Lampung Halosumsel- Udara pagi Rabu, 20 Juli 2022 di Kelurahan Sumur Putri Kecamatan Teluk Betung Selatan cukup sejuk. Tetes embun, di salah satu pusat kota Bandar Lampung itu, masih tersisa di sela-sela dedaunan hijau, bening bak kristal. Masih terlihat jalanan yang basah tersiram air hujan yang turun Selasa malam itu. Sesekali kendaraan roda empat memercikkan genangan air di sisi jalan, sehingga rata menyentuh aspal. Di kejauhan, berbaris kokoh perbukitan yang menutupi biru laut Selat Sunda, pemisah antara Sumatera-Jawa. Nun jauh di sana pula ada penyeberang Bakauheni menuju Merak, sebagai sarana yang digunakan untuk bertemu, sanak-saudara dan handai taulan untuk melepas rindu di dada.
Aktivitas pagi itu bisa jadi akan terukir sebagai catatan istimewa yang bermakna di hati para wartawan yang tergabung dalam Forum Jurnalis Migas, (FJM). Mereka yang berjumlah sekitar delapan puluh orang, diundang khusus berkumpul di Bandarlampung untuk mengikuti rangkaian acara Media Gathering yang diselenggarakan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan (Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Sumbagsel. Ajang tahunan yang sempat tertunda karena pandemi yang melanda Indonesia raya dan dunia.
Suasanapun semakin ramai ketika satu-persatu, para jurnalis mulai berkumpul guna mengkuti kegiatan hari itu. Berbalut T-shirt hijau cerah, topi di kepala, dan sandal rupa-rupa warna dari panitia menjadikan daya tarik sendiri karena padu-padan kontras para peserta. Sebuah simbol sukaria terpancar kasat mata. Aba-aba untuk segera masuk ke dalam kendaraan yang telah tersedia, dipenuhi gelak tawa. Bercanda seolah lupa dengan masalah yang ada terbersit dari jiwa-jiwa yang penat, dahaga untuk bersama dan siaga untuk melepas rutinitas yang ada. “Saatnya kita lupakan masalah. Saatnya kita rehat sejenak,” kata Ketua PWI Sumsel, Firdaus Komar manakala kapal motor mulai berlayar dari Dermaga Ketapang menuju Pulau Harapan (“Hoping Island”). Suaranya yang agak kencang tapi menyentuh itu disambut canda tawa. “Siap ketua. Siapa takut ketua. Ayo ketua, ” jawab para peserta yang kesemuanya merupakan anggota PWI Sumsel seraya tertawa.
Walhasil perjalanan menuju tempat kegiatan ‘fun games’ pertama berlangsung di Pulau Kelapa 60, penuh suka cita. Di sisi pantai pasir putih berbagai permainan digelar, mulai dari meniup balon hingga pecah sebanyak-banyaknya, mengisi air dengan gayung — wadahnya penuh lubang hingga penuh — untuk mengeluarkan bola-bola plastik. Ada juga permainan tak kalah seru seperti joget berpasangan dan ditengahkan ada balon. Balon tak boleh terlepas alapagi pecah. Lucu dan membuat semuanya tertawa lepas. Suasana semakin seru manakala permainan berlanjut dengan menumpangi “banana boat”dan “donat boat” yang ditarik “speed boat.” Permainan ini cukup menantang adrenalin karena “banana boat” (perahu yang berbentuk pisang), pesertanya sekitar delapan orang itu ditarik ke tengah pulau dengan kecepatan maksimal. Pesertanya berteriak-teriak karena hempasan ombak. Begitu juga yang menyaksikan ikut tertawa dan merasakan agak tegang karena kegitu mendekati bibir pantai perahu yang ditumpangi dalam posisi miring sehingga satu demi satu peserta yang telah menggunakan rompi pelampung terjatuh ke dalam air. Permainanpun belum berhenti. Para awak media kemudian dibawa ke tengah pulau Pahawang Besar usai istirahat makan siang. Di sana permainan “banana” dan “donat boat” dilanjutkan kembali. Kali ini semakin seru karena posisinya jauh dari bibir pantai. Suasana semakin seru dan memacu adrenalin peserta. Terlebih ditambah permain di “spot snorkeling” di Kepulauan Pahawang besar. menyelam ke dalam laut dan berfoto pada terumbu karang bertulis ucapan selamat datang di kepulauan Pahawang yang nampak jelas berwarna putih. Permainan ini berlanjut hingga menjelang sore hari. Para peserta seakan enggan berhenti melakukan petualangan di laut Pahawang. Mereka sangat menikmati kebersamaan yang ada. Tak ada jarak, tak ada batas antara Tim Humas SKK Migas Sumbagsel, dan “Searah” yang menjadi penyelenggara dan Media. Semuanya menyatu dan kompak.
