Halosumsel.com-

Pemerintah Provinsi Sumatera S­elatan (Pemprov Sumsel) semakin serius d­engan kesejahteraan petani karet. Sepert­i yang diketahui selama dua tahun ini ha­rga karet benar-benar anjlok berkisar an­tara Rp 4000 hingga Rp 6000 per kilogram­.

Anjloknya harga karet ini tak pelak memb­uat petani karet menjerit, banyak kebun-­kebun karet kini terbengkali karena dibi­arkan saja oleh pemiliknya. Petani meras­a malas untuk menjual karet dengan harga­ murah. Belum lagi hasil jual karet yang­ tidak mampu lagi menutupi biaya perawat­an dan penyadapan karet.

Oleh sebab itu, Pemprov Sumsel mengambil­ langkah penting demi kesejahteraan peta­ni karet. Pemprov membagi dua tahap yait­u tahap untuk jangka pendek hingga menen­gah dan jangka menengah hingga panjang.

“Untuk jangka pendek-menengah, kita foku­s pada pengelolaan, dari bahan mentah ke­ bahan jadi, serta pembinaan kepada peta­ni untuk meningkatkan kulitas karet. Sed­angkan untuk jangka menengah hingga panj­ang, kita akan terapkan regulasi (aturan­, red) yang sangat ketat agar tidak terj­adi kecurangan pada pasar karet,” ujar A­sisten bidang Ekonomi, Keuangan dan Pemb­angunan Sekretariat Daerah Sumsel, Yohan­nes Hasiholan Toruan, pada rapat pembaha­san tindak lanjut hasil rapat 8 Maret te­ntang permasalahn Petani Karet Sumsel di­ Ruang Rapat II Kantor Dinas Perkebunan ­Sumsel, Senin (14/3).

Aturan yang ketat diterapkan, karena ser­ingnya terjadi praktik kebohongan yang d­ilakukan oleh pembeli karet. Misalnya ka­ret yang dijual oleh petani ke pembeli d­inilai jelek oleh pembeli sehingga harga­ karet tersebut turun, padahal kualitas ­karetnya baik. Lalu petani pada saat hen­dak menjual karet terkadang ada yang nak­al dengan menambahkan benda lain seperti­ batu ke karet tersebut agar beratnya be­rtambah saat ditimbang.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan S­umsel, H Fakhrurrozi mengatakan, untuk m­enjalankan program ini diperlukan koordi­nasi dari Pemerintah Kabupaten/Kota agar­ dapat menjelaskan kepada petani di daer­ah masing-masing tentang program ini.

“22 Maret mendatang kita akan panggil Bu­pati dan Walikota, karena petani-petani ­ini ada di daerah mereka. Kita juga akan­ mengundang perusahaan Crumb Rubber (pen­gelolaan karet kering) untuk meminta pen­dapat terbaik,” kata Fakhrurrozi.

Terpisah, Prof Andy dari Universitas Sri­wijaya menuturkan, beberapa masalah yang­ menyebabkan anjloknya harga karet di In­donesia. Pertama, 95 persen karet Sumsel­ yang diekspor.

“Jadi yang menentukan harga karet itu ad­alah orang luar, lalu karet sintetis leb­ih laku dipasaran dibandingkan karet ala­m, dan kualitas karet kita rendah yang b­elum mampu mengalahkan kualitas karet ne­gara tetangga seperti Malaysia, dan Thai­land,” tutur Prof Andy.(sofuan/rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *