Palembang.Halosumsel-
Personel kepengurusan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sumsel saat ini berjumlah 196 orang. Jumlah tersebut dinilai terlalu gemuk, dan karenanya harus dipangkas sampai menembus angka maksimal 100 orang.
Wacana tersebut mengemuka dalam rapat pleno KONI Sumsel di Hotel Alts Palembang, Rabu (29/12), yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum H Hendri Zainuddin dan Sekretaris Umum Suparman Romans.


Menurut Hendri, pihaknya akan berupaya seoptimal mungkin agar komposisi kepengurusan yang ada tetap dipertahankan. Langkah yang ditempuh tentu saja melalui jalur negosiasi dengan para stakeholders, khususnya dengan pihak pemerintah (Dispora) dan DPRD Provinsi Sumsel.


“Kita akan coba melakukan negosiasi. Kalau tidak bisa semuanya dipertahankan, minimal berkurang sedikit atau 100 orang lebih sedikit,” tegas Hendri.


Mantan anggota DPD RI ini mengungkapkan, permintaan agar pengurus KONI Sumsel dikurangi menjadi maksimal 100 orang datang dari DPRD Sumsel serta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumsel.


Pastinya, lanjut Hendri, dana operasional dan pembinaan KONI Sumsel tahun anggaran 2022 dikurangi 1 miliar rupiah, dari 12,5 miliar yang diusulkan. “Salah satu alasan pengurangan ini adalah karena pengurus terlalu banyak,” ujarnya.


Ketua Umum KONI yang juga pernah menjabat ketua DPD Partai Hanura Sumsel menambahkan, tujuan dirinya menjadi pengurus KONI adalah untuk melayani dan membina atlet dan pelatih, serta untuk silaturahmi. Bukan untuk cari duit, apalagi cari musuh.


“Hanya dua tujuan kita menjadi pengurus KONI Sumsel ini, pertama untuk melakukan pembinaan atlet dan pelatih semua cabang olahraga, dan kedua untuk silaturahmi antar sesama pengurus,’ tegasnya.


Dikatakan Hendri, dalam memimpin organisasi dirinya sudah terbiasa mendapat kritikan, di-ghibah bahkan hujatan. Kalau di KONI hanya 200 orang, di SFC dirinya berhadapan dengan jutaan orang yang berpotensi menyampaikan kritik.


Sebagaimana diketahui, Hendri Zainuddin juga menjabat Presiden Sriwijaya Football Club (SFC), klub sepakbola kebanggaan masyarakat Sumsel. Dirinya banyak dikritik terkait gagalnya SFC lolos ke Liga 1 musim ini. Mantap di Liga 2 dengan status juara Grup A diatas PSMS Medan, PSPS Pekanbaru, Semen Padang, Muba Babel United, dan Tiga Naga Riau.

“Kalau di KONI hanya 200 orang, di SFC saya berhadapan dengan jutaan orang. Ada yang mengatakan pantas SFC kalah, karena Presidennya bergelar S.Ag,” tegas mantas aktivis LSM Humanika ini.


S.Ag (sarjana agama) adalah gelar akademik S1 bidang agama Islam. Sering diplesetkan dengan sebutan sarjana alam ghaib atau sarjana agak godek. Tentu saja sebutan ini tujuannya hanya untuk lucu-lucuan saja.


Terkait reshuffle ataupun pengurangan pengurus juga dibenarkan Suparman Romans selaku Sekum KONI Sumsel. Senada dengan Hendri, Suparman juga mengaku dirinya tidak begitu nyaman untuk melakukan pemangkasan pengurus, dengan berbagai pertimbangan.


Maunya mantan Ketua Umum KONI Palembang pengurus yang ada tetap dipertahankan, paling hanya dilakukan reposisi untuk penyegaran.
“Kito nih kenal galo kawan galo, dak lemak rasonyo (kita ini kenal semua berteman semua, tidak enak rasanya),” ujar Suparman.


Namun jika regulasinya memaksa harus dikurangi sampai maksimal 100 orang, maka menurut Suparman, terpaksa harus dilakukan, tidak ada lagi istilah tidak enak.
Kedepan, Suparman berharap pengurus KONI Sumsel yang dipertahankan benar-benar bisa aktif berkontribusi bagi peningkatan prestasi olahraga Sumsel. Bila perlu nanti dibuat fakta integritas, bahwa akan aktif hadir minimal 60 persen per bulan.


“Dan ke depan jangan ada lagi yang orientasinya hanya absen, pagi absen lalu pergi dan sore datang lagi untuk absen pulang,” tandasnya.


Dari forum rapat pleno tersebut muncul dua opsi, ada yang setuju reshuffle atau pengurangan dan ada yang minta dipertahankan.


Seperti dikatakan Zulfaini, dirinya setuju dipangkas terhadap pengurus yang tidak aktif, bahkan tidak pernah datang sama sekali. “Tidak pandang bulu dia pejabat atau keluarga pejabat, harus diganti, sayapun siap diganti jika dianggap tidak bermanfaat bagi KONI Sumsel,” tegasnya.


Sementara, Syafran Syaropi meminta pengurus yang ada tetap dipertahankan. “Di sisa waktu kepengurusan yang tinggal sekitar 2 tahun ini, kalu bisa kebersamaan ini tetap dipertahankan,” tegas mantan anggota DPRD Palembang yang sekarang sebagai Tim Ahli Badan Anggaran dan Komisi II Bidang Perekonomian DPRD Sumsel. (asn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *