Palembang, Halosumsel- Jum’at 14 Maret 2025 Kehidupan perkotaan seringkali diwarnai oleh fenomena sosial yang kompleks, salah satunya adalah keberadaan Anak Jalanan (Anjal) dan Badut Lampu Merah yang menjadikan aktivitas di persimpangan jalan sebagai sumber penghasilan baru. Fenomena ini mencerminkan ketidakmerataan akses ekonomi dan kurangnya perhatian terhadap kelompok marginal di perkotaan.
Menurut Dr. H. Mohammad Syawaludin, MA, dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, keberadaan Anjal dan Badut Lampu Merah merupakan respons terhadap kondisi ekonomi dan sosial tertentu. “Mereka memanfaatkan ruang publik seperti lampu merah sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujar Syawaludin dalam artikelnya yang berjudul *Di Lampu Merah: Potret Anjal dan Badut di Perkotaan*.
Anjal biasanya meminta sumbangan atau menjual barang kecil seperti tisu atau minuman, sementara Badut Lampu Merah menghibur pengendara dengan atraksi sederhana seperti juggling atau menari. Aktivitas ini menjadi sumber penghasilan baru yang mereka ciptakan sendiri, meskipun sering kali dianggap sebagai gangguan oleh sebagian masyarakat.
**Stigma dan Dampak Sosial**
Keberadaan Anjal dan Badut Lampu Merah sering kali dianggap mengganggu ketertiban umum dan menimbulkan stigma negatif dari masyarakat. Namun, penting untuk memahami bahwa fenomena ini tidak dapat dipisahkan dari konteks ketidakmerataan ekonomi dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap kelompok marginal.
“Label negatif seperti ‘jorok’, ‘nakal’, atau ‘pengganggu’ dapat mempengaruhi cara mereka diperlakukan oleh masyarakat dan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri,” jelas Syawaludin. Stigma ini dapat mempengaruhi peluang mereka dalam mendapatkan pekerjaan formal, akses pendidikan, dan interaksi sosial lainnya.
**Teori Konstruksi Sosial dan Dramaturgi**
Syawaludin menjelaskan fenomena ini melalui teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, serta teori Dramaturgi yang dikembangkan oleh Erving Goffman. “Teori konstruksi sosial menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk melalui interaksi dan kesepakatan bersama dalam masyarakat,” ujarnya.
Dalam konteks Anjal dan Badut Lampu Merah, individu-individu ini muncul sebagai respons terhadap kondisi ekonomi dan sosial tertentu. Melalui interaksi sosial dan adaptasi terhadap kebutuhan ekonomi, mereka membentuk identitas dan peran sosial mereka.
**Panggung Depan dan Belakang**
Teori Dramaturgi Goffman mengibaratkan kehidupan sosial sebagai panggung teater, di mana individu berperan sebagai aktor yang menampilkan diri sesuai dengan situasi dan audiens tertentu. “Anjal dan Badut Lampu Merah berperan sebagai penghibur di ruang publik, seperti persimpangan jalan. Mereka menampilkan aksi menghibur untuk menarik perhatian dan mendapatkan simpati dari pengguna jalan,” papar Syawaludin.
Setelah interaksi publik, mereka kembali ke area di mana mereka dapat melepaskan peran sosial tersebut. “Panggung belakang ini memberikan ruang bagi mereka untuk bersikap lebih autentik tanpa tekanan untuk mempertahankan penampilan publik,” tambahnya.
**Pendekatan Holistik dan Sensitif**
Syawaludin menekankan pentingnya pendekatan yang holistik dan sensitif untuk memahami dan mengatasi akar permasalahan yang dihadapi oleh Anjal dan Badut Lampu Merah. “Pendekatan ini membantu kita memahami bahwa identitas mereka terbentuk melalui interaksi sosial, norma, dan nilai yang berlaku dalam masyarakat urban,” ujarnya.
Dengan demikian, pemahaman yang holistik dan korektif terhadap fenomena ini dapat mendorong perubahan sosial yang lebih inklusif dan adil bagi semua lapisan masyarakat. “Kita perlu mengurangi stigma dan memberikan dukungan yang konstruktif untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” pungkas Syawaludin.
Dr. H. Mohammad Syawaludin, MA

