Halosumsel.com-

Yang konon katanya keong mas menjadi musuh bagi petani sawah karena menyerang tanaman padi yang dikenal tidak kompromi itu, tetapi kini jenis Hewan bercangkang itu dikenal pula sebagai Keong gondang, oleh Cek Mikem (67) justru dimanfaatkan bahkan untuk saat sekarang daging keong itu tidak hanya untuk pakan ternak itiknya saja melainkan yang ukuran besar justru dikonsumsi bersama keluarganya.

Nenek ini memanfaatkan daging keong untuk pakan ternak intiknya dan dikonsumsi sendiri saat dibincangi wartawan media ini mengaku setelah diberitahu oleh salah seorang cucungnya yang pulang melancong dari Jawa bahwa daging keong itu sangat lezat dikonsumsi dan banyak gizi, katanya.

Cek Mikem menjelaskan, mulanya mencari keong tersebut awal Januari 2016 lalu hanya untuk pakan ternak itik periharaanya dicampur dengan jagung dan ganggang sungai.

Menurutnya selama ada tiga pekan itiknya setelah diberi pakan dari keong dicampur dengan ganggang sungai serta dicampur dangan jagung ternyata mulai bertelur.

Dari 10 ekor itiknya itu kata Cek Miken setelah diberi pakan campuran keong sampai saat ini tidak henti bertelurnya, padahal sudah berjalan enam bulan.

“Alkhamdulillah dari 10 ekor induk itik betina setelah diberi pakan campuran keong tersebut yang setiap malam selalu bertelur paling sedikit 7-9 butir dan dari telur itik tersebut dapat membantu menambah penghasilan keluarganya”, jelasnya dengan nada senang.

Kata Cek Mikem, sekarang untuk khusus umpan ternak itiknya dicari keong yang masih ukuran kecil dan keong yang ukuran besar untuk dikonsumsi sendiri. Pada bulan suci Ramadhan ini setiap hari justru untuk lauk saat berbuka puasa maupun santap Sahur.

Nenek yang tinggal bersama anak dan 4 cucungnya di Betung Banyuasin ini memanfaatkan daging Keong untuk lauk bersama keluarganya ternyata justru bisa menghemat pengeluaranya, sebab mendapatkan keong tidak perlu beli, cukup mencari aliran sungai disekitar runahnya.

Apalagi dibulan Ramadhan ini harga daging ayam atau daging sapi yang kini harganya yang kini mahal, maka untuk lauk tidak pelu lagi susah, katanya polos.

Cara mendapatkan keong itu kata Cek Mikem sangat mudah, dengan memasang karung plastik bekas yang didalamnya diisi dengan berbagai dedaunan saja direndam dalam aliran sungai yang ada dibelakang rumahnya pada sore hari dan besuk paginya baru diangkat.

Masih kata Cek Mikem, sekali merendam karung plastik bekas itu sebanyak tiga sampai empat tempat jika diangkat bisa menghasilkan satu sampai dua ember atau sekitar 2 kilo bahkan pernah sampai 4 kilo keong berbagai ukuran.

Itulah sekarang kata Cek Mikem, keong yang ukuran kecil untuk pakan itik dan yang ukuran besar dikonsumsi sendiri dan dimasak menu ala sate itu lebih disukai dan kini bagi petani sawah yang sudah mengetahui manfaatnya keong mas itu sebenarnya bukan menjadi hama tanaman padinya, terangnya sembari menawarkan telor itiknya saat sekarang dipatok harga Rp.4 ribu perbutirnya dan asyik mengupas keong yang bakal disantapnya sendiri. (waluyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *