Palembang Halosumsel-“Kerukunan Iwari Rasuan (Kiras). Lama tak terdengar dan seolah mati suri. Nihil kegiatan padahal didalamnya terhimpun nama-nama besar yang disegani dan dihormati. Saya merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali wadah ini. Kehadiran saya sebagai ketua, mudah-mudahan akan bermanfaat bagi keluarga besar Rasuan. Mari kita aktifkan kembali, wadah berhimpun dan bersilaturahmi warga Rasuan ini.”
Pernyataan di atas memgawali obrolan saya dengan Ketua Kiras Periode 2022-2025, Ir H Syaiful Bahri MSi, Selasa (24/8) siang. Mengenakan kemeja abu-abu kombinasi putih dan celana jeans, alumni Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) nampak santai. Sesekali dia mengangkat telepon genggamnya yang tak henti berdering.
Minggu lalu ( 21/8) saya bersama segenap pengurus lainnya dikukuhkan Ketua Dewan Penasehat Kiras Brigjen (Pur) H Thobroni HS untuk memimpin Kiras tiga tahun ke depan. Awalnya saya keberatan karena banyaknya organisasi lain yang saya pimpin. Namun karena merasa terpanggil saya akhirnya menyetujui permintaan para sesepuh Rasuan. Saya tahu selama ini Kiras tidak ada kegiatan. Sebagai orang Rasuan dan dilahirkan di desa saya merasa malu. Kiras sudah didirikan tapi cuma ada nama tidak ada kegiatan. Hal ini tentu saja harus dihindari. Untuk itu saya mengajak semuanya mari berembuk. Berhimpun dan juga bersilaturahmi melalui Kiras.
Ke depan beberapa program prioritas yang telah disusun dalam jangka pendek dan menengah. Diantaranya pembentuka. Kordinator Kiras Kecamatan se kota Palembang. Kiras di setiap kecamatan harus ada sebagai perpanjangan tangan kita. Jika seandainya ada musibah kordinator Kiras kecamatanlah yang maju duluan. Mulai dari memberikan informasi hingga santunan.
Kegiatan lainnya pada jangka pendek, Kiras akan menggelar mudik bersama, dalam rangka bersih-bersih Rasuan. Dengan tajuk “Sidokah Tiuh” (Sedekah Dusun) kegiatan ini akan berlangsung dalam waktu dekat. Sedekah dusun ini sebagai wujud syukur seraya berdoa bersama. Sebebetulnya kegiatan ini sudah lama direncanakan namun karena kesibukan dan pandemi jadi tertunda.
Sementara program menengah diantaranya menelusuri jejak turun-temurun keluaga Rasuan. Jadi si A anak siapa dari keturunan mana dan seterusnyam. Jika ini selesai akan dituangkan dalam bentuk buku sissilah Keluarga Warga Rasuan.
Saya menyadari apa yang menjadi program saya ke depan tidak akan terwujud tanpa dukungan jajaran pengurus dan warga Rasuan. Untuk itu saya mohon bantuannya. Kiras itu milik kita semu. Saya juga berharap generasi muda Rasuan mengembalikan marwah organisasi ini. Memeliharanya dan meramaikannya dengan berbagainkegiatan, sehingga tidak kalah dengan organisasi desa lainnya. Kiras ini penting khususnya generasi muda Rasuan. Kami-kami ini akan semakin tua, jadi jika tidak yang muda siapa lagi. Kami.khawatir nama Kiras bisa hilang,” kata pria kelahiran Rasuan 20 September 1961 ini. Ida Syahrul

