Halosumsel.com-

Sedikitnya ada dua warga tergolong Rumah Tangga Miskin (RTM) asal Desa Plajau Rt.08, Rw.02 Kec.Banyuasin III Kabupaten Banyuasin kondisi lehidupan bersama keluarganya kian memprihatinkan, lantaran mereka tidak pernah mendapat perhatian baik dari pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten Banyuasin apalagi dari Pemprov ataupun dari Pemerintah Pusat dalam bentuk bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) Kartu Indonesia Sejahtera (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) maupun bantuan untuk anaknya yang sekolah.

Nasib yang kurang beruntung yang dialami oleh keluarga Pak Joko.M dan Ibu Novi terbilabg tragis, sebab kian hari kini keberadaan rumah tangganya sangat jauh dibawah standar kemiskinan padahal mereka bedua merupakan sebagian dari warga desa ini.

Entah apa yang menjadi penyebab kedua warga desa ini sampai tidak pernah dapat berbagai bantuan dari pemerintah dan sangat wajar jika sampai anak-anak mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan formal selayaknya anak-anak warga satu desanya.

Keluarga Joko dan Ibu Novi ini selain sebagai putra daerah asli Desa Plajau dan mereka juga syah dan di Desa Plajau inilah mereka lahir, namun kemiskinan yang menghimpit kehidupannya.

Kedua keluarga ini rela tinggal disebuah rumah gubuk yang tidak layak huni bahkan hampir rubuh dan rumah mereka yang hanya berdinding papan dan beratap daun nipah ini hanya dapat berharap seperti yang di katakan menteri sosial tentang ibu hamil mendapatkan bantuan,termasuk bantuan yang berbentuk Kartu.

Bapak (50) yang hidup bersama istri dan seorang anak ini, saat diwawancara wartawan jumat (17/9) dikediamanya mengatakan selama ini dari pemerintah hanya dapat bantuan raskin saja yang disalurkan dari pemerintah setempat, namun untuk bantuan lainnya belum pernah dirasakannya.

” Keluarga kami selama ini belum pernah dapat bantuan walaupun sudah 2 kali di data oleh pemerintah setempat, anak saya yang sekolah SD juga tidak ada bantuan dari pihak sekolah dari kelas 1 sampai kelas 6 belum pernah dapat bantuan siswa miskin dan kami hanya dapat raskin itu saja yang diambil 3 bulan sekali”, ujarnya seraya berharap ada perhatian dari pemerintah.(waluyo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *