Palembang, Halosumsel-
Sejak dilantik sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 25 Januari 2018 lalu menjadi awal langkah Akhmad Bastari Yusak untuk membenahi insfrastruktur Palembang.
“Awal dilantik Palembang banjir dimana mana. Bundaran Masjid Agung pun di kepung banjir. Alhamdulillah sekarang sudah lima puluh persen banjir akibat hujan dapat kita atasi,” kata Bastari di ruang kerjanya Kamis (20/05).
Blak-blakan Bastari mengakui bahwa kelemahan dalam menajemen pengelolaan insfrastruktur Palembang ada pemeliharaan. Padahal pekerjaan pemeliharaan itu tidak boleh berhenti.
“Bagi saya lebih baik pembangun kita tunda dari pada berhenti melihara. Jadi pemeliharaan itu harus jalan terus. Agar jangan sampai apa yang sudah kita bangun itu rusak karena tidak terpelihara. Apa yang kita bangun itu pasti terpakai dan perlu pemeliharaaan. Misalnya, saluran air. Kita kan mengalirkan air dari rumah tangga, hujan dan lingkungan. Air ini masuk ke saluran setiap hari dan jika kita tidak dibersihkan tidak akan fungsi maksimal,” kata pria yang hobi bersepeda ini.
Menurut Bastari pemeliharaan adalah hal yang menjadi prioritasnya mempimpin Dinas PUPR. Di sisi lain membangun sinergitas dengan masyarakat agar tumbuh kesadaran memelihara lingkungan.
Menumbuhkab kesadaran masyarakat yang cuek dengan kegunaan saluran.memang bukan perkara gampang. Tapu Bastari bersama “tim work” nya yang solid yakin.perlahan tapi pasti Palembang bisa meminimalisir banjir.
//Penjaga Sungai//
Bastari tidak.segan mengajak masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan sehingga saluran air tersumbat.
Di sisi lain dia memberdayakan sekitar 500 petugas harian lepas (PHL) untuk menjaga sungai dan titik titik rawan banjir di Palembang. Mereka dibagi dalam beberapa tim dan dimonitor apakah betul betul bekerja dan ada di tempat tugas masing-masing.
Petugas ini merupakan ujung tombak Dinas PUPR. “Melalui mereka kita dapat memonitor tempat-tempat yang rawan banjir di Palembang,” kata Bastari yang didamping Kepala Bidang SDA, Irigasi dan Limbah, RA Marlina Sylvia.
Dinamika menjadi orang nomor satu di Dinas PUPR Palembang memang tinggi. Namun Bastari menghadapi semuanya dengan mengatur ritme kerja dan memanjakan diri. “Soal ibadah itu pasti nomor satu. Jenuh juga manusiawi. Sekarang bagaimana bisa memanej situasi. Memanjakan diri dimaksud adalah menambah wawasan dan meng-upgrade dan menyegatkan diri. Ini penting karena dalam situasi sulit dengan membuka cakrawala berfikir dan tambah wawasan hal yang tadinya sulit bisa melahirkan inovasi,” katanya.
Adanya Media Sosial (Medsos) saat ini dianggap Bastari sebagai salah satu sarana monitoring kendati awalnya dia merasa sedikit emosi, namun lama-lama bisa menerima. Kini Bastari yang sedang menyelesaikan program doktornya di Universitas Sriwidjaya yakin bahwa sesulit apapun.pekerjaan harus dihadapi. Dia dan timnya yakin bisa Menyelesaikan semuanya.
Ditambahkan:
Pekerjaan di Dinas PU dan Penataan Ruang ini tidak bisa dikerjakan sendiri tapi harus dikerjakan bersama-sama. Karena pekerjaan tidak bisa diselesaikan secara individu tapi merupakan hasil kerja tim, kerja bersama. (ida syahrul)

