# Pengembang Sulit Membayar Bunga Bank
Halosumsel.com –
Rendahnya perkonomian di Sumsel juga berpengaruh terhadap sektor property, khusunya perumahan. Tidak sedikit pengembang yang kesulitan untuk membayar kewajiban (bunga) bank lantaran seretnya penjualan.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia Sumsel, Hariadi Bengawan mengatakan, sulitnya perekonomian menyebabkan sektor property mengalami kesulitan penjualan. Khusunya untuk property kelas atas yang semakin sulit melakukan penjualan, sehingga banyak pengusaha property beralih melakuakn pengembangang usaha di bidang property menengah kebawah atau tepatnya hunian masyarakat berpengahasilan rendah (MBR).
“Kami berharap agar suku bunga untuk konstruksi, khususnya pengembang MBR bisa dipangkas, dari 14 persen menjadi 7 persen,” harapnya.
Pemangkasan suku bunga yang diharapkan pihak REI, tambah Hariadi karena pihaknya menilai sulitnya penjualan membuat pengembang sulit melakuan pembayaran kewajiban (bunga) bank. “Sampai saat ini, belum ada anggota kita (pengembang red) yang melapor soal itu, tapi pasti. Dan jika hal tersebut sudah terjadi maka pengembang biasanya meminta penjadwalan uang penagihan (tanggal jatuh tempo),” tuturnya.
Hariadi juga mengungkapkan, sulitnya penjualan untuk hunian kelas menengah atas karena banyak konsumen yang justru lebih memikirkan kebutuhan sehari- hari dan menekan pengeluaran belanja besar. “Yang biasanya belanja rumah senilai Rp 1 miliar beralih membeli perumahan beli Rp300 juta. Hal ini juga yang membuat beberapa pengusaha property beralih ke usaha perumahan kelas MBR( masyarakat berpengahasilan rendah red),” terangnya.
Tidak hanya itu, Hariadi juga menuturkan, jika adanya tidak kehati- hatian perbankan untuk memberikan pinjaman Kredit Perumahan Rakyat (KPR) guna mengantisipasi kredit macet. “Bank pun melihat apakah usaha yang mengajukan KPR akan berimbas dengan adanya pelemahan ekonomi,” pungkasnya. (ofie)

