Halosumsel.com-
Jelang bulan Ramadhan, Kementrian Perdagangan (Kemendag) RI menjamin stok cabe dan bawang tercukupi, bahkan mengalami sedikit surplus. Namun, ada beberapa kendala yang dialami, terutama komoditi bawang. Salah satunya distribusi ke beberapa tempat yang tidak tepat dan tidak seimbang.
Untuk itu, Kemendag merangkul 13 ribu sentra produksi bawang untuk mengendalikan distribusi komoditi sembako agar tepat sasaran. Dimana, di ribuan sentra produksi tersebut ditaksir dapat memproduksi 23 ribu ton bawang.
“Distribusi panen memang tidak selalu merata dan tepat, karena komoditinya juga tidak tahan lama. Masalah di petani adalah mereka membutuhkan biaya tunai untuk pendistribusian. Sehingga, banyak pedagang membeli komoditi tersebut sebelum panen. Tapi sekarang sudah dieliminir dengan Bulog yang memetakan dimana saja posisi produksinya,” ujar Sekjen Kemendag, Sri Agustina, saat menggelar Operasi Pasar Gula Pasir di Pasar Tradisional Cinde Palembang, Sabtu (14/6/2016).
Beberapa lokasi sentra produsen yang sudah dipetakan oleh Bulog yaitu di Cirebon, Temanggung dan Brebes. Sentra produsen bawang tersebut memang masih berada di kawasan Jawa. Namun, pihaknya akan mengembangkan kerjasama ini di beberapa daerah potensial, seperti di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan beberapa daerah di Sulawesi.
Selain distribusi yang tak merata, kekosongan stok juga kerap terjadi karena jenjang waktu persiapan bawang ke pasar. Dimana, pasar kehilangan stok saat produsen sedang disibukkan dengan proses pengeringan dan penggrogolan kulit bawang. Harga bawang pun bisa tembus di angka Rp 34 ribu/Kg. Padahal berdasarkan perhitungan, harga bawang yang layak dipatok sekitar Rp 25 ribu/Kg.
“Kita juga bekerjasama dengan beberapa pasar induk dan mengembangkan perdagangan online yang bisa dijamah oleh konsumen. Saat ini sudah ada 10 pasar induk bawang yang bekerjasama, diantaranya, Pasar Induk Kramat Djati, Cibitung dan Brebes,” ucapnya.
Sementara itu harga daging sendiri memang relatif mengalami defisit hingga 90 ribu ton. Stok daging sapi jelang lebaran hanya mencapai 171 ribu ton, sedangkan kebutuhan bisa mencapai 250 ribu ton.
Defisit yang cukup besar ini, lanjutnya, dipengaruhi kebiasaan masyarakat Indonesia yang lebih menyukai daging segar dibandingkan daging beku. Dampaknya adalah membengkaknya biaya pengiriman dan biaya angkut sapi tersebut.
“Rakyat masih senang dengan daging segar, jadi proses pengangkutannya masih dalam bentuk hewan sapi utuh dan baru dipotong disini. Sehingga mengeluarkan cost yang tinggi. Harusnya belinya dari rumah potong, seperti di sukabumi. Jadi, biaya angkut dan transportasi bisa ditekan. Masyarakat harus diedukasi untuk bisa mengkonsumsi daging frozen, untuk menekan biaya agar bisa mencukupi stok kebutuhan daging,” tandasnya(sofuan)
