Seperti diungkapkan Direktur Fasilitasi Promosi Daerah BKPM, Husen Maulana, saat melakukan pertemuan dengan Sekretaris Daerah Sumsel, Mukti Sulaiman, di Ruang Kerjanya, Selasa (24/5). Dia menuturkan, RIF yang diselenggarakan pada 26-27 Juni mendatang akan memakai konsep diskusi sosialisasi.
Kegiatan ini rencananya akan mengundang pengusaha luar negeri, terutama dari negara-negara yang terdapat perwakilan BKPM dan akan mengundang investor dari dalam negari yang dilihat dari pengaruhnya sangatlah besar.
“Kita akan mengundang pembicara dari BKPM dan kementerian terkait dari sisi kebijakannya yang sangat diperlukan bagi para investor,” ujar Husen.
Seperti yang berkaitan dengan ketenagakerjaan serta imigrasi dan bea cukai. Menurut dia, kedua bidang ini sangat diperlukan untuk bisa memberikan pengarahannya bagi para investor terutama dari investor asing, karena setiap kali pihaknya melakukan meeting bersama investor, selalu muncul mengenai pembahasan isu-isu ketenagakerjaan, masalah imigrasi, maupun masalah pengurusan barang-barang ekspor impor di pelabuhan. Yang bagaimana hal ini bisa menjadi solusi bersama untuk menghadapi permasalahan di lapangan.
“Narasumber akan menyampaikan kebijakan baru atau reformasi kebijakan pelayanan yang dilakukan BKPM Pusat. Semua itu akan disampaikan, dan kementerian akan menyampaikan ketentuan-ketentuan baru di tempatnya masing-masing. Kita akan undang perusahaan yang kita ketahui beroperasi di regional Sumatera dan perusahaan yang mempunyai masalah seperti itu,” ungkapnya.
Pada saat sesi paralel meeting nanti, kemungkinan melakukan partner meeting dengan pihak BKPM di daerah serta pejabat Pemprov terkait mengetahui investasi di Sumsel. Seperti di Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Api Api (KEK TAA), dan potensi sumber daya lainnya seperti karet potensi industri klafisikasi energi.
Sementara itu, Sekda Sumsel, Mukti Sulaiman, menyambut baik adanya kegiatan tersebut. Diharapkannya, kegiatan ini menjadi pencarian solusi para investor untuk bisa mengembangkan potensi ekonominya agar menjadi lebih baik, serta detail-detail perencanaan dari pelaku usaha agar lebih terprogram.
“Memang harus ada masukan pelaku usaha, penting kita dengarkan. Walaupun tentu soal pajak, kemudahan, percepatan infrastruktur kita sudah mengetahuinya. Tapi kembali kita diskusikan, untuk selanjutnya bagaimana fasilitasi persoalan-persoalan berkaitan dengan investasi. Seperti tadi dijelaskan terkait dengan ketenagakerjaan, izinnya bagaimana, kita akan undang Disnaker atau juga kita undang ahlinya,” tutur Mukti.
Pada saat diskusi para investor asing diharapkannya, bukan hanya dibahas strategi pemasaran industri tidak terbatas di KEK, namun bisa juga berbicara mengenai potensi sawit, karet, dan batubara, agar potensi ekonomi di Sumsel bisa terangkat oleh investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya.

