Halosumsel.com – Nilai tukar dolar AS yang semakin melambung mengakibatkan barang-barang elektronik yang pada dasarnya didatangkan dari luar negeri mengalami kenaikan harga. Akibatnya, hal tersebut berpengaruh terhadap daya beli masyarakat yang terus mengalami penurunan, sehingga kantong penghasilan sejumlah distributor barang elektronik ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Brand Manager Electronic Solution PS, Yusep Suseno mengatakan, peningkatan harga elektronik bervariasi mulai 5-20%. Kenaikan tersebut terjadi sejak awal Agustus 2015.

Menurutnya, kenaikan ini terjadi karena memang dolar semakin menguat dan rata-rata produk elektronik dari luar. Dengan tidak setabilnya perekonomian saat ini berakibat kepada penurunan omset. Dalam satu bulan biasanya omset mencapai Rp 2 miliar namun dengan keadaan perekonomian seperti ini menurun hingga 10%.

“Untuk harga yang naik seperti Ac Sharp sebelumnya Rp 2,8 juta menjadi Rp 3,2 juta, kulkas dua pintu dari harga Rp 4,6 juta menjadi Rp 5 juta dan lain-lain,” kata dia, Selasa (22/12).

Hal senada disampaikan, Manager Electronic Store, Avriyanti mengatakan, mengatakan sejak awal Agustus sampai Desember ini harga elektronik mengalami peningkatan rata-rata kenaikan mulai Rp 200-300 ribu untuk semua brand. Halnya saja, hal tersebut berbanding terbalik dengan daya beli masyarakat. “ Memang sedikit menurun tapi masih nomal. Menyiasati hal tersebut kami biasanya rutin menggelar promo,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumsel, Ahmad Rizal mengatakan, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terlalu tajam membuat pengusaha mengalami kerugian bukan hanya dari produksi, namun juga rugi kurs.

Padahal, menurutnya, importir biasanya telah menyetujui kontrak mendatangkan barang dengan jumlah tertentu selama jangka waktu tertentu, pada kurs tertentu yang telah disepakati. “Dengan terus melemahnya rupiah, otomatis importir harus mendatangkan barang dengan harga lebih tinggi, padahal sudah ada kontrak dengan proyeksi kurs tertentu. Importir jelas rugi,” terangnya.

Dia mengungkapkan, pelemahan rupiah memberatkan karena mempengaruhi harga jual dalam negeri yang naik. Sedangkan, daya beli masyarakat lemah. “ Namun, importer tentunya tidak dapat serta merta turut menaikan harga, mereka tentu akan melihat kondisi pasar erlebih dahulu,” terangnya.

Hal tersebut akan semakin diperparah dengan rencana kebijakan pemerintah yang akan menerapkan kenaikan tarif listrik tahun depan. “ Tantangan kami sangat berat, cost logistik naik seiring dengan kenaikan BBM, biaya pelabuhan juga berat, infrastruktur yang belum mumpuni juga pastinya mempengaruhi beban distribusi,” tukasnya.

Menurutnya, importir masih bisa menerima kalau dolar ada di kisaran Rp12.500. Tapi, kalau lebih dari itu, bahkan sampai menembus Rp14.000, dinilai kondisi ini tidak menguntungkan. Pelemahan rupiah itu berdampak kepada importir secara merata. Rencana bisnis mereka menjadi berantakan. Kurs dolar yang tinggi saat ini berpengaruh 20 persen terhadap biaya usaha. “ Buat importir, kalau dolar AS menguat, Planning bisnisnya berantakan, kondisi ini akan berpengaruh kepada cost logistic dan harga barang banyak berubah,” pungkasnya.(Ofie)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *