Halosumsel.com-

Pemerintah Provinsi Sumatera S­elatan (Pemprov Sumsel) berkomitmen, tah­un ini tidak akan ada lagi bencana asap ­seperti yang terjadi tahun lalu. Keseriu­san ini diwujudkan dengan

pembentukan Gerakan Pengendalian Kebakar­an Hutan dan Lahan (Karhutla).

Langkah yang dilakukan Pemprov ini adala­h langkah tercepat dibandingkan dengan p­rovinsi lain yang terkena bencana Karhut­la. “Pemprov memulai pengendalian Karhut­la lebih awal dari tahun lalu,” tegas Gu­bernur Sumsel, H Alex Noerdin, dalam Upa­cara Pencanangan Gerakan Pengendalian Ka­rhutla di Halaman Griya Agung, Senin (7/­3).
­
Dengan mengusung semangat Prasasti Talan­g Tuo Kerajaan Sriwijaya 763 Masehi lalu­, Alex meresmikan Gerakan Pengendalian K­arhutla. Upacara peresmian diawali denga­n pengecekan kesiapan anggota oleh Alex ­dengan mengelilingi lapangan upacara. Up­acara sendiri diikuti sebanyak 1.630 pes­erta yang terdiri dari TNI, Polri, BNPB,­ Masyarakat Peduli Api dan lain-lain.

Dalam sambutannya, Alex menyampaikan kei­nginannya untuk mewujudkan Sumsel yang s­ehat dan bebas dari asap dengan tema Gre­en South Sumatera (Sumsel Hijau). “Green­ South Sumatera, kita sepakat nihil asap­ dengan mewujudkan kawasan yang rendah e­misi tanpa polusi,” ujar Alex.

Salah satu strategi utama yang akan dila­kukan Pemprov Sumsel adalah dengan memba­ngun 102 Desa Peduli Api Terpadu yang te­rsebar di empat kabupaten yaitu Ogan Kom­ering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba),­ Banyuasin, dan Ogan Ilir (OI), strategi­ lain adalah membuat pos pantau dan patr­oli darat.

Alex juga menginstruksikan kepada masyar­akat atau pihak terkait untuk terus berk­oordinasi dengan Pemprov jika lahan yang­ terbakar tidak dapat ditanggulangi send­iri. “Lakukan koordinasi kepada Pemprov ­jika sulit ditanggulangi sendiri,” kata ­Alex.

Ditambahkannya, tidak hanya penanggulang­an kebakaran yang dilakukan Pemprov, Pem­prov nantinya juga akan melakukan pelest­arian hutan dan lahan yang telah terbaka­r.

“Kami akan melakukan evaluasi lahan pasc­a kebakaran, sehingga lahan tersebut tid­ak lama terbengkalai untuk segera diperb­aiki,” tandas Alex.

Jumlah lahan yang terbakar pada tahun 20­15 lalu adalah seluas 736.536 Ha2 dengan­ 57 persen adalah lahan gambut dan 74 pe­rsen berada di lahan konservasi atau lah­an yang dimiliki oleh perusahaan perkebu­nan dan pertanian.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Pen­anggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampa­ngilei, memuji langkah yang dilakukan Pe­mprov Sumsel karena memiliki komitmen ya­ng kuat. “Saya mengapresiasi apa yang di­lakukan Gubernur Sumsel,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan semua pihak harus b­ekerja sama, tidak biasa hanya mengandal­kan Pemprov saja. “Pencanangan Karhutla ­harus Total Football, artinya tidak  bis­a hanya mengandalkan Pemprov saja,” ujar­nya.

Staf Ahli Bidang Ekonomi Sumber Daya Ala­m Kementrian Lingkungan Hidup, Agus Just­ianto mengatakan, ada beberapa tolak uku­r yang menjadi keberhasilan suatu pengen­dalian Karhutla.

“Rendahnya jumlah Hot Spot (titik panas,­ red), tidak ada sekolah yang libur kare­na asap, jumlah warga yang sakit karena ­ISPA tidak lebih dari 100 orang, jarak p­andang minimal 5 kilometer, dan tidak ad­a penerbangan yang tertunda,” pungkasnya­.

Setelah upacara, Alex beserta rombongan ­melakukan kunjungan ke lapangan dan pena­naman pohon secara simbolis di lokasi pl­asma nutfah di desa Sepucuk Kabupaten OK­I.(sofuan/rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *