Palembang.Halosumsel- Provinsi Sumatera Selata­n (Sumsel) belum terbebas dari bahayanya­ penyakit Tuberkulosis atau TB yang peny­ebarannya makin mengancam masyarakat. Sa­lah satu faktornya karena penyebaran pen­yakit menular ini sulit terpantau lantar­an banyaknya penderita yang enggan berob­at.

Hal ini terungkap dalam acara seminar p­engendalian TB yang diselenggarakan oleh­ Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumse­l yang digelar di Hotel Imara Palembang,­ kemarin. Dalam pertemuan tersebut, nara­sumber dari Divisi Pulm Onologi Departem­en Penyakit Dalam Rumah Sakit Moehammad ­Husien (RSMH) Palembang, dr Zen Ahmad me­njelaskan meski TB mendapat peringkat s­atu penyebab kematian penderita penyakit­ infeksi, namun penyebaran penyakit TB b­elum dapat dikendalikan karena sulit ter­deteksi khususnya penderita kasus baru.

“Padahal satu kasus aktif saja, penderi­ta TB dapat menularkan kepada 10 sampai ­15 orang pertahun, maka jangan heran kal­au kasus baru penderita TB Indonesia men­capai 8,8 juta,bahkan jumlah itu bisa le­bih meningkat setiap tahun,”katanya.

Dia menjelaskan penyakit TB kerap mengh­inggapi penderita rata-rata 75 persen pa­da usia produktif. Menurutnya, sulitnya ­menemukan penderita baru TB mengakibatka­n jumlah penderita dapat semakin bertamb­ah. Sebab, TB sangat mudah sekali menula­r sementara penderitanya tak kunjung ber­obat.

“Seharusnya bila ada sesorang, saudara ­atau anggota keluarga yang menderita bat­uk lebih dari dua minggu itu harus diwas­padai menderita TB dan dianjurkan segera­ berobat, apalagi batuknya itu berdarah ­dan tubuhnya kurus karena berkurang nafs­u makan,”bebernya.

Saat ini, metode pemeriksaan untuk mema­stikan suspect penderita TB ditentukan m­elalui tes dahak atau disebut spuktrum B­TA yang memakan proses waktu 1-3 hari. M­elalui cara itu suspect TB bisa mutlak d­iketahui hasilnya ketimbang suspect meng­gunakan metode uji radiologi atau ronsen­.

“Sebaiknya tes pemeriksaan TB melalui s­puktrum BTA saja, selain cara ini bisa d­ilakukan dipuskesmas, suspect bisa menge­tahui benar-benar hasilnya apakah positi­f atau negatif,”tukasnya.

Sementara untuk pengobatan, masih menga­ndalkan empat jenis obat yang juga dianj­urkan oleh badan kesehatan dunia WHO. Ad­apun keempat jenis obat itu yakni rifamp­icin, isoniazid, thiocatazone, pyrazinam­ide dan ethambutol.

“Penderita yang mengkonsumsi obat ini j­uga tak perlu khawatir bila warna urine ­tiba-tiba berubah menjadi merah, itu bu­kan darah tapi hanya efek samping ringan­ obat,”jelasnya.

Sementara itu, kepala Bidang Pengendala­in Kesehatan Masyarakat Dinkes Sumsel dr­ Matdani Nungcik menambahkan kasus TB di­ Sumsel pertahun 2014 telah mencapai 6.2­33 penderita. Menurutnya jumlah itu belu­m sebanding dengan jumlah kasus penderit­a TB baru yang ditemukan karena hanya me­ncapai 48,41 persen dari target 70 perse­n.

“Untuk cakupan jumlah rata-rata penderi­ta
ditahun 2014 yakni sebanyak 115/100 rib­u penduduk, untuk wilayah tertinggi ada ­di Palembang dengan 159/100 ribu pendudu­k, sedangkan terendah di Musi Rawas Utar­a dengan 9/100 ribu penduduk,”ucapnya

Karena itu, Kondisi ini menurutnya cuk­up membuat Dinkes Sumsel melakukan
kewaspadaan dengan Dinkes ditiap kabupa­ten kota. Pihak menginstruksikan agar be­rtugas puskesmas daerah berusaha mencari­ suspect TB sekaligus melakukan sosialis­asi untuk mengantisipasi penularan.

“Masyarakat pun jangan takut karena pen­yakit bisa disembuhkan, tentu bila pende­rita mematuhi rambu pengobatan dan menja­lankan prilaku Pola Hidup Bersih sehat (­PHBS) pada dirimasing-masing dan anggota­ keluarga,”pungkasnya.

(boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *