Halosumsel
lpol Indonesia kali ini menampilkan metode yang berbeda.11dak saja menilai dari sisi riset tapi juga 6 elemen pengolahan data. Metode ini kamv sebut dengan iPol Inside yaitu Metode Mix Methode yang membaca dan memprediksi kemenangan kandidat berbasis Teknologi Politik Pemenangan pemilu, Big Data dan Jaringan iPol di Indonesia. Semua data dan analisa di kaji secara mendalam oleh Tim Ahli di “’01 Riset-iPol,” hal ini dikatakan Direktur IPOL Petrus Hariyanto melalui siaran persnya Selasa (26/6)
Dikatakan Petrus,”Institute dan iPol Success sebelum data dirilis.Hasil dalam Rilis ipol ini menggabungkan 6 elemen data anta ra lain: Data Peta Politik Pilgub 2008, 2013 (Kecenderungan 10-15 Tahun Terakhir) dan Pergerakan Sebaran Suara Kandidat 2018 Data Karateristik “Trend Elektabilitas Tetap” sekitar hampir 6Juta Pemilih Sumsel,” ungkapnya
Lanjut Petrus,” Riset Tokoh Berpengaruh di Sumsel Data Viral di Sosial Media / Cartografi (Unsur Menarik/Beda/Lucu ldentitas Koneksi Partisipasi Perasaan)
Big Data iPol Media Monitoring (Monitoring terkini Pergerakan Trend dan Issue Media Monitoring) Data Hasil Pantauan Pergerakan Jaringan iPol Indonesia (Pengkondisian Tim Pemenangan kandidat, Saksi dan Pergerakan Suara Pasu’ dan
wawancaraPengamanan)
Ditambahkan Petrus,” Alex Noerdin nama yang boleh dibilang menjadi identitas politik Sumatera Selatan. 15 tahun ini nama Alek Noerdin selalu rekat dengan perubahan politik di Sumatera Selatan. Tahun 2008 Alek Noerdin maju dalam Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan melawan Syahrial Oesman Alek Noerdin menang dengan selisih suara kurang dari 1 % dari rivalnya. Tahun 2013 kembali Alek Noerdin maju untuk periode keduanya, lagi-lagi Alek Noerdin memenangi ‘pertarungan’ dari lawan terberatnya Herman Deru dengan selisih suara kurang dari 4 %.,” Imbuhnya
Pemilu Gubernur 2018 ini nampaknya tak jauh beda dengan Pemilu Gubernur Sumsel 2008 dan 2013, artinya Alex Noerdin tetap manjadi faktor menentukan. Namun kali ini Alex Nordien tidak maju dan ‘merekomendasi’ Dodi Reza Alex untuk maju dalam Pemilu Gubernur 2018 menggadeng Giri Ramandha N Kiemas. Pasangan yang mengusung nama besar ayahnya.
Sebagai Lembaga Independen, iPol Indonesia secara cermat juga memberi cara pandang beda terhadap kompetisi Pilgub Sumsel 2018. Meski di Prediksi Doddi unggul melalui IPK (lndek Pemenang Kepala Daerah), secara perolehan suara dan trend terkini yang harus di akui adalah Herman Deru secara potensi elektabilitas masih unggul tipis dari Doddi. Bakal terjadi persaingan suara secara ketat antara Dodi Giri versus Herman Deru Mawardi Yahya di seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Dan pasangan Herman Deru Mawardi Yahya berpotensi unggul tipis untuk memenangi pertarungan dengan meraup 30,64 96 suara kemudian pasangan Dodi Giri mengambil 29,46 96 suara kemudian disusul pasangan Ishak Mekki Yudha 26,74 96 sena posisi akhir diambil pasangan Saefudin Aswari lrwansyah 12,43 96.
Dikatakan Petrus ,” Secara lndeks Pemenang Kepala Daerah, Doddi-Giri Menempati Urutan Pertama dan sangat berpotensi memenangkan Pilgub Sumtera Selatan 2018. Disusul Herman Deru Mawardi, Ishak Mekki Yudha, dan Aswari-lrwansyah. Pertempuran keras terjadi antara DoddiDeru-dan Ishak Mekki yang akan memanfaatkan moment H-1. Prediksi Keunggulan Dodi secara IPK yang bersaing ketat dengan Deru dan Ishak Mekki di kisaran 75.000 Suara atau Meningkatnya suara Dodi di kisaran 31,3596 (1.241.426 Suara), Suara Deru-Mawardi 1.213.197 (30,6496), Suara Ishak Mekki -Yudha 1.058.702 (26,7496) dan Saefudin Aswari -lrwansyah 417.023 (10,53496). ” Tutup Dia
(Sofuan)

