Banyuasin-

ProyekPengecoran Jalan akses Kecamatan Banyuasin III- Rantau bayur, yang menghubungkan antara Talang kebang Kelurahan Pangkalan balai, Desa Lubuk saung Kecamatan Banyuasin III, dan Desa Lubuk rengas- Desa Lebung , Kecamatan Rantau bayur disoal masyarakat, pasalnya. Proyek yang dikerjakan oleh CV Setia Usaha dengan dana sebesar 431 juta tersebut diduga dikerjakan asal-asalan sebab dari pantauan dilapangan proyek pengecoran jalan tersebut menggunakan molen manual untuk adukan dan tidak menggunakan takaran semen, pasir dan koral. Dikhawatirkan dari pengerjaan proyek seperti ini kualitas jalannya tidak akan bertahan lama.

“Kita perhatikan pengerjaan proyek Jalan Talang kebang ini diduga dikerjakan asal-asalan , sebab mereka menggunakan molen manual dan bahan bangunannya diaduk hanya di lempar-lempar saja menggunakan skop” ucap, salah seorang pengguna jalan yang melintas tidak mau disebutkan namanya. Rabu, 10/10/18.

Dirinya menyayangkan, anggaran besar tersebut dikejakan tidak sesuai standar yang semestinya.

“Ya inikan jalan akses dua  kecamatan, tidak sesuailah kalau cara pengerjaannya seperti ini, paling tidak memakai ridemix atau hotmix agar kualitas jalannya ini bisa lebih awet, kalau seperti ini kemungkinan tidak tahan lama, sebab yang melewati jalan ini mobil pasir dan mobil kayu balok dengan tonase puluhan kubik” ujarnya.

Senada dikatakan, Umir tono, SH. Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Sriwijaya Sumatera Selatan (LS3) dan Ketua LSM Nusantara Ekspres Banyuasin Ismail , menilai proyek tersebut diduga dikerjakan tidak sesuai standar mutu kalau adukannya memakai molen manual dan bahan bangunannya tidak mempunyai takaran

“Itu gila namanya, masa jalan akses kecamatan menggunakan molen manual. Pasir, koral, dan semen dilempar-lempar pula pakai skop, semestinya menggunakan takaran 123 biar masyarakat tahu, adukannya.” ucap, Umir tono saat didampingi Ismail.

Dirinya meminta kepada Bupati Banyuasin untuk menindaklanjuti proyek bangunan yang dikerjakan oleh CV Setia usaha tersebut.

“Ini tantangan Bupati Banyuasin yang baru, kita mendukung penuh program H. Askolani. Dengan pembangunan yang ada, namun bila diduga asal-asalan seperti ini bisa merusak program 100 Hari Bupati Banyuasin kita yang baru ini” tegasnya.

Sementara pihak pemborong ketika ditemui mengaku bahwa didalam RAP sebagai pedoman mereka melaksanakan pekerjaan tidak ada penggunaan hotmix ataupun ridemix, hal tersebut berasal dari dinas terkait langsung, sehingga mereka menggunakan molen manual untuk mengaduk bahan bangunan seperti pasir. Semen, dan koral.

“Ya , di RAP nya tidak ada ridemix atau hotmi, memang kalau maunya kami memakai ridemix, biar cepat selesai kerjaan kita ini” ucap, Firman Pemilik CV Setia Usaha,saat dibincangi, Kamis. 11/10/18.

Dirinya menambahkan, bahwa dirinya tidak tahu menahu mengenai RAP yang keluar, dari Dinas PU TR.

“Tidak ada mutu dari sananya, jadi kita samakan saja, entah itu K75, K250, dan molen kita satu sak semen , untuk Jalan Lebung ya mereka memang ada di RAP nya Ridemix , kenapa beda ya saya tidak tahu, silahkan saja tanya ke pihak Dinas, kalau beda ya jelas beda Jalan Lebung tidak ada pengerasan, kita ada, mereka tidak pakai besi kita pakai ” tukasnya.(ti)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *