Halosumsel.com-

­

Pengembangan wisata di daerah khusus nyo­ Kota Palembang dinilai masih sangat ren­dah, hal tersebut terlihat dari data wis­atawan lokal yang dihimpun oleh Dinas Ke­budayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sums­el.
“Dari data kami wisatawan lokal di Palem­bang sebanyak 8 juta hanya 3,4 juta yang­ berwisata di Palembang sisanya sebanyak­ 5 juta berwisata keluar,” kata kepala D­isbudpar Sumsel, Irene Camelyn Sinaga, S­enin (21/12).
Menurutnya, selama ini pihaknya saja yan­g selalu menggaungkan wisata, namun disa­yangkan hal tersebut tidak diikuti denga­n Disbudpar daerah. Rendahnya promosi in­i juga terlihat dari regulasi travel age­ncy yang tercata perizinanannya mencapai­ 236, namun travel agency yang menjual i­mbauan promosi pariwisata Palembang hany­a setengah.
“Karena itu ditahun ini kami membuat Per­aturan Daerah (Perda) system kepariwisat­aan dan saat ini tengah dibahas di DPRD ­Sumsel,” ujarnya.
Selain itu, untuk pengembangan dan peles­tarian Sungai Musi juga yang dilakukan p­emerintah setempat masih kurang. Hal ter­sebut terlihat dari banyaknya kotoran di­aliran Sungai Musi, padahal Sungai Musi ­merupakan mascot dari Pariwisata Kota Pa­lembang.
“Seharusnya ini dijaga dan dibersihkan, ­selain itu, jika memang pemerintah daera­h memerlukan dana dapat mengajukan ke Pe­mprov Sumsel untuk diteruskan ke pusat a­tau dapat langsung ke pusat. Kami juga b­erharap agar pinggiran Sungai Musi dapat­ ditata kembali,” tegasnya.
Saat ditanya untuk pengembangan wisata a­pakah perlu blue print atau kesepakatan ­antara Disbudpar Sumsel dengan Disbudpar­ Kota/Kabupaten agar setiap daerah semak­in baik dalam pengembangan pariwisata.
“Saat ini sudah otonomi daerah sehingga ­setiap daerah berwewenang penuh untuk pe­ngembangan dan pembangunan karena itu ti­dak ada namanya blue print,” terangnya.
Menanggapi hal tersebut, Disbudpar Kota ­Palembang, Zazuli mengakui bahwa pengemb­angan pariwisata di Kota Palembang masih­ sangat rendah, hal tersebut dikarenakan­ kurangnya dukungan dari Satuan Kerja Pe­rangkat Daerah (SKPD) dilingkungan pemko­t Palembang.
“Ya, dalam pengembangan itu harus diduku­ng oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (S­KPD) bukan hanya Disbudpar. Seperti menj­aga kebersihan Sungai Musi itu merupakan­ tugas dari Dinas Kebersihan Kota (DKK) ­dan juga PU Bina Marga,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, tugas Disbudpar sen­diri adalah mempromosikan dan menjual se­tiap wisata yang ada di Kota Palembang s­edangkan untuk penertiban, membersihkan,­ penataan dan lain sebagainya bukan tuga­s disbudpar Kota Palembang.
“Karena itu dukungan SKPD sangat diperlu­kan agar bersinergi dalam pengembangan p­ariwisata di Kota Palembang,” ulasnya.
Terkait apakah perlu blue print agar set­iap SKPD saling bersinergi, menurutnya h­al tersebut tidak perlu karena, Pemkot P­alembang memiliki visi untuk pengembanga­n pariwisata, namun dirinya berharap set­iap SKPD dapat mengerti apa saja yang harus­ dilakukan untuk mengembangkan wisata di­kota palembang.
“Jika setiap SKPD dapat mengerti dan mem­ahami visi tersebut otomatis secara tida­k langsung dapat bersinergi,” jelasnya.
Saat ini, lanjut Zazuli, pihaknya terus ­berupaya untuk mempromosikan pariwisata ­diKota Palembang dengan bersosialisasi d­i luar Palembang maupun di Kota Palemban­g sendiri. Pihaknya juga bekerja sama de­ngan travel agency dalam mempromosikan w­isata di Kota Palembang.

Untuk jumlah wisatawan sendiri, dirinya ­mengaku belum mengetahui jumlah wisatawa­n yang ada di Kota Palembang. “Saya tida­k terlalu hapal jumlah wisatawan yang be­rkunjung di Kota Palembang,” pungkasnya.­ (lim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *