Pak Sugarno (58 tahun) perlahan mengendarai mobil angkot miliknya. Mini bus merah metalik itu membawa kami menuju salah satu lokasi Wisata Apel Kota Batu Malang, Jawa Timur.

Semilir angin perlahan membawa saya dan teman-teman melaju ke tempat tujuan. Udara kota Malang Senin pagi (21/11) cerah berawan namun sejuk terasa di badan. Iringan awan di atas kota yang dikelilingi gunung ini sudah terlihat abu-abu gelap. Pertanda Malang akan segera di guyur hujan.

Sambil menyetir mobil angkot hadiah putra-putrinya, Pak Sugarno bercerita singkat kepada saya tentang Kota Batu Malang. Bahwa kota Batu memang banyak terdapat wisata apel. Untuk sampai ke kota Batu katanya bisa ditempuh selama sekitar 45 menit atau sekitar 90 km dari kota Malang dengan catatan waktu 45 menit itu jika kita ke lokasi wisata dalam kondisi tidak macet alias hari biasa. Namun di saat hari libur seperti Sabtu dan Minggu untuk sampai ke tempat ini bisa menghabiskan waktu 1 hingga 2 jam berkendaraan roda empat.

Jalan menuju kota Batu berbukit sehingga kian mendekati lokasi tanaman apel milik rakyat ini, semakin menanjak dan kecepatan mobilpun harus ditambah.
Semakin dekat, akan terlihat bukit yang hijau di kejauhan. Pemandangan terlihat cantik dan asri karena rumah-rumah penduduk disekeliling bukit yang menyatu dengan alam.

Tak terasa kami sudah tiba di lokasi terdekat wisata apel. Tepatnya di desa Junggo, Kelurahan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Wisata petik apel kata Pak Sugarno, memang kebanyakan terdapat di Kota Batu.

Tiba di desa Junggo, kami disambut pemandu kebun dengan ramah. Namanya Faridi. Lewat pengeras suara Faridi mrnyambut kami dengan ucapan selamat datang. Dengan ramah dan aksen khas Jawa Faridi bercerita jika kebun-kebun apel di sini mayoritas milik rakyat setempat namun dikelola layaknya sebuah perkebunan yang profesional. Dipelihara, dijaga dan dipupuk sehingga tidak ada musim untuk memetik apel. Jadi sepanjang tahun kita bisa memetik apel di tempat ini secara mandiri. Layaknya kebun sendiri.

Faridi menuturkan ada lima jenis apel yang terdapat di Batu. Masing-masing Apel Manalagi, Apel Rome Beauty, Apel Granny Smith, Apel Anna dan Apel Wanglin. Tiap jenis apel memiliki rasa dan tekstur daging buah yang berbeda.

Wisata Petik Apel mandiri di Junggo adalah tempat yang paling banyak dikunjungi. Apalagi apel madu yang dipetik sendiri itu manis rasanya kendati buahnya kecil. Di sisi lain, apel ini tahan lama dan bisa awet hingga satu bulan jika tidak masuk dalam lemari pendingin.

Sambil terus bercerita, Faridi bertutur tempat ini buka sejak jam 07.00 pagi hingga pukul 17.00 sore.

“Monggo mbak-mbak dan mas-mas silahkan dipetik apelnya. Dimakan sebanyak-banyaknya, enggak apa-apa. Apel kita disinj bisa langsung dimakan karena tidak mengandung pestisida. Jadi aman untuk langsung dikunsumsi,” katanya ramah.

Selain makan sepuasnya Faridi sudah menyiapkan kantong plastik sebagai wadah untuk memetik apel. Nantinya apel yang sudah kita petik akan ditimbang dengan harga Rp 25.000 per kilogram.

Wisata petil apel ini, menjadi salah satu ‘jualan’ kota Malang dalam memanjakan wisatawan yang datang ke kota ini. Tidak termasuk wisata lainnya yang juga istimewa. Apalagi baksonya. Selama ini saya makan bakso Malang di kota lainya termasuk di tempat tinggal saya, Palembang. Anehnya, saya tidak menemukan tulisan ‘Bakso Malang’ disepanjang jalan atau pusat kota Malang. Sama halnya ‘Pempek Palembang’ di kota Palembang atau ‘Rumah Makan Padang’ di kota Padang. Hal istimewa lainnya, keramah-tamahan warga Malang yang menjadikan saya senang datang ke kota ini.

Suara Faridi, semaki lama maki kecil karena kami sudah beranjak dari Junggo untuk pergi ke tempat lain. Tentu saja masih ditemani angkot milik pak Sugarno.

Kendati memetik apel tidak lama saya nikmati, namun Junggo telah terpatri di sanubari sebagai tempat yang layak untuk mengajak sanak-saudara berkunjung ke tempat ini.

Udara siang Malang hari itu masih terasa nyaman. Apalagi hujan turun perlahan dan menyisakan genangan air di sisi jalan. Di kejauhan terlihat bukit Kota Batu yang seolah menyampaikan pesan, kapan datang ke Batu lagi. Apel Manalagi siap menanti.

Porwanas (Pekan Olahrga Wartawan Nasional) XIII telah membawa saya ke tempat ini. Perjalanan Palembang-Malang dua hari satu malam yang melelahkan itu seolah sirna dan hilang penatnya manakala mengigit manisnya Apel Madu dari Bumiaji. Terimakasih Malang, kelak saya akan ke sini lagi tentu saja disambut keramah-tamahan warga kendati dalam suasana yang berbeda. (Ida Syahrul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *