Oleh : Asnadi Muhammad, Jurnalis dan Ketua SPRI Sumsel
Genderang perang suksesi kepemimpinan Sumsel sdh mulai ditabuh. Bahkan suara genderang terdengar sangat nyaring ketika ada pasangan yg sdh secara terbuka menyatakan siap bertempur utk merebut kursi Sumsel 1 dan 2 alias gubernur dan wakil gubernur Sumsel periode 2024-2029. Mereka adalah Mawardi Yahya (MY) berpasangan Harnojoyo yang disingkat MAHAR.
Terlalu prematurkah ini? Bisa iya bisa tidak. Pastinya, politik itu adalah tentang kesempatan dan kepentingan. Harmonisasi persahabatan yg dibangun selama ini serta-merta bisa ‘bubar’ krn kepentingan dan kesempatan.
Siapakah yg punya kans besar utk memimpin Sumsel 5 thn kedepan?
Tanpa bermaksud memandang sebelah mata kans pihak lain, menurut hemat saya Sumsel 5 thn kedepan msh miliknya trah HD (Herman Deru) dan Mawardi Yahya (MY). Jika saja terjadi HDMY jilid 2 maka diprediksikan suksesi ini akan berjalan lancar. Namun setelah MY berpindah ke lain hati dgn menggandeng Harnojoyo mk HDMY jilid 2 dipastikan tdk terjadi. MY yg usianya terpaut 9 tahun lebih senior dari HD sepertinya ingin cepat naik kelas menjadi Sumsel 1.
Siapakah yg cocok mendampingi HD ? Salah satu figur yang muncul ke publik adalah Dr. H. Joncik Muhammad S.Si, SH, MM, MH yang oleh kalangan politisi sering dipanggil pak JM atau dikalangan keluarga akrab dipanggil JON.
Publik menilai sosok mantan bupati Empat Lawang ini sangat ideal dan relevan utk bergandeng dgn HD pada pilgub Sumsel nanti disingkat HDJM. Salah satu relevansinya adalah sama-sama pimpinan partai politik (HD sbg ketua DPW Nasdem Sumsel) dan juga sama-sama memiliki basis masa pendukung cukup luas.
HD punya basis OKU raya (OKU, OKUT dan OKUS), sementara JM dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga asli Lahat raya dan Mura raya (Lahat, Pagaralam, Empat Lawang, Mura, Lubuk Linggau dan Muratara).
Selain JM ada beberapa nama lain yang juga dinilai cocok menjadi pasangan HD. Sebut saja misalnya Prana Sohe mantan walikota Lubuk Linggau, Ridho Yahya mantan Walikota Prabumulih, Popo Ali bupati OKU Selatan, Iskandar Tohir mantan Bupati OKI, dan Heri Amalindo bupati PALI.
Dari sederet nama-nama tsb jika ditelisik satu persatu maka yg paling mungkin adalah JM. Prana dan Iskandar baru saja terpilih menjadi anggota DPR RI, mau kah mereka melepas jabatan itu hanya utk mengejar kursi wagub. Ridho Yahya adalah adik MY dan logikanya tidak mungkin dia akan ‘belago’ dgn kakak kandungnya. Popo Ali basis masa pendukungkungnya nyaris sama dgn HD yakni OKU Selatan. Sedangkan Heri Amalindo alias mang Heri sepertinya lebih memilih kursi Sumsel 1.
JM bupati Empat Lawang periode 2018-2023 adalah kader tulen Partai Amanat Nasional (PAN). Pernah menjadi Ketua DPD PAN Kab. Lahat, Ketua DPP PAN, dan saat ini menjabat Sekretaris DPW PAN Sumsel. Juga pernah menjadi anggota DPRD Lahat, Empat Lawang, dan DPRD Sumsel.
Selain aktif dijalur politik, alumni UGM Yogyakarta ini juga aktif di beberapa organisasi sosial, yakni sebagai Ketua Majelis Wilayah Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sumsel dan Ketua Pengda Sumsel Keluarga Alumni Universitas Gajahmada (KAGAMA) Yogyakarta.
Organusasi sosial yang berbasis masa tersebut merupakan ‘bonus sosial’ bagi JM untuk mendulang pendukung di pilgub. Diketahui bahwa ribuan anggota KAHMI dan KAGAMA menyebar luas di seantero Provinsi Sumsel, dengan berbagai profesi dan dari berbagai suku di Indonesia.
Akhirnya, apapun pemberitaan maupun prediksi terkait pilgub Sumsel hari ini semua masih sangat cair. Dalam hitungan menit kombinasi pasangan bisa berubah-ubah. Sebelum resmi berpasangan tentu masing-masing pihak akan melakukan analisa kekuatan, antara lain akan melakukan survey popularitas dan elektabilitas. Semoga semua tahapan Pilgub Sumsel on the track.

