Halosumsel-
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) semakin memperkuat komitmennya terhadap restorasi lanskap hutan melalui penyelenggaraan Asia Bonn Challenge High Level Meedng pada 9-10 Mei mendatang.
Terpilihnya provinsi ini sebagai tuan rumah merupakan keputusan dari hasil penemuan tingkat regional Amerika latin di Panama pada Agustin lalu. Konferensi Bonn Oral/em kali ini akan mendatangkan lima menteri lingkungan hidup dari berbagai negara Asia dan diikuti 40 negara di Asia sebagai peserta perwakilan.
Bonn Challenge merupakan forum pertemuan regional yang menjadi salah satu upaya penyelamatan hutan ditingkat pemerintahan yang juga melibatkan elemen masyarakat sipil dan bisnis dari seluruh dunia. Bonn Challenge memiliki tujuan utama untuk mengurangi laju deforestasi seluas 150 juta hektare lahan hutan hingga 2020, dan 350 juta hektare sampai dengan 2030. Pada September 2011.
organisasi ini diluncurkan yang difasilitasi tuan rumah Kementerian Lingkungan Hidup Jerman dan international Union for Conservation of Mamre leCN) di Bonn, Jerman. Bonn aralknge Ini dapat
dimanfaatkan sebagai sarana untuk pembangunan desa, keamanan air dan pangan, sekaligus berkontribusi terhadap isu perubahan iklim.
Keputusan menjadikan provinsi Sumsel saban! tuan rumah tentunya menimbulkan tanda tanya bagi beberapa pihak. Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Sumsel disorot akibat kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutlaj. Oleh karena itu, Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin menilai pertemuan ini merupakan kesempatan bagi masyarakat Sumsel untuk menunjukkan bahwa Sumsel sangat menyadari konsekuensi dari berbagai tindakan yang tidak lestari dimasa lampau.
Provinsi Sumsel memetik banyak pelajaran dari kasus karhutla yang masif pada 2015 silam tersebut. ‘Oieh karena itu, kami memperkenalkan konsep Green Growth Sumatera, yakni suatu konsep pembangunan hijau yang merangkul multlpihak yakni pemerintah, perusahaan perkebunan, Lembaga
Alex berharap, melalui inisiatif Green Growth Sumatera ini, tak hanya pemerintah yang berperan sebagai leader. “Kami mengharapkan semua stakeholder, mulai dari perusahaan hinga masyarakat untuk turun tangan,” tegas Alex.
Dalam kesempatan ini, Aiex mengaprasasl mitigasi berbagai perusahaan yang sudah ikut turun tangan, termasuk 112 desa peduli api yang kemudian berkembang mnjadi 162 desa melalui program Desa Peduli Gambut.
memberdayakan mesyarakat sekitar untuk memberikan pelatihan kewirausahaan, bercocok tanam dan beternak. Penduduk desa dibantu dengan peralatan mencetak sawah sehingga tidak … mengunakan cara membakar lahan.
(sofuan/Advetorial)

