PALEMBANG, Halosumsel-Perang yang  berlangsung 1sd 5 januari 1947 di Palembang, menurut Prof.Dr. Emil Salim (Tokoh nasional) Yang kini berusia 91 thn dan sbg pelaku sejarah pada perang 5h5m tersebut menuturkan ketika Saya dan kawan-kawan bersilturrahmi datang di kediaman beliau di bilangan Patra Kuningan Jakarta .

Dengan lugas beliau menyatakan bahwa perang ini sangat tidak seimbang pada saat berhadap2an dengan pihak Belanda, Nica mereka sangat terlatih diperkuat dengan alat tempur yg canggih seperti vanser mortir dan lain sebagai nya.

Sementara dari pihak Pribumi (Tentara Rakyat, Para Pemuda dan rakyat jelata) hanya bermodalkan semangat dan tekad baja bergelora untuk satu tujuan, Merdeka.

Pihak pribumi hanya memiliki Senjata Karaben, Standgun, kecepek sisa2 peninggalan tentara jepang yang sudah usang dan harus dikokang dan di isi satu peluru agar bisa meletus .Selain Bambu runcing Banyak juga senjata2 tradisional seperti Keris, Lading dan parang.

Ada sisi yg tak terduga dan menarik perhatian utamanya para pemuda yang ikut dan terlibat dalam perang tersebut berbondong bondong mendatangi Rumah kediaman seorang *Ulama* di Lima 5 Ulu Palembang untuk dido’akan dg wirid2 dari Ulama (Prof Emil S tdk ingat nama Ulama dimsksud) yang memiliki kekuatan kekuatan dan *kebal* anti bacok dan anti peluru.

Memang dlm masa2 sulit genting peran Ulama selalu menonjol dan dibutuhkan , ada Ulama Kiyai Ustadz yang turut berperan dalam setiap kecamuk perang baik langsung maupun tidak.

Itulah diantara bentuk Bela Negara dalam


pengertian Sikap, tekad dan tindakan konkrit . Samancik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *