ini mengaku dalam satu bisa 4 kali melintas melalui jalan ini, maka ketika memasuki ruas jalan ini baru terasa capeknya sebagai pengemudi.
Warga Tanah Mas Talang Kelapa ini menambahkan, tahun 2010-2015 lalu untuk perjalanan Palembang-Betung masih mampu ditempuh dalam waktu satu jam, itu sudah termasuk turun-naikan penumpang, tetapi sejak tahun 2016 hingga pertengahan Januari 2017 ini kita butuh waktu 2-3 jam dari Palembang-Betung.
Masih menurutnya, padahal Perbaiki dijalan itu belum dapat dua pekan, tetapi kenyataannya Kondisi jalan sudah mirip kubangan saja.
Yang diherankan olehnya, mengapa dari pemerintah baik di kabupaten maupun provinsi Sumatera Selatan tidak ada upaya melakukan perbaikan, walaupun itu jalan negara, tetapi yang setiap melintas kan masyarakat Sumsel, tegasnya.
Terpisah, A. Malik (49) warga Suak Tapeh mengatakan Kerusakan ruas jalan negara yang membuat arus kendaraan melambat bahkan hingga macet hingga berjam-jam, karena rusaknya Jalintinsum diwilayah banyuasin sudah merata.
Dikatakan pekerjaan serabutan ini, Kondisi kerusakanya terdapat diwilayah Kecamatan Betung ada 4 titik, diwilayah Suak Tapeh dan diwilayah Banyuasin III terdapat di Kelurahan Seterio, Kedodong Raye, Pangkalan Balai hingga sekitar Ponpes Langkan dan terparah lagi lagi terdapat di Desa Pulau Harapan Kecamatan Sembawa.
Namun kata A. Malik, kerusakan jalan membuat pengguna jalan resah itu yang terdapat di dusun Kemang 2 Desa Lubuk Lancang, sebab jika terjadi kemacetan dilokasi itu kita harus siap bermalam, karena tidak ada jalan alternatif lain.
Heranya kata A. Malik, mengapa pihak Balai Besar Sumse itu cara melakukan perbaikan jalan hanya dengan sistem tambal sulam saja, padahal ini jalan negara yang setiap saat dilintasi berbagi kendaraan antar propinsi antar pulau.
Selain itu kata A. Malik, cepatnya ruas jalan negara itu rusak karena saat dilakukan perbaikan tidak disertai dengan pembangunan draenase, sehingga jika datang hujan atau limbah air rumah tangga masyarakat mengalir ditengah bahkan membelah ruas jalan, wajar kalau pengguna jalan negara itu bilang ” itu jalan negara atau kubangan” sebab faktanya begitu, pungkasnya.(waluyo)

