Palembang, Halosumsel– Duta Literasi Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dr Hj Ratu Tenny Leriva MM memaparkan program strategis penguatan budaya literasi saat audiensi bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang digelar di Perpusnas RI, Jakarta Kamis (5/2/2026).

Audiensi dihadiri oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Prof E Aminudin Aziz MA PhD, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Dr Adin Bondar MSi serta Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Nurhadisaputra SSos MSi. Turut hadir Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sumsel dan pejabat daerah di Sumsel serta Bunda dan Bapak Literasi kabupaten/kota se-Sumsel.

Dalam audiensi tersebut, dr Ratu menyampaikan bahwa penguatan literasi di Sumsel dilaksanakan secara terstruktur, inklusif, dan berkelanjutan melalui sinergi lintas sektor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumsel, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Sumsel meningkat dari 64,68 poin pada 2023 menjadi 72,24 poin pada 2024, sementara data terbaru hingga saat ini masih menunggu rilis resmi.

Selain memaparkan capaian indeks literasi, dr Ratu juga menjelaskan program kerja Duta Literasi Sumsel yang difokuskan pada tiga tematik utama, yakni pengembangan budaya baca dan literasi inklusif, penguatan kelembagaan serta sinergi gerakan literasi, serta pemanfaatan perpustakaan yang terintegrasi dengan pelestarian budaya dan transformasi digital.

Salah satu program prioritas yang terus diperkuat adalah pengukuhan Bunda dan Bapak Literasi di seluruh tingkatan pemerintahan, mulai dari desa dan kelurahan hingga kabupaten dan kota. Berbagai kolaborasi juga dilakukan bersama OPD, BUMN, komunitas, mahasiswa, dan pegiat literasi melalui penyediaan pojok baca, penyelenggaraan festival literasi, serta pengembangan duta literasi sekolah.

Dalam kesempatan tersebut dr Ratu juga menegaskan komitmennya sebagai Duta Literasi Provinsi Sumsel dalam mendorong literasi yang inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas tuli. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program kelas literasi bahasa isyarat sebagai upaya penyetaraan akses literasi dan komunikasi, serta memperbanyak “teman dengar”, yang telah diluncurkan pada 3 Januari 2026.

Menutup audiensi, dr Ratu menegaskan bahwa keberhasilan penguatan budaya literasi membutuhkan komitmen dan dukungan seluruh pemangku kepentingan agar peningkatan literasi masyarakat di Sumsel dapat terwujud secara merata dan berkelanjutan. (***)