Halosumsel.com –

Pembakaran bascamp Gafatar yang terjadi di Kalimantan Barat, membuat Megawati ibu Ratih bertambah sedih. Terlebih, hingga saat ini belum diketahui keadaan Ratih setelah pergi dari rumahnya yang berada di Jalan Kaswari 5 No 19 Kelurahan Sialang Kecamatan Sako Palembang dua bulan lalu.

Megawati selalu berharap, agar anak gadisnya dapat segera dibawa pulang ke Palembang dan berkumpul kembali bersamanya. Terlebih, ia sudah sangat-sangat kangen dengan sang anak yang telah menghilang bak ditelan bumi.

“Kalau dokter Rica bisa dijemput disana, kenapa anak saya tidak bisa. Apa kami orang kecil, jadi tidak bisa dijemput. Kami berharap kepada polisi untuk cepat bertindak,” ujarnya, Kamis (21/1).

Hingga kini, belum ada informasi mengenai keadaan Ratih. Meski sudah berusaha mencari informasi, namun hasilnya masih juga belum ada. Dari itulah, ia memilih untuk melaporkan kehilangan anak gadisnya yang diduga kuat bergabung dengan Gafatar.

Inilah yang diyakinkan Megawati jika putrinya tersebut bergabung dengan Gafatar. Terlebih apa yang pernah diungkapkan sang putri sebelum meninggalkan rumah.

Selain itu, diperkuat dengan omongan dari pacar sang anak M Adil yang menegaskan jika masuk Gafatar tidak perlu salat, puasa dan syariat lainnya yang diwajibkan Islam.

“Anak ku pulanglah anak ku,” ungkap Megawati sambil dengan muka sedih.

Namun dari informasi yang diperoleh dari tetangga sekitar rumah, sebelum Ratih pergi memang ada mobil warna merah yang menjemputnya di depan rumah.

Ratih naik ke dalam mobil berwarna merah tersebut dan membuka pintu mobil di bagian belakang. Tidak ada perkataan dan omongan yang keluar dari mulut Ratih. Ia langsung pergi dan masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut langsung pergi meninggalkan rumah Ratih.

Sedangkan Kapolda Sumsel Irjen Pol Djoko Prastowo didampingi Kabid Humas Polda Sumsel menuturkan, hingga kini pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Polda Kalimantan Barat mengenai keberadaan warga Palembang atau Sumsel yang diduga bergabung dengan Gafatar.

“Masih koordinasi, apalagi bascamp disana dibakar masyarakat dan orang-orangnya ditampung untuk diamankan. Sehingga dengan adanya hal itu,  dapat dilakukan pengecekan dan bisa berkoordinasi dengan kami di Sumsel,” ujarnya.

Koordinasi secara berkala juga terus dilakukan untuk mengecek keberadaan tidak hanya Ratih, tetapi juga warga Palembang dan Sumsel yang diduga bergabung dengan Gafatar.

“Saya juga telah mengumpulkan tokoh agama, ulama, tokoh masyarakat dan pemuda untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban. Jangan sampai ada kompor dan menjadi kompor, hingga membuat suasana tidak kondusif,” pungkasnya. (meida sari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *