Halosumsel.c0m-
Lesty Nurainy, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Sumsel mengatakan pihaknya sudah menulis surat edaran keseluruh Kadinkes Kota/Kabupaten, ke Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) se-Sumsel tentang penggunaan vaksin dan serum anti tetanus dari jalur resmi.
“Hingga saat ini tidak ditemukan vaksin palsu di Sumsel. Kita juga sudah menyisir faskes yaitu rumah sakit, puskesmas, klinik swasta hingga apotek untuk melihat pasokan vaksin yang mereka simpan. Kalau beli di jalur aman, bisa dilihat dari faktur pembeliannya. Vaksin ini disalurkan oleh distributor resmi ke Dinkes Provinsi dan dibagikan ke Dinkes Kota/kabupaten berdasarkan kebutuhan. Lalu dibagikan ke faskes di wilayahnya, jika kurang bisa dibeli di apotek yang menggunakan distributor resmi,” ungkapnya.
Nama-nama distributor resmi vaksin biofarma yaitu Rajawali Nusindo Indofarma, Global Medika, Merapi Utama Parta, PT Sagi Capri. Sedangkan vaksin buatan Beecham sendiri didistribusikan oleh Anugerah Argon Medica (AAM). Ada juga vaksin buatan Aventis Farma yang di distribusikan oleh PT Anugerah Permindo Lestari (APL). Hanya vaksin buatan tiga pabrikan ini saja yang boleh digunakan oleh faskes di Sumsel.
Identifikasi Vaksin Palsu
Dinkes Sumsel juga menghimbau kepada para faskes di Sumsel agar tidak tergiur dengan penawaran vaksin dengan harga yang lebih murah. Biasanya, vaksin palsu dijual jauh dari harga resmi dan dipasarkan perorangan. Jika penjualan vaksin palsu tidak disertakan faktur resmi dari distributor resmi, bisa jadi vaksin yang dijual sales freelancetersebut adalah vaksin palsu.
Ciri-ciri dari vaksin palsu sendiri memang tidak bisa diidentifikasi dengan mata telanjang, namun jika vaksin itu disuntikkan ke anak, tidak akan ada pengaruhnya terhadap kekebalan sang anak.
“Karena tidak ada kandungan apapun, jadi tidak akan membentuk kekebalan tubuh sang anak. Apalagi jika ada kandungan tertentu, pastinya sangat membahayakan bagi pasien. Tapi memang sulit mengidentifikasikannya jika hanya dilihat dari warna saja, karena pelaku berupaya untuk membuat warna vaksin semirip vaksin asli,”
ucapnya.
Hingga saat ini, tercatat ada 333 Puskesmas dan 65 Rumah sakit di Sumsel. Pihaknya juga masih menyisir ke klinik dokter anak, bidan dan apotek yang menyediakan vaksin untuk mengetahui kualitas dari vaksin yang disediakan tersebut. (sofuan)

