Palembang-Jajaran pengurus dan anggota perkumpulan Bakti Persada Masyarakat Sumatera Selatan (BPMSS) menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 25 Agustus, di Kedai Tiga Nyonya Palembang. Temanya Meneladani Ahlak Rasullah dengan Menebar Kebaikan dan Merajut Kebersamaan.
Dalam peringatan Maulid yang berlangsung khidmat tersebut hadir sebagai pembicara Prof Dr dr H Yuwono M Biomed. Hadir dalam acara tersebut sekitar 50 orang anggota dan pengurus BPMSS antara lain dewan pengawas H Solichin Daud, H Noer Muhammad, dan H Toni Panggarbesi, H Chairuman Gunawan dan H Romzi Abdullah. Juga hadir Ketua BPMSS Dr Hadi Prayogo M.I.Kom, anggota dewan pakar Prof Dr Ir HM Faizal DEA, Dr dr Gema Asiani, Dr Yunita Theresiana, Dr Ninik Ludwina dan jajaran pengurus yang lain.
Ketua Panitia Ir H Rumian Hurairi MM mengungkapkan tema menebar kebaikan dan merajut kebersamaan itu sengaja diketengahkan karena sangat dibutuhkan dalam organisasi seperti BPMSS. “Anggota dan pengurus BPMSS harus meneladani Rasul terutama dalam menebar kebaikan dan merajut kebersamaan sehingga organisasi ini bisa maju dan dikenal di Sumatera Selatan,” harapnya.
Sedangkan Dr Hadi Prayogo mengungkapkan acara peringatan Maulid Nabi ini merupakan salah satu kegiatan di tahun 2026. Selain melaksanakan even kemasyarakatan juga melaksanakan even keagamaan. “Kami merencanakan juga aksi sosial yakni pembagian masker pada saat terjadinya Karhutla saat ini. Untuk mengurangi dampak kebakaran hutan, masyarakat tentu butuh masker,” jelasnya.
Sementara itu dalam ceramahnya Prof Yuwono mengungkapkan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ini ada sebagian yang mempertentangkan. Ada yang berpendapatan mengatkan bid’ah (sesuatu dalam Islam yang tidak ada dasarnya, Red), padahal peringatan ini ada dasarnya karena itu bukan bid’ah,” tegasnya.
Antara lain Nabi pernah berpuasa setiap hari Senin karena hari itu adalah hari kelahirannya. Dalam hadis riwayat sahih Muslim, ketika ditanya tentang puasa Senin, Nabi menjawab bahwa itu adalah hari kelahiran beliau dan hari beliau menerima wahyu. Ini dijadikan dasar pengingat kelahiran Nabi dengan bentuk ibadah yang syar’i memiliki landasan.
Bersyukur atas kelahiran Nabi dengan diisi membaca Alqu’an, bershalawat, bersedekah, membaca sirah Nabi dan mengajarkan akhlak beliau memiliki dasar-dasar syariat. “Sehingga bisa dikatakan memperingati Maulid Nabi itu bukan bid’ah,” kata Prof Yuwono yang guru besar Universitas Sriwijaya ini.
Ketua pengawas BPMSS H Solichin Daud mengapresiasi penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad SAW ini. “Acaranya cukup bagus dari kita dan untuk kita semua, semoga Allah memberkahi, dan panitia diberi pahala berlipat,”kata mantan Bupati Lahat yang saat ini sudah berusia 85 tahun ini.
Dudi

