Palembang, Halosumsel– Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi, salah satu warisan budaya lisan masyarakat Melayu Sumatera Selatan (Sumsel), Tembang Batanghari Sembilan, menghadapi ancaman serius. Tradisi yang selama ratusan tahun diwariskan dari mulut ke mulut itu kini mulai kehilangan penutur, selain itu belum memiliki kaidah baku, serta minim dokumentasi ilmiah. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, bukan tidak mungkin identitas asli tembang ini akan memudar bahkan hilang ditelan zaman.
Kekhawatiran tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kaidah Langgam Irama Tembang Batanghari Sembilan Masyarakat Melayu Sumatera Selatan” yang digelar di Ruang Seminar Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara luring dan daring itu merupakan bagian dari penelitian disertasi Program Doktor atas nama Wanda Lesmana pada Program Studi S3 Peradaban Islam, Konsentrasi Islam Melayu Nusantara.
Hadir Kaprodi S3 Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang, Dr Mohammad Syawaludin MA, Prof Dr Duski Ibrahim M.Ag (Promotor), Dr Alimron M.Ag (Co-Promotor) dan narasumber diantaranya Ribuan Nata (Penggiat Batanghari Sembilan), Vebri Al Lintani (penggiat tradisi lisan Sumsel), Jimmy Delvian (Composer /arranger musik daerah), Anwar Putra Bayu (Penyair Sumsel), Linny Oktovianny (Balai Bahahsa Sumsel), Saudi Berlian (Budayawan Sumsel), Ali Imron (penutur Batanghari Sembilan), Taufik Wijaya (budayawan Sumsel), Fekri Juliansyah (budayawan Jagat Basemah).
Kepala Program Studi S3 Peradaban Islam UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Mohammad Syawaludin, M.A., mengatakan pelestarian budaya tidak bisa lagi hanya mengandalkan pewarisan secara lisan.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, praktisi seni, pemerintah, dan masyarakat menjadi kebutuhan mendesak agar Tembang Batanghari Sembilan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang sesuai perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Ia menilai forum ilmiah seperti FGD menjadi ruang penting untuk merumuskan karakteristik dan kaidah langgam Tembang Batanghari Sembilan secara lebih sistematis.
Hasil kajian tersebut menurutnya diharapkan menjadi rujukan akademik sekaligus pedoman bagi generasi muda yang ingin mempelajari kesenian tersebut.
“Selama ini banyak kekayaan budaya yang diwariskan secara lisan, tetapi belum terdokumentasi dengan baik. Karena itu, hasil penelitian seperti ini sangat penting sebagai referensi akademik maupun upaya pelestarian budaya,” ujarnya.
Selain dokumentasi ilmiah, Syawaludin juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital sebagai media pelestarian budaya. Menurutnya, platform seperti YouTube dan media digital lainnya dapat menjadi sarana efektif untuk mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan Tembang Batanghari Sembilan kepada masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda yang kini lebih akrab dengan ruang digital.
Ia menegaskan bahwa menjaga keberlangsungan budaya merupakan tanggung jawab bersama lintas generasi. Karena itu, ia berharap forum-forum ilmiah serupa terus dilakukan dengan melibatkan lebih banyak praktisi seni lokal sehingga proses pelestarian tidak berhenti di ruang akademik semata.
Sementara itu, Dr. Alimron, M.Ag., selaku ko-promotor, mengaku bangga karena penelitian disertasi ini mengangkat Tembang Batanghari Sembilan sebagai objek kajian ilmiah.
Menurutnya, kesenian tersebut merupakan salah satu identitas budaya Melayu Sumsel yang menyimpan nilai seni, sastra, sejarah, dan spiritualitas yang sangat tinggi.
Namun, ia mengingatkan bahwa statusnya sebagai sastra lisan justru menjadi tantangan terbesar dalam upaya pelestarian.
“Sebenarnya banyak referensi yang dapat digali. Namun karena Tembang Batanghari Sembilan merupakan sastra lisan, data dan dokumentasinya tidak mudah diperoleh. Oleh karena itu diperlukan kerja sama antara akademisi dan para praktisi seni agar warisan budaya ini dapat didokumentasikan sekaligus dilestarikan dengan baik,” katanya.
Menurut Alimron, tanpa adanya dokumentasi yang memadai, berbagai versi langgam yang berkembang di masyarakat berpotensi berubah tanpa acuan yang jelas. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan mengikis keaslian Tembang Batanghari Sembilan dari generasi ke generasi.
Dalam kesempatan itu, Wanda Lesmana menjelaskan bahwa penelitian disertasinya menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi etnomusikologis.
Penelitian tersebut bertujuan merumuskan kaidah langgam Tembang Batanghari Sembilan yang sistematis, baku, dan normatif sebagai landasan pelestarian warisan budaya takbenda masyarakat Melayu Sumatera Selatan.
Menurut Wanda, penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh semakin kuatnya pengaruh modernisasi, globalisasi, dan komodifikasi budaya yang membuat pemahaman terhadap bentuk asli Tembang Batanghari Sembilan mulai memudar, terutama di kalangan generasi muda.
Selain itu, hingga kini belum terdapat rumusan akademik yang secara komprehensif menjelaskan kaidah langgam tembang tersebut sehingga setiap daerah maupun penutur memiliki interpretasi yang berbeda.
“Tembang Batanghari Sembilan merupakan seni tutur lisan Melayu yang berkembang di sepanjang Daerah Aliran Sungai Musi. Penelitian ini mengintegrasikan perspektif etnomusikologi, sastra lisan, dan nilai-nilai Islam sebagai satu kesatuan ekspresi estetika dan spiritual,” jelasnya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya dialektika antara pola melodi yang tetap dipertahankan sebagai identitas utama dengan berbagai variasi yang muncul mengikuti perkembangan zaman. Perubahan media pertunjukan dari ruang-ruang agraris dan sungai menuju festival budaya, media digital, hingga industri kreatif dinilai memperkaya ekspresi, namun di sisi lain juga berpotensi menggeser bentuk aslinya apabila tidak memiliki pedoman yang jelas.
Wanda menambahkan, Tembang Batanghari Sembilan bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga menjadi media dakwah kultural masyarakat Melayu. Syair-syair yang dibawakan mengandung nilai tauhid, akidah, akhlak, dan adab yang selaras dengan ajaran Islam serta menjadi bagian dari identitas peradaban Melayu.
Karena itu, penelitian tersebut juga merumuskan strategi pelestarian berbasis falsafah Melayu “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” sebagai pijakan agar proses pewarisan budaya tidak hanya mempertahankan bentuk keseniannya, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Melalui penelitian ini, Wanda berharap Tembang Batanghari Sembilan tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga memiliki standar akademik yang dapat menjadi rujukan dalam pendidikan, penelitian, dokumentasi, hingga proses regenerasi para penutur dan pelaku seni. Dengan demikian, salah satu identitas penting masyarakat Melayu Sumatera Selatan tersebut dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Dudi

