Palembang Halosumsel- Telah tercatat dalam sejarah, sejak era kemerdekaan hingga kini Minyak dan Gas Bumi (Migas), memegang peranan penting dan menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Eksistensi Migas bahkan sudah hadir di masa penjajahan Belanda dan Jepang kendati belum sepenuhnya dikuasai negara.

Salah satu bagian dari sejarah kejayaan Migas kita pada masa lalu, hadirnya perusahaan minyak berbendera Pertamina. Perusahaan plat merah ini, pada masa keemasannya menjadi kebanggaan bangsa. Terlebih para karyawan dan keluarganya yang hidup dari fasilitas yang disediakan perusahaan. Mereka turut kecipratan jatah hidup hingga peyanan kesehatan dan menikmati liburan yang disiapkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini.

Kendati Pertamina tidak seperti dulu lagi, seiring semakin terbatasnya energi tak terbarukan ini, namun cerita tentang melimpahnya minyak dan gas bumi kita pada masa lalu, masih sering terdengar dan diceritakan tokoh-tokoh yang hidup di masanya.

Dibalik energi hasil bumi ini dapat dinikmati masyarakat, tidak banyak yang tahu bahwa usaha industri Hulu Migas merupakan kegiatannya penuh dengan resiko tinggi terutama di bidang finansial. Biaya eksplorasi dan ekspoloitasinya membutuhkan cost yang tak sedikit. Adalah wajar jika kegiatan mencari sumber minyak baru seperti halnya bertaruh di meja judi. Sia-sia tenaga, biaya dan waktu, jika hasilnya tidak seperti angan-angan dan harapan.

Mengingat biaya tinggi dan keterbatasan pemerintah, maka negara membutuhkan partner atau operator yang berperan sebagai kontraktor. Kontraktorlah yang dibebani tugas dan tanggung jawab untuk melakukan eksplorasi dan ekploitasi serta menanggung semua resiko yang terjadi. Pemerintah menunggu hasil tanpa meluarkan biaya.

Dalam operasi melakukan pencarian minyak hingga memperoleh hasil. Masyarakat disekitar proyek yang secara langsung mengetahui dan merasakan dampak dari kegiatan yang ada. Dampak secara ekonomi dan sosial sehingga terjalin hubungan timbal-balik yang menguntungkan bagi masyarakat maupun kontraktor.

Kegiatan industri Hulu Migas di Sumbagsel pada satu dekade terakhir, terutama sejak kehadiran Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) yang mengawasi (Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lembaga ini berupaya menjalin hubungan yang sinergis dengan pihak-pihak terkait pemangku kepentingan diantaranya media.

Media yang merupakan salah satu ujung tombak pembangunan kata Prof Isnawijayani dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bina Dharma (UBD) Palembang, memang penting dan harus digandeng SKK Migas dan KKKS dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Alasannya, menurut dia, karena dari media kita mendapatkan banyak masukan serta saran maupun kritikan yang dapat dijadikan sebagai skala prioritas pembangunan dan sebagai kontrol dalam melaksanakan kegiatan.

Dia menyambut baik adanya Forum Jurnalistik Migas (FJM) agar terjalin hubungan yang positif. Melalui forum semua kegiatan dan informasi terbaru dapat disampaikan kepada masyarakat.

Hanya saja karena saat ini terdapat banyak media, terutama online, Prof Isna wijayani, mengharapkan pihak penyelenggara industri hulu Migas dapat lebih membekali media dengan pengetahuan jurnalistik dan ilmu pengetahuan tentang Migas secara lebih mendalam. “Kalau dulu ada yang namanya “in house training” saya menyarankan program ini diadakan lagi agar pengetahuan wartawan itu bertambah. Kecenderungan yang ada wartawan sekarang malas belajar, sok pintar, suka “copy paste. “Jadi di “in house training” mereka dibekali lebih banyak ilmu baik yang kekinian maupun ilmu menulis yang benar. In house training untuk lebih meningkatkan kapasitas berita dan cakupan pengetahuan yang lebih luas,”kata Prof Isna, panggilan dekatnya.

Kepada pihak SKK Migas Sumbagsel dan KKKS, Prof Isna berharap agar apa yang perlu diinformasikan kepada masyarakat jangan disimpan sehingga terjadi “good will and understanding.”

” Apa apa yang perlu diinfokan jangan disimpan. Dalam periode tertentu harus juga melakukan pelatihan menulis. Tiga hari atau paling lama seminggu. Langsung praktek. Wartawan harus banyak belajar jangan merasa pintar sendiri,” katanya

Praktisi Pers yang juga Anggota Komisi Penyiaran Indonesia, (KPI) Sumsel, Hasandri menyambut baik adanya FJM. Dia menilai kehadiran forum-forum wartawan merupakan hal yang positif dan manfaatkan untuk mengedukasi masyarakat. Menyampaikan informasi baru serta media silaturahmi.

Kehadiran forum dia ibaratkan seperti dua sisi mata uang. Satu sama lain saling ketergantungan dalam arti positif. Namun demikian wartawan tetaplah harus menjaga marwah pers dan mengedepankan profesionalisme. “Jadikan hubungan sebagai anggota FJM dan sebagai wartawan harus dibedakan. Bila berhubungan dengan lembaga pers kita tetap profesional. Jangan sampai mengekang kreativitas dengan keseragaman berita. Kawan-kawan media tidak harus bermurah hati, takut tidak diajak lagi jika memberitakan hal yang salah,” kata Hasandri

Forum apapun itu namanya, jangan sampai terkesan membuat media berhutang budi, profesionalitas berkurang, dan kinerja menjadi kurang profesional. Apalagi saat ini banyaknya media online yang hanya bertugas menayangkan berita cepat saat itu juga.

Sejatinya menurut Hasandri, gol dari forum-forum media itu tetaplah mengedepankan sampainya informasi kepada masyarakat, mengedukasi, mengkritisi dan mengoreksi hal-hal yang salah. Tugas forum yang jangan dilupakan mengembalikan dan menjaga ruh jurnalistik yang sebenarnya.

Adanya forum wartawan yg dibentuk oleh lembaga-lembaga tertentu saat ini sebetulnya, kata Pengamat Pers dan Lingkungan yang juga Pembantu Dekan II, Universitas Islam Negeri (UIN) Palembang DR Yenrizal Tarmizi, tidak ada masalah selagi wartawan dalam forum tersebut bisa menempatkan diri. Sah-sah saja, karena forum itu wadah. Hanya saja dalam menyampaikan informasi terkait adanya ikatan dalam forum, wartawan harus menyampaikan sesuai fakta. Harus cek dan cek ulang sehingga bisa memperkuat fakta yang ada karena itu merupakan prinsip dasar harus dipatuhi. Harus ada keseimbangan, minimal dua nara sumber yang harus dihubungi, sehingga berita yang dimuat berimbang.

Begitupun FJM, adanya forum kata Yenrizal jangan sampai mengganggu profesionalitas. Misalnya bisa membendung komplik kepentingan. Dia mengakui pesatnya perkembangan informasi dan media saat ini, pembaca tidak lagi harus menunggu sampai besok suatu berita, namun sudah disuguhkan saat itu juga. Sayangnya perkembangan tersebut tidak dibarengi dengan kemampuan jurnalistik wartawan itu sendiri.

Untuk itu dia berharap SKK Migas dan KKKS dapat lebih memberikan edukasi. Apalagi yang tergabung dalam FJM itu mayoritas wartawan muda. Butuh skill dan kemampuan menulis dan mengedit secara langsung karena jurnalis yang baik itu tidak bisa langsung jadi, harus ada proses formal atau informal. Intinya seorang jurnalis harus siapkan diri dari awal. Memang harus ada proses dan tidak cepat. Kecenderungan saat ini banyak media baru yang muncul namun banyak produk yang dihasilkan tidak memenuhi kaidah jurnalistik, sehingga banyak yang copy paste. Belajar dan memberikan ilmu bagi wartawan FJM sehingga sinergitas dapat terwujud. Informasi yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna. “Jika ada rilis jangan “ditelan” bulat-bulat tetapi sebagi acuan dan harus konfirmasi. Belajar itu tidak ada batas usia dan pendidikan pada wartawan muda terutama itu penting. Lembaga pers juga punya instrumen untuk selalu mengawasi dan membatasi. Uji kompetensi itu salah satu usaha untuk.membatasi, kata Yenrizal
Keberadaan FJM, menurut Ketua PWI Sumatera Selatan, Firdaus Komar merupakan sarana untuk meningkatkan silaturahim dan pengetahuan terkait dengan perkembangan media saat ini. FJM Menjadi wadah meningkatkan profesionalisme wartawan. Dia berharap ke depan acara-acara peningkatan kualitas wartawan perlu ditingkatkan.

