By Alfatih Tjikov
Muktamar NU yang ke 34 telah berlangsung di Lampung dengan membawa angin segar dan keberkahan.
Kita ucapkan Selamat jalan Prof.DR.KH.Said Aqil Siradj (SAS) yang telah menakhodai NU hingga dipenghujung 2021 masa khidmat dengan mulus dan sukses menghantarkan NU bermuktamar ke 34.
Puas tak puas faktanya KH.Yahya Cholil Staquf yang juga aktivis HMI dan mantan Katib Aam PBNU ini terpilih dengan mengantongi suara terbanyak yg signifikan yaitu 337 suara dibandingkan dengan SAS hanya 210 suara .
NU lahir tahun 1926 akan berusia 100 tahun alias satu abad, pas masa khidmat Gus Yahya sebagai Ketum PBNU yg baru 2021 sd 2026 .
Itu berarti kepengurusan PBNU hasil muktamar Lampung yang akan menyiapkan sekaligus mengantarkan Organisasi mengarungi kencangnya arus dinamika memasuki abad kedua usia Nahdlatul Ulama
Lima tahun ke depan pasti tantangannya akan lebih berat . Kepiawaian merawat mengemong dan mengelola serta menjaga internal NU agar tidak mudah terserat hanyut dalam sengketa politik praktis atau politik yang berorientasi pada kekuasaan.
Tidak sampai 3 tahun dari sekarang Republik ini akan menapaki tahun politik. Disitulah titik krusial apakah NU dengan kepengurusan yang terpilih ini mampu menjaga jarak dengan politik kekuasaan sebagai implementasi dari spirit kembali ke khittoh 1926 atau justru masih terperangkap dlm akrobatisasi politik praktis.
Dalam hal ini memang tak sepenuhnya dosa kaum nahdliyin . Organisasi dengan basis kultural seperti NU pasti selalu menjadi sasaran dan inceran para petarung politik , di dalam maupun di luar organisadi, utk menyeret menjadikannya basis kekuatan. Karena itu kepemimpinan menjadi isu penting dan sexy utamanya dalam kaitannya upaya menjaga NU agar tidak mudah didorong ke jurang politik praktis.
Berpolitik tetaplah sebuah kewajaran, bahkan keniscayaan, tetapi jauh lebih bermartabat untuk NU jika mereka melakukan poltik tingkat tinggi ( high politic). Politik berbasis kebangsaan, kerakyatan, persatuan dan politik yang menjunjung tinggi nilai nilai kemanusian dan keadilan.
Jika NU mampu mengatasi dan mengerem lajunya syahwat politik yang berbasis transaksional dan bargaining position yang berjangka pendek itu adalah surprise , membust NU lebih fokus untuk hadapi tantangan lain yang memiliki spektrum waktu lebih panjang.
NU tidak bisa lari dan menganggap remeh arus globalisasi dengan aneka boncengan terutama teknologi informasi (TI) jika NU ingin tetap eksis dan meningkatkan kiprahnya di masa depan.
Warga atau kaum nahdliyin di negeri ini berharap banyak untuk dibela dibantu kebutuhan dan hajat sebagai manusia yang bermartabat ditengah situasi ekonomi kian sulit lapangan kerja makin menjepit, konsentrasi pada isu isu lokal terus direspon.
Namun tetap bermain aktif merespon isu isu global. Kekuatan besar NU harus bisa dimanfaatkan untuk umat secara maksimal. Jika tidak itu berarti kerugian besar dan mubazir. Dan mubazir itu adalah saudaranya Syetan dan tidak itu berati bertolak belakang dengab visi dan nawaitu para pendiri NU nya.
Secara internal kepengurusan PCINU (NU luar negeri) belum banyak dan tidak maksimal dlibatkan, untuk membuat nilai tambah NU mestinya sangat antusias untuk memanfaatkan posisi strategi PCINU ini setidak nya untuk promosi dan sekaligus menjual ide dan gagasan Islam itu Damai.
Seperti kata seorang Indonesianis, Prof. Mitsuo Nakamura dari Chiba University Japan, Dia sungguh tertarik untuk mengkaji Islam Damai ala NU…
Wallahu A’lam Bisshawab 🙏

