Bandung, Halosumsel – Pengurus Besar Serikat Tani Islam Indonesia (PB STII) menggelar seminar internasional bertajuk “ASEAN Under Watch: Menakar Stabilitas Asia Tenggara 2030” pada Sabtu (29/5/2026). Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan narasumber utama His Excellency Dato Seri Shamsul Iskandar Mohd. Akin, mantan Kepala Kantor Staf Perdana Menteri Malaysia.

 

Seminar yang diikuti sekitar 50 peserta dari kalangan akademisi, aktivis, tokoh masyarakat, dan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam ini resmi dibuka oleh Ketua Umum PB STII, Fathurrahman Mahfudz, BRIK., MM. Dalam sambutannya, Fathurrahman menegaskan bahwa diskusi strategis semacam ini sangat bermanfaat untuk memahami perkembangan global yang erat hubungannya dengan sektor pertanian.

 

“Dunia saat ini sedang menghadapi turbulensi besar. Rivalitas kekuatan adidaya, konflik regional, hingga ancaman krisis pangan menuntut adanya kesamaan pandangan di antara negara-negara serumpun,” ujar Fathurrahman.

 

Titik Buta ASEAN

 

Dalam pemaparannya, Dato Seri Shamsul Iskandar dengan lugas mengidentifikasi sejumlah “titik buta” (blind spot) ASEAN yang selama ini luput dari perhatian serius, yakni:

 

· Krisis kepercayaan publik terhadap institusi

· Krisis iklim yang kian mengkhawatirkan

· Disrupsi teknologi yang tak terbendung

· Fragmentasi ekonomi kawasan

· Persaingan geopolitik yang memanas

 

“Ancaman terbesar dan paling eksistensial bagi kawasan saat ini bukanlah perang militer terbuka, melainkan kegagalan bekerja sama, ketimpangan struktural, dan hilangnya kepercayaan rakyat terhadap institusi,” tegasnya.

 

Tiga Tekanan Utama Menuju 2030

 

Dato Seri Shamsul Iskandar juga memaparkan tiga tekanan utama yang akan dihadapi Asia Tenggara menuju tahun 2030:

 

Pertama, Tekanan Geopolitik Global – Imbas rivalitas AS dan Tiongkok berpotensi memecah belah stabilitas internal ASEAN jika tidak dikelola dengan diplomasi yang cerdas.

 

Kedua, Ketahanan Pangan dan Ekonomi – Tantangan menjamin rantai pasok pangan dan kesejahteraan rakyat, terutama bagi negara berpopulasi besar seperti Indonesia.

 

Ketiga, Keamanan Non-Tradisional – Ancaman modern lintas batas meliputi disinformasi masif, serangan siber, perebutan dominasi teknologi AI, serta dampak perubahan iklim.

 

Menurutnya, ASEAN berpeluang menjadi buffer zone di Selat Malaka seiring dengan potensi bergesernya konflik dari Selat Hormuz. Ia berharap terbentuknya ASEAN Community pada 2045 dengan fokus pada transisi energi, ketahanan pangan, dan pengembangan Ekonomi Hijau (ASEAN Green).

 

Prioritas Kolaborasi Ketahanan Pangan

 

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang pertanian dan pemberdayaan petani, PB STII menempatkan isu ketahanan pangan sebagai prioritas utama. Ketua Umum PB STII menilai bahwa swasembada pangan bukan hanya target nasional, melainkan kebutuhan kawasan untuk mencegah ketergantungan berlebihan pada impor dari luar ASEAN.

 

Fathurrahman mengungkapkan bahwa meskipun jalinan kerja sama antara pengusaha Malaysia dan petani Indonesia telah berlangsung selama satu dekade terakhir di sektor agrobisnis, namun belum terjadi peningkatan signifikan dalam pengembangan pertanian lanjutan.

 

“Kami akan bekerja sama dengan menerapkan penanaman bibit padi Trisakti STII serta Kedelai Garuda Merah Putih 1-6 yang sudah terbukti mampu meningkatkan produktivitas kualitas maupun kuantitas palawija. Bibit unggulan STII akan ditanam di Malaysia dengan ditambahkan aplikasi pupuk organik, sehingga diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi,” jelasnya.

 

Apresiasi dan Harapan

 

Moderator seminar, Hilman Ismail Metareum, SE., selaku Ketua Pelaksana Harian PB STII, mengapresiasi kedalaman analisis narasumber. Ia berharap forum ini menjadi jembatan untuk memperkuat sinergi Indonesia-Malaysia, khususnya dalam menghadapi tantangan ekonomi dan ketahanan pangan.

 

“Kita dengan Malaysia harus memperkuat hubungan persaudaraan dan kerja sama strategis. Kami bersyukur atas kehadiran Dato Seri Shamsul Iskandar yang memberikan gambaran situasi kawasan dan future outlook economy yang sangat berharga,” ujar Hilman.

 

Acara ini turut dihadiri Sekretaris Jenderal PB STII Didi M. Rosidi, Wakil Ketua Umum PB STII Ustadz Dr. Ade Salamun, serta sejumlah pimpinan badan otonom seperti Srikandi Tani STII Dra. Hulfa, Pemuda STII Aigi Murizki, dan Ketua LPK STII Elva Septinawati, serta beberapa pimpinan ormas Islam lainnya. (HIM)

Rel