Ihwal keberadaan FJM yang dibentuk SKK Migas menurut Kepala Humas SKK Migas Sumbagsel, Andi Ari Pangeran adalah sebuah hubungan simbiosis yang menarik

Andi Arie, selaku ujung tombak perusahaan memandang FJM sebagai mitra hulu Migas dalam menyampai informasi kepada masyarakat mengenai perkembangan, dan berita-berita baru. “Tentu ini hal yang menarik bagi SKK Migas KKKS. Tetunya kami mengharapkan teman-teman FJM untuk dapat menyebarkan informasi secara akurat dan hubungan silaturahmi yang baik. Tujuh tahun FJM dibentuk dapat meningkatkan kadar kedekatan dan keeratan dengan SKK Migas. SKK Migas ingin memiliki peran sebagai perpanjangan tangan pemerintah dan membawa misi agar media dapat memenuhi aturan dan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, kami juga sangat ingin terlibat dalam perkembangan media dan jurnalis sehingga kami memprogramkan secara rutin agenda-agenda pembekalan baik dalam program UKW (Uji Kompetensi Wartawan) maupun soft skill dan lainnya. Sudah tentu bersama nara sumber-nara sumber yang sesuai kebutuhan sehIngga menjadi hal yang dapat meningkatkan silaturahmi antara FJM dan Hulu Migas,” kata Arie.

Dia mengakui selama tujuh tahun berjalan tidak terjadi benturan antara FJM dan SKK MIgas. Untuk memperdalam pemberitaan pihaknya senantiasa mencantumkan kontak disetiap penyampaian berita dalam bentuk rilis.

Adanya “in house training” merupakan usulan yang bagus dan dapat menggandeng FJM dalam menerima pembaharuan informasi dan perkembangan-perkembangan terbaru untuk sama sama disimak. “Kami juga menerima usulan dengan memperhatikan kemampuan penganggaran yang ada K3S dan Hulu Migas usulan bagus untuk diadakan pembekalaan yang kita lakukan baik secara online atau tatap muka. Esensinya lebih kepada konten sehingga bila ada konten dan bahan yang bisa yang ingin diketahui akan menjadi manfaat untuk kita semua,” kata Arie

Untuk mencapai efek berganda Hulu Migas ada beberapa, namun yang paling besar itu, kata Arie menjadi penggerak roda perekonomian daerah yang bisa berasal dari kegiatan hulu migas itu sendiri. Kalau kita lihat beberapa kegiatan Migas bisa memancing pertumbuhan daerah bahkan ada yang menjadi kota sendiri sebagai contoh kota Prabumulih dan Balikpapan. Dua kota ini berasal dari kegiatan Hulu Migas, dimana tadinya yang bekerja hanya ada orang-orang Hulu Migas. Mereka datang dan menjadi magnit bagi yang menjual makanan. Sandang pangan berkembang infrastruktur sampai tadi ke BPH Migas. Ini semua menjadi hal yang positif bagi kemajuan satu daerah.

Hubungan ini dapat memberikan outcome seperti yang diharapkan dan berperannya media akan lebih jeli memperhatikan apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat. Semua itu terpenuhi dengan hadirnya teman teman KKKS di daerah operasi. Tentunya ini menjaga satu hubungan yang baik antara kita sendiri sebagai Indonesia dan juga rekan-rekan pelaku Hulu Migas yang kebanyakan dari luar negeri. Industri Hulu Migas merupakan kegiatan padat karya, padat teknologi dan karasteristik.

Disisi lain tentu saja tentu saja perlu hubungan yang harmonis antara Hulu Migas dan masyarakat, serta elemen yang ada di daerah termasuk kerjasama dengan pemerintah setempat. Dalam segala hal yg dilakukan KKKS dan SKK Migas bersinergi, bahu-membahu dan berkolaborasi antara masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan media,” demikian Arie.

Sebagai bentuk kontribusi bagi daerah dari kegiatan Hulu Migas di tahun 2022 ini Sumatera Selatan menerima Dana Bagi Hasil Migas (DBH) sebesar Rp 2,028 triliun lebih. Meningkat jika dibanding 2021 diangka sebesar Rp 1,195 triliun. Sementara dana KKKS Sumbagsel untuk kegiatan di 2022 sebesar 6,201 juta dolar meningkat dibanding tahun lalu 4,975 juta dolar. Dukungan idustri Hulu Migas bagi pembangunan daerah ini, kata Arie, dialokasikan selain untuk DBH, pajak, CSR (Corporate Social Responsibility) dan tenaga kerja lokal serta beberapa kepentingan lainnya.

Sinergitas Media dan Industri Hulu Migas, adalah kata kunci keberhasilan menuju satu gol, yakni efek ganda yang dicanangkan SKK Migas dan KKKS untuk kemakmuran masyarakat.

Sebagai bagian dari FJM Sumatera Selatan saya berharap SKK Migas da KKKS Sumbagsel terbuka atau membuka pintu bahkan berisiniatif menyediakan informasi terbaru termasuk rencana ke depan. Ada sekretariat bersama, membuat kegiatan outdoor bersama dan coffee morning. Melalui kegiatan ini ada forum diskusi bersama, untuk menyampaikan masukan dan kritik membangun untuk kemajuan Industri Hulu Migas (Ida Syahrul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *