HaloSumsel, Daluhu memang masyarakat di perkampungan, sakit mata bukanlah perkara mendesak. Selama masih bisa melihat, selama perihnya masih bisa ditahan, gangguan pada mata kerap dianggap sepele.

Ketika bangun tidur mata terasa lengket, sulit dibuka, atau pandangan mulai kabur, orang-orang mencari pertolongan—sering kali bukan ke tenaga medis, melainkan ke pengobatan tradisional.

Bahkan kain basah menjadi alat andalan untuk membersihkan kotoran mata. Sebagian lainnya memilih “ditunggu saja sampai sembuh sendiri”.
Kebiasaan ke kebiasaan tersebut tanpa disadari menyimpan risiko besar bagi kesehatan penglihatan.

Kesemuanya itu tidak lain kerena ninimnya pengetahuan menjadi akar persoalan. Ditambah lagi akses terhadap dokter spesialis mata di wilayah perkampungan masih terbatas, sementara edukasi tentang pentingnya kesehatan mata belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Akibatnya, gangguan ringan yang seharusnya mudah ditangani justru berkembang menjadi masalah serius.
Salah satu kondisi yang paling sering luput disadari adalah mata kering. Gejalanya tampak sederhana: mata terasa sepet, perih, cepat lelah, atau seperti ada pasir di dalamnya.

Namun justru karena dianggap sepele, banyak orang mengabaikannya.
Padahal, jika dibiarkan, mata kering dapat memburuk dan memicu kerusakan permukaan mata. Risiko ini semakin besar pada masyarakat yang beraktivitas di lingkungan berdebu, terpapar asap, atau terlalu lama menatap layar tanpa istirahat.

Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, menuturkan bahwa pasien mata kering termasuk yang paling banyak datang ke klinik, namun sering kali dalam kondisi yang sudah cukup berat.

“Sebagian besar pasien sebenarnya sudah merasakan keluhan sejak lama, seperti mata terasa perih dan lelah. Namun karena tidak sadar itu adalah mata kering, mereka datang saat kondisinya sudah memburuk,” ujarnya.

Menurut Dr. Eka, mata kering tidak bisa disamaratakan. Setiap orang memiliki penyebab dan tingkat keparahan yang berbeda, sehingga penanganannya pun perlu disesuaikan.

Penanganan dini menjadi kunci agar kondisi tidak berkembang lebih serius.
Penanganan mata kering bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti kompres hangat, menjaga kebersihan kelopak mata, latihan berkedip, hingga penggunaan tetes mata sebagai pengganti air mata alami. Pada kondisi tertentu, asupan nutrisi penunjang juga dibutuhkan. Bahkan, dalam kasus berat, tindakan medis lanjutan dapat menjadi pilihan terakhir.

Seiring berkembangnya teknologi dan arus informasi, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mata perlahan mulai tumbuh. Media digital dan kemudahan akses informasi membuat masyarakat lebih mengenal cara merawat mata, termasuk penggunaan obat tetes mata yang aman.

Berdasarkan sumber dari Halodokter untuk mentasasi dan merawat mata adalah Insto.

Produk yang banyak dikenal adalah Insto ada dua jenis Insto Reguler dan Dry Eyes.

Varian Insto Reguler digunakan untuk membantu meredakan mata merah dan iritasi ringan akibat debu, asap, atau angin.

Sementara Insto Dry Eyes diformulasikan untuk membantu mengatasi rasa tidak nyaman akibat kurangnya air mata, terutama pada kondisi lingkungan kering atau aktivitas menatap layar terlalu lama.

Meski mudah didapat, para ahli mengingatkan bahwa obat tetes mata bukan solusi tunggal. Penggunaan harus sesuai aturan dan tidak berlebihan. Jika keluhan tidak membaik atau justru bertambah berat, pemeriksaan ke dokter tetap menjadi langkah paling aman.
Cerita tentang gangguan mata di perkampungan sejatinya bukan soal kurangnya obat, melainkan kurangnya kesadaran. Selama mata masih dianggap “tidak apa-apa” sebelum benar-benar bermasalah, risiko kehilangan kualitas penglihatan akan terus mengintai secara diam-diam.

Menjaga mata bukan sekadar soal melihat hari ini, tetapi tentang memastikan cahaya esok hari tetap bisa dinikmati.

Namun ingat Insto hanya perawat dan pencegahan tetapi bila sakit terus berlanjut periksa ke dokter spesialis mata.(Ujang dari Berbagai sumber/Foto Surabaya Eye Clinik)