MUARA ENIM, Halosumsel-Reses Masa Sidang III tahun 2025 anggota daerah pemilihan (Dapil) VI DPRD Sumatera Selatan (Sumsel) yang meliputi Kabupaten Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir dan Prabumulih, pada akhir Agustus lalu, mendapat banyak temuan dan masukan dari masyarakat.
Beberapa temuan dan masukan itu, mulai dari jalan rusak, sekolah minim fasilitas hingga peralatan petanian yang terbatas dikeluhkan para petani.
Dari desa ke desa di wilayah Semendo—baik Semendo Darat Laut, Semendo Darat Tengah, maupun Semendo Darat Ulu—satu benang merah yang mencuat: infrastruktur dasar masih sangat membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Di Desa Karya Nyata, para pemuda Karang Taruna menyuarakan harapan mereka akan tenda dan sound system untuk kegiatan desa. Para petani meminta jalan cor beton sepanjang dua kilometer agar hasil bumi mereka tidak hancur di jalan. Tak hanya itu, pengadaan sumur bor, pembangunan siring desa, hingga penguat sinyal menjadi bagian dari kebutuhan mendasar yang mereka anggap sudah terlalu lama diabaikan.
Lain halnya di Desa Pulau Panggung. Jalan rusak dari simpang Meo ke Mulak Ulu, permintaan pupuk bersubsidi yang sulit didapat, serta kebutuhan talud setinggi delapan meter untuk menahan longsor, menjadi keluhan utama warga. Sekolah-sekolah seperti SMPN 4 dan PAUD Pelangi Ceria juga angkat suara: mereka butuh drainase, coneblock, dan bantuan operasional.
“Setiap titik kami datangi, selalu penuh aspirasi. Tak hanya dari desa tempat acara digelar, bahkan warga dari desa tetangga turut hadir dan menyampaikan suara mereka,” kata Koordinator Dapil VI Muhammad Candra.
Masalah pendidikan juga menjadi sorotan. Di SMPN 6 Semendo Darat Laut, kebutuhan akan laboratorium komputer, ruang guru, hingga perpustakaan menjadi prioritas yang sudah lama dinantikan. Sekolah-sekolah lain, seperti MI dan TK Mandiri Tenang Waras, juga berharap ada tambahan ruang belajar dan pagar sekolah demi kenyamanan belajar.
Di Pajar Bulan, aspirasi muncul dari SMAN 1, mereka mengusulkan bantuan pembangunan pagar sekolah, turap, dan ruang kelas yang telah lama rusak. Sementara itu, PAUD di bawah Yayasan Ahmad Usmarwi Kaffah di Muara Tenang memohon dana pembangunan agar anak-anak usia dini bisa belajar dengan aman dan layak.
Cuaca ekstrem selama beberapa bulan terakhir rupanya ikut memperparah kondisi. Jalan-jalan desa yang sebelumnya masih bisa dilalui kini mulai tak bersahabat. Longsor mengancam, genangan air kian sering, dan kecelakaan lalu lintas mulai meningkat.
“Jalan rusak bukan sekadar masalah kenyamanan, tapi ini soal keselamatan. Mobilitas warga terganggu, dan sektor pertanian pun ikut terpukul. hal ini harus menjadi perhatian kita semua, terutama pemerintah agar perekonomian masyarakat bisa lebih baik,” lanjut Candra.
Tak sedikit pula warga yang meminta perbaikan saluran irigasi, bantuan alat pertanian, traktor, hingga pengembangan peternakan seperti sapi dan ayam. Bahkan, kebutuhan sederhana seperti genset, sarana olahraga, hingga pengangkutan sampah pun menjadi sorotan serius warga di Desa Aremantai.
Menanggapi semua keluhan tersebut, Muhammad Candra bersama anggota Dapil VI lainnya sepakat mendorong Pemerintah Provinsi Sumsel untuk meningkatkan alokasi anggaran infrastruktur secara signifikan.
“Kami ingin suara dari pelosok ini tidak hanya menjadi catatan. Harus ada tindakan nyata, dan ini harus masuk dalam prioritas pembangunan provinsi. Masyarakat sudah cukup lama menanti,” ujar Candra.
Candra juga mengatakan, semua aspirasi yang diutarakan warga, telah mereka catat. selanjutnya akan disampaikan kepada bupati maupun gubernur untuk ditindaklanjuti.
Candra juga menjelaskan kalau Reses ini bukan hanya ajang mendengar, tapi momentum membangun koneksi langsung antara wakil rakyat dan denyut kehidupan rakyatnya. Dan dari Semendo, kita belajar bahwa harapan itu tidak pernah benar-benar hilang—selama masih ada yang mau mendengarkan dan memperjuangkannya
Adverorial






