JAKARTA – Peneliti Bioteknologi Kelautan dan Pangan di PKSPL-IPB, Boimin, Ph.D., menilai turbulensi kecerdasan buatan (AI) berpotensi mengancam kedaulatan pangan jika tidak diimbangi dengan regulasi dan kesadaran manusia. Hal itu disampaikannya dalam forum Ngaji Pertanian STII bertajuk “Turbulensi AI dan Kedaulatan Pangan”, Jumat (18/9/2026).
Dalam paparannya, Boimin menjelaskan AI berkembang melalui tiga tahap, yakni AI, Agentic AI, dan Superhuman AI. Pada tahap Superhuman AI, manusia memberi “legal person” kepada AI sehingga AI tidak hanya mampu membuat keputusan, tetapi juga menemukan hal baru yang tidak bisa dilakukan manusia, bahkan tanpa sepengetahuan manusia.
“Jika perkembangan AI berlangsung lebih cepat daripada kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk mengendalikannya, kedaulatan pangan bisa berada di bawah kekuasaan segelintir pihak yang menguasai data dan algoritma,” ujar Boimin.
Ia merujuk peringatan sejumlah tokoh, termasuk peraih Nobel Geoffrey Hinton yang dikenal sebagai bapak AI dunia. Hinton, katanya, meminta agar teknologi AI tidak berkembang jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia, hukum, dan institusi untuk mengawasinya. Boimin juga menyoroti proyek Scenario Forecasting AI 2027 dari Daniel Kokotajlo dkk (2025) yang menggambarkan AI melampaui manusia dalam berbagai aktivitas intelektual.
Selain itu, Elon Musk dalam wawancara dengan The Economist memperkirakan manusia tidak akan lagi memegang kendali atas AI dalam sepuluh tahun. Boimin menilai situasi ini memunculkan kekhawatiran akan munculnya “diktator pangan” dan “penjajah pangan” gaya baru.
Menurutnya, turbulensi AI membawa dampak positif dan negatif bagi kedaulatan pangan. Dampak positifnya, AI dapat meningkatkan kualitas, efektivitas, dan efisiensi produksi, pengolahan, serta distribusi pangan. Sementara dampak negatifnya, AI berpotensi memunculkan konsentrasi kekuasaan pangan melalui “data dan algoritma”.
Boimin menekankan perlunya regulasi AI yang kuat dan adaptif agar AI tetap transparan, akuntabel, dan di bawah pengawasan manusia, khususnya di sektor strategis seperti pangan. Ia juga mendorong penguatan ekosistem verifikasi kebenaran yang melibatkan universitas, lembaga ilmiah, media profesional, pemeriksa fakta, dan masyarakat sipil.
Selain itu, ia mengampanyekan “diet AI”, yaitu penggunaan AI secara sadar, kritis, dan proporsional untuk memperkuat kecerdasan manusia, bukan menggantikan pemikiran dan tanggung jawab manusia. Di sektor pangan, Boimin mendorong pendidikan pangan, bukan hanya pendidikan gizi, melalui pengalaman langsung siswa, antara lain lewat Food Edu Park.
“Pendidikan pangan adalah pilar revolusi gizi Indonesia,” pungkasnya. (*)