Apalagi saat Abror mengalami keram pada bagian kaki, setelah bermain banana boat. Dia susah untuk berenang menepi. Tubuh Abror yang tambun, timbul-tenggelam di air laut. Dia terlihat susah bergerak. Bernafaspun ngos-ngosan. Namun kerjadian ini tak berlangsung lama. Semuanya terlihat kompak dan bergerak.cepat membatu Abror. Ada beberapa orang mendorongnya ketepi, mengangkat tangan dan menarik tubuhnya.
Andika Kusuma salah satu dari Tim Searah’ sigap mengambil kotak obat. Kaki Abror dari Media Wideazone.com itu terluka terkena terumbu karang. Dalam suasana yang “emergency” itu secara spontanitas semuanya berinisiatif. Ada yang membersihkan darah, meneteskan obat luka, memijat tubuh hingga berdoa. Sebuah ekpresi kekompakan yang langka berlangsung dipelupuk mata. Suasanapun menjadi haru-biru setelah melihat Abror segar dan sehat kembali. Kapokkah Abror berpetualang di laut Pahawang? “Tidak. Jika ada kesempatan lain waktu saya akan ke sini lagi, menyaksikan putihnya pasir timbul di sisi pantai. Naik “banana boat” dan dihempas ombak, serta “snorkeling” yang belum sempat saya lakukan,” katanya
Kepala Humas SKK Migas Sumbagsel, Andi Arie Pangeran menyebut adalah sebuah hubungan simbiosis yang menarik antara SKK Migas dan Forum Jurnalistik Migas, (FJM). “FJM tdak hanya sebatas mitra hulu migas dalam menyampaikan informasi dan perkembangan terakhir. Namun juga wadah dalam mempererat tali silaturahmi. Melalui media gathering antara Hulu Migas dan wartawan akan terjalin suasana yang lebih dekat dan akrab,” kata Arie panggilan dekatnya.
Atas usulan SKK Migas, FJM ini dibentuk pertama kali di Batam. Sekitar tujuh tahun lalu, kata Ketua FJM Oktaf Riadi, wadah ini didirikan. Tujuannya selain memberikan informasi dan kemajuan industri hulu Migas serta menambahkan dan pengetahuan. Di sisi lain memperluas wawasan, kebersamaan dan ajang silaturahmi.
Kendati demikian, bukan berarti tidak kiritis terhadap kinerja Hulu Migas yang perlu dikoreksi. “Ada kesalahan di lapangan tetap diberitakan. Jadi FJM tidak membatasi ruang gerak wartawan didalamnya,” demikian menurut Oktaf.
Cuaca menjelang sore hari di Kepulauan Pahawang Besar mulai tertutup mendung. Hujanpun turun perlahan. Semilir dinginnya angin yang bertiup dan menyapa badan yang dalam kondisi basah kuyup menjadi cerita istimewa lainnya dalam perjalanan kami kembali ke Dermaga Ketapang.
Apa yang dilakukan Abror sama dengan seperti yang saya rasakan, mengikuti semua permainan yang ada dengan kondisi badan basah kuyup. Semuanya diikuti dengan sepenuh hati, penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan. Diikuti agar tak terbersit ada penyesalan di hati.
Curah hujan masih terus menerus turun. Sesekali obak mengayunkan kapal motor yang kami tumpangi. Perlahan wajah Pulau Pawahang hilang dari pandangan mata. Ada rasa sedih di dada dan gumaman kecil di hati, entah kapan saya akan kembali lagi.
FJM, SKK Migas dan KKKS, adalah wadah yang menyatukan kami dengan alam dalam petualangan sehari yang penuh kesan
FJM, SKK Migas dan KKKS Sumbagsel adalah wadah yang menyatukan kami dengan alam dalam petualangan sehari yang penuh kesan
Dalam kalbu hati ini, sayapun berharap sinergitas antara media, dan Industri Hulu Migas yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, akan selalu terpelihara dalam satu harmoni yang saling menguntungkan. Menyampaikan informasi, menambah pengetahuan dan membantu negeri ini, melalui goresan pena sehingga masyarakat turut menikmati hasil pembangunan yang ada. (Ida Syahrul)